- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
TEMPO kembali membuat sejarah. Investigasi Tempo tentang IKN (Ibu Kota Nusantara) yang berhasil mewawancarai narasumber penting, Aguan, nama Indonesianya Sugianto Kusuma. Pemilik raksasa bisnis, Agung Sedayu Grup.
Pemimpin Sembilan Naga ini mengungkap fakta bahwa apa yang dibilang Rocky Gerung benar, bahwa setelah ditawarkan ke investor asing tidak ada yang mau. Maka Sembilan Naga dipaksa untuk berinvestasi di IKN. Terkumpul 20 T.
Padahal Jokowi berpidato sudah ratusan investor asing yang menyatakan bersedia menanam modal untuk pembangunan IKN. Aneh jika investor dalam negeri tidak ikut serta. Seperti mobil SMK, Jokowi bohong.
Bukan sekali ini saja Tempo mengungkap fakta. Dua kali majalah Tempo dibredel oleh pemerintah karena beritanya kelewat kritis, sangat mengganggu stabilitas. Pertama tahun 1982. Saat meliput kerusuhan kampanye Golkar di Lapangan Banteng, Jakarta.
Yang kedua tahun 1994 saat Tempo menurunkan berita investigasi tentang terjadinya mark up pembelian kapal perang bekas dari Jerman. Kali ini Tempo melawan. Goenawan Mohamad (GM) berpidato di hadapan karyawan dan wartawan Tempo. “Kita boleh kalah, tapi jangan takluk”. Kata-kata GM ini menjadi semacam semboyan di majalah Tempo.
GM sering mendapat telpon pembinaan dari Kopkamtib. Dijawab GM dengan menulis Catatan Pinggir yang kemudian menjadi prosa yang ditunggu-tunggu oleh pembaca Tempo.
Cerita tentang revolusi, kesultanan yang korup, diktator yang akhirnya merana serta faham yang radikal ditulis dengan sedikit puitis- kadang lantas menjadi seperti kata-kata mutiara.
Tempo lantas menjadi pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif terjebak kongkalikong di satu tangan. Tempo tidak pernah takluk untuk bersuara merawat akal sehat. Tidak mau diajak melenceng terhadap cita-cita bangsa : liberte, egalite, fraternite (kebebasan, kesetaraan, persaudaraan) seperti tulisan GM saat menulis revolusi Perancis, saat Napoleon Bonaparte menggulingkan Raja Louis XVI yang absolut.
Demi akal sehat, fakta harus dibuka. Agar pemerintah benar-benar melayani rakyat. Itu juga yang dilakukan Nyoman Nuarta, desainer lulusan ITB yang karya patungnya menghiasi kota-kota besar dan tempat wisata ikonik. Seperti Garuda Wisnu Kencana, patung Panglima Besar Soedirman di Jalan Thamrin Jakarta. Juga Garuda yang menaungi gedung kepresidenan di IKN.
Mulanya Nyoman Nuarta (NN) tidak sreg mengerjakan patung Garuda IKN. Karena pengerjaan pembukaan lahan dilakukan dengan membabat dan membakar hutan. Kebetulan dia tahu, demi ketahanan pangan, hutan dengan pohon ratusan tahun, dibabat diganti tanaman produktif (lereng Ijen Banyuwangi ditanami gubis).
Akibatnya menimbulkan banjir bandang. Apalagi Indonesia kena kritik pecinta lingkungan dunia saat kongres di Aipo, Azerbaijan. Kebijakan pengalihan lahan hutan menjadi lahan pertanian memicu pemanasan global. Apalagi Indonesia berkali-kali menerima bantuan untuk mengalihkan kendaraan bensin menjadi listrik tidak berjalan mulus. Emisi karbon yang dihasilkan Indonesia sudah melewati ambang batas.
Tanah di IKN juga tanah lempung yang pengerjaan konstruksinya perlu diawasi ketat oleh penjamin mutu konstruksi Indonesia. Alhasil NN kurang berminat mengerjakan desain patung garuda di IKN.
Adalah Jokowi yang memanggil NN untuk bersedia. Dan seperti Aguan, NN terpaksa menerima.
Yang diwaspadai masyarakat Bali adalah IKN menjadi Bali kedua. Kunjungan wisata yang semula cuma 300 orang per hari, melonjak menjadi 5.000 orang.
Diperkirakan liburan Nataru mendatang lebih lagi. Travel bandara Sepinggan Balikpapan – IKN laris manis.
Sementara Presiden Prabowo Subianto setelah bertemu Jokowi sudah menandatangani SK Jakarta bukan ibukota lagi. Sementara Keppres IKN penggantinya belum diteken. Indonesia tidak punya ibukota. Alias negara duda, seperti presidennya. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

