Tahun Baru Islam sebagai Momentum Migrasi Intelektual

Oleh Muhammad Idris

SETIAP kali hilal awal Muharram muncul di ufuk, ingatan kolektif umat Islam akan selalu tertuju pada sebuah fragmen sejarah agung yakni Hijratun Nabi. Penanggalan Hijriah yang kita gunakan hari ini bukan sekadar alat penghitung rotasi bulan, melainkan sebuah monumen pengingat atas keputusan geopolitik dan spiritual terbesar yang diambil oleh Nabi Muhammad SAW.

Secara historis, peristiwa tersebut merupakan perpindahan fisik dari tekanan kaum Quraisy di Makkah menuju ruang kemerdekaan sipil di Yatsrib. Namun secara esensial, hijrah adalah proklamasi perpindahan semantik yang abadi dimana sebuah tindakan transisi dari fase dhulumat (kegelapan, keburukan) menuju fase nur (cahaya, kebaikan).

Di era kontemporer ini, memaknai penanggalan baru seharusnya tidak lagi terjebak pada ritus selebrasi ritualistik yang superfisial. Jika esensi hijrah adalah perpindahan menuju kebaikan, maka tantangan terbesar umat hari ini bukanlah memindahkan jasad dari satu tempat ke tempat yang lain, melainkan memindahkan nalar. Kita membutuhkan sebuah agenda besar yang penulis sebut sebagai migrasi Intelektual.

Refleksi Kritis “Islam Sontoloyo” Untuk memulai proyek migrasi intelektual ini, kita perlu membuka kembali lembaran otokritik tajam yang pernah dilemparkan oleh salah satu pemikir progresif dan pendiri bangsa, Presiden Soekarno. Pada tahun 1940, melalui tulisan ikoniknya yang berjudul “Islam Sontoloyo”, Bung Karno melayangkan gugatan teologis yang menusuk jantung keberagamaan umat. Istilah yang terdengar satir ini sengaja dicetuskan untuk menggugat fenomena umat Islam yang sekadar menjalankan ritual formalistik tanpa menyentuh substansi dan logika teologis agama.

Soekarno gelisah menyaksikan realitas sosiologis umat yang fasih menghafal teks keagamaan, namun gagap dan lumpuh dalam merespons realitas sosial yang menindas. Keberislaman yang dikritik Soekarno adalah keberislaman yang kehilangan elan vitalnya, ketika kaidah fikih hanya dijadikan tameng pembenaran atas kemalasan berpikir, ketakutan menghadapi sains modern, dan agama sekadar menjadi candu penenang tanpa daya ubah sosial. Umat terjebak pada pengagungan simbol, namun mengabaikan substansi nilai keadilan dan kemajuan.

Membaca kembali pemikiran “Islam Sontoloyo” di ambang Tahun Baru Hijriah 1448H ini adalah sebuah urgensi sosiologis. Tulisan tersebut seolah menjadi cermin retak yang mendesak kita untuk segera melakukan langkah hijrah radikal yakni dengan meninggalkan corak keberislaman yang dangkal, kaku, dan dogmatis, menuju pemikiran Islam yang dinamis dan rasional.

Konstruksi berpikir yang rigid inilah yang menghalangi lahirnya peradaban Islam yang berkemajuan. Ketika agama dipisahkan dari rasionalitas dan semangat zaman, maka yang tersisa hanyalah sekumpulan dogma yang beku. Pemikiran Soekarno ini melintasi zamannya, menjadi pengingat bahwa musuh terbesar umat sering kali bukanlah faktor eksternal, melainkan kejumudan internal yang dipelihara atas nama kesalehan semu.

Esensi Hijrah yang Melampaui Batas Ritual

Muhammadiyah, sebagai gerakan tajdid (pembaharuan) yang mengusung misi Islam Berkemajuan, senantiasa menekankan bahwa ajaran Islam harus mewujud dalam praksis sosial yang membebaskan. Konsep ini berkelindan erat dengan kegelisahan sejarah Bung Karno. Hijrah dalam konteks masyarakat modern tidak boleh direduksi sebatas mengganti kalender dinding atau memadati serambi masjid pada malam satu Muharram dalam sebuah kepasrahan yang pasif. Hijrah adalah sebuah transformasi total yang melibatkan kesadaran kognitif dan tindakan transformatif.

Jika Rasulullah SAW dahulu berhijrah untuk membangun sebuah tatanan peradaban baru yang inklusif di Madinah, maka hijrah intelektual hari ini menuntut umat untuk bermigrasi dari tiga penyakit kronis yang masih menjangkiti tubuh kita.

1. Pertama, kita harus bermigrasi dari kejumudan (pemikiran beku) menuju kemajuan intelektual. Yang mendorong kita dalam meninggalkan cara pandang tekstualis-literal yang anti-kritik, dan beralih secara berani ke integrasi pendekatan epistemologi Islam yang komprehensif: bayani (teks), burhani (rasional-sains), dan irfani (spiritual-etis).

2. Kedua, bermigrasi dari kemalasan intelektual menuju produktivitas kebudayaan. Kita harus mengubah mentalitas umat yang cenderung menjadi konsumen ilmu pengetahuan, menjadi produsen peradaban melalui riset, penguatan literasi, serta inovasi sosial.

3. Ketiga, bermigrasi dari perpecahan emosional menuju persatuan organik yang kokoh. Umat harus menyudahi energi yang terbuang sia-sia untuk meributkan perkara furu’iyah (cabang ibadah), lalu mengalihkan energi kolektif tersebut pada persatuan strategis yang berorientasi pada kemaslahatan publik (mashlahah ammah).

Nalar BaruTahun Baru Hijriah adalah momentum emas untuk melakukan audit teologis dan intelektual. Kita tidak bisa menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks mulai dari disrupsi teknologi digital hingga ketimpangan sosial-ekonomi dengan perangkat pemikiran yang “sontoloyo”, stagnan, dan usang. Menghadapi abad baru dengan nalar abad pertengahan adalah sebuah kenaifan sejarah.

Islam adalah agama yang shalihun likulli zamanin wa makanin (sesuai untuk setiap waktu dan tempat). Namun, prinsip teologis yang agung ini hanya akan menjadi jargon retoris belaka jika para pemeluknya enggan berhijrah dari zona kenyamanan dogmatis. Kita membutuhkan keberanian intelektual untuk terus melahirkan ijtihad-ijtihad baru yang segar demi menjawab problem kemanusiaan universal.

Oleh karena itu, penulis berharap bahwa tahun baru Islam ini sebagai titik awal migrasi intelektual kita bersama. Sebuah perpindahan kesadaran yang terencana untuk merawat Islam yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga cerdas, solutif, mencerahkan, dan menggerakkan perubahan transformatif di ruang publik. Saatnya nalar umat ikut berhijrah menuju kejayaan peradaban. []

*) Penulis adalah Dosen di Undiksha, Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *