- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
KAHLIL Gibran menulis : Apa yang kita lakukan hari ini dengan satu hati, akan berkontribusi esok hari.
Motto ini sangat sejalan dengan alur pemikiran Muhammadiyah sebagai organisasi pergerakan. Prof. Dr. Amien Rais tokoh reformasi yang juga pernah menjadi pucuk pimpinan Muhammadiyah. Organisasi Islam modern yang banyak melahirkan tokoh militan. Tapi sangat paham moderasi dan toleransi.
Terakhir Prof. Dr. Muhajir Effendi yang dikenal menteri 2 periode Jokowi yang sangat sederhana. Saban hari naik angkutan umum dari rumah ke kantor menjinjing rangsel seperti kebanyakan pegawai pada umumnya. Padahal ada mobil dinas lengkap dengan sopirnya. Muhajir tidak bicara, tapi memberi contoh. Muhajir, Mendikbud lantas Menko PMK.
Sekarang muncul lagi Mendikdasmen dari Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, yang tak kalah sederhana. Humoris dan ratusan karya ilmiah ditulis beliau.
Tokoh Muhammadiyah kader Amien Rais. Mulai Dien Syamsudin. Malik Fajar, Yahya Muhaimin, Muhajir Effendi, Abdul Mu’ti dan Haedar Nasyir. Ketum Muhammadiyah sekarang. Cendekiawan yang tulus mengabdi kepada negara.
Orang-orang ini mestinya ngumpul di PAN. Tapi PAN sudah diambil alih. Sama dengan partai Hanura milik Wiranto. Amien Rais dan Wiranto pejabat yang tidak punya banyak uang untuk mengongkosi partai.
Suka atau tidak suka, Amien Rais, Bapak Reformasi Indonesia. Kader-kadernya yang menjabat, terbukti menjalankan politik anti KKN sesuai cita-cita reformasi.
Amien Rais berteriak lantang, karena Jokowi mempraktekkan kolusi dan nepotisme. Mungkin juga korupsi. Lewat nebeng jet pribadi. Penegakan hukum melemah. Pengkhianatan dianggap soal biasa. Lengser keprabon Jokowi musti belajar dari perguruan Muhammadiyah tentang akhlak dan etika: sederhana dalam bergaya, tidak sederhana dalam bekerja. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

