Merdeka

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

ADALAH sebuah sekolah negeri tingkat atas suatu daerah. Kepala sekolahnya energik. Ambisi dan cerdas. Kebetulan kerabat pejabat penting di kabupaten tempat dia bertugas. Jika sandaran orang dalam kuat. Urusan jadi lancar lancar saja. Anaknya tanpa ba bi bu diterima di sekolah yang dipimpinnya. Padahal tidak lolos seleksi. 

Bulan bulan seperti ini waktunya mempersiapkan pemilihan pengurus OSIS. Peraturan dibuat. Tata tertib disosialisasikan. 

Kepala sekolah punya pemikiran cemerlang. Alangkah eloknya jika yang menjadi ketua OSIS anaknya sendiri. Komunikasi dengan siswa bisa dilakukan di teras rumah, atau di meja makan. Istri kepala sekolah kebetulan mengajar juga di sekolah itu. 

Maka kepala sekolah menyampaikan maksud keinginannya kepada sang istri. Sang istri menyambut gembira. Tapi kemudian mengernyitkan dahi. Anak kita baru kelas satu. Yang boleh menjadi ketua OSIS kelas dua. Oh ya ???? 

Kepala sekolah memanggil stafnya para wakil dan wali kelas. Dengan dalih agar lebih demokratis semua siswa boleh memilih dan dipilih menjadi ketua OSIS. Biar pemilih yang menentukan. Para staf yang diajak rapat setuju saja. Sebab mikir, jika berani melawan, ancaman mutasi membayangi. 

Setelah berhasil merubah peraturan. Giliran kepala sekolah menitipkan anaknya lewat rapat dewan guru. Sambil tidak lupa memberi iming-iming guru, kalau anaknya sukses terpilih, guru-guru akan diajak rekreasi ke Singapura. 

Namun kepala sekolah berpesan agar jangan sampai anaknya nanti melawan kotak kosong. Tidak elok dipandang orang. Masak sekolah favorit pemilihan ketua OSIS melawan kotak kosong. Apa kata dunia.

Para siswa kelas 3 dan 2 yang mendengar calon ketua OSIS dari kelas satu langsung gelisah dan resah – maaf terbalik- resah dan gelisah. Bagaimana mungkin anak kelas satu dan anak kepala sekolah bisa mendaftarkan diri menjadi kandidat ketua OSIS. Mereka merencanakan mengadakan rapat menyikapi situasi yang berkembang tidak kondusif. 

Minggu berikutnya muncul pengumuman sekolah bermaksud menyediakan beasiswa kepada siswa yang dianggap berprestasi. Sekolah juga menyediakan internet gratis untuk belajar dari google. Perhatian siswa kemudian lebih fokus kepada bagaimana mendapatkan beasiswa. Maklum jumlahnya lumayan. Anak-anak yang mau mengadakan rapat, rata-rata mendapatkan beasiswa. Mereka tidak lupa mengucapkan terimakasih dan tidak lupa memuji-muji kebijaksanaan kepala sekolah. Tidak peduli mayoritas teman-teman mereka yang lebih berhak menerima beasiswa kecewa dan menangis. 

Akhirnya memang sang anak  terpilih menjadi ketua OSIS dengan suara  mutlak. Jauh dari kandidat boneka yang menjadi saingannya.

Saat upacara tujuh belas Agustus di sekolah, kepala sekolah berpidato. “Selamat HUT Kemerdekaan RI. Selamat datang Kurikulum Merdeka, dan selamat datang pemilihan OSIS Merdeka. Mari kita songsong Indonesia Emas di tahun 2045. Merdeka, merdeka, merdeka!!!!” 

Saya terbangun. Rupanya mimpi. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *