Golkar

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

MENCERMATI kisruh di Partai Golkar. Semua artikel yang terkait dengan masalah ini saya baca. 

Golkar penguasa Orde Baru Sejak berdiri 20 Oktober 1964 ketika bernama Sekber Golkar. Pak Harto yang tidak punya partai lantas membesarkan Golkar. Tidak mau disebut partai karena semangat Orba “pembangunan yes, politik no”.  

Keenakan berkuasa. Di era reformasi Golkar tidak disukai orang, akibat ulah di masa lalu. Presiden Gus Dur sempat membubarkan Golkar, namun dibawah Akbar Tanjung, Golkar disebut pengamat sebagai partai “belut kecemplung oli”. Pandai berkelit. Ini nampak saat Pemilu langsung 2004. 

Ada lima kandidat capres-cawapres di putaran pertama. Keluar sebagai kontestan pada putaran kedua Mega-Hasyim dan SBY-JK. Golkar mendukung Mega. Ternyata kalah. 

Golkar yang tidak mau dan tidak pernah beroposisi menyerahkan ketum kepada Jusuf Kalla. Begitu seterusnya sampai sekarang. Akhirnya memang, dekat-dekat dengan kekuasaan membuat Golkar menjadi partai yang gampang diatur dan diintervensi kekuasaan. 

Setyo Novanto sampai membenturkan diri agar terhindar dari penangkapan KPK. Karena tidak manut Presiden. Aburizal Bakrie harus menghadapi kepengurusan ganda karena tidak mau diatur. Agung Laksono jadi ketum Golkar versi bentukan pemerintah. 

Lantas muncul nama Airlangga Hartarto memimpin Golkar. Pribadi santun dan penurut. Rela menemani Presiden di halaman istana untuk menunjukkan betapa dekatnya dengan sang tuan Presiden. 

Kalau Kaesang Pangarep dua hari langsung ketua umum PSI. Gibran hanya sehari menjadi anggota Golkar langsung dicalonkan cawapres. Betapa Airlangga begitu saja menuruti perintah sang Tuan Presiden. Padahal amanat partai menginstruksikan Airlangga menjadi capres atau paling tidak cawapres. Namun dengan bijak Airlangga menjelaskan kepada internal Golkar, Pak Lurah punya kuasa. 

Maka ketika Sabtu malam Minggu, 10 Agustus 2024, Airlangga menyatakan mundur, semua terkejut. Apalagi kemudian jelas terbaca Pak Lurah hendak merebut Golkar dengan memasang orangnya untuk dijadikan ketum. Pak Lurah jadi ketua Dewan Pembina. Pak Lurah semakin melekat statusnya sebagai si raja tega. Jangankan anak menteri jaman Orde Baru Hartarto. Anak Bung Karno saja dikhianati. Habis manis sepah dibuang. 

65 hari ke depan Pak Lurah bisa berbuat semaunya. Sangat boleh jadi Bahlil Lahadalia menjadi ketum Golkar. Namun entah apa jadinya setelah Pak Lurah lengser nanti. Mampukah Bahlil, putra Papua ini mengelola partai yang penuh dinamika dan gejolak. Kita tunggu. 

Akibat kisruh Golkar yang dekat dengan waktu pendaftaran cagub dan cabup tanggal 27-29 Agustus, DPD Golkar se-Indonesia khawatir proses pendaftaran terganggu sehingga siapapun orangnya menjadi ketum yang penting bisa definitif mendaftar. Walaupun kemudian cawabup Buleleng yang mendapat rekom Golkar Made Sundayana yang berpasangan dengan Ketua DPD Golkar Bali Sugawa Korry, mundur dari pencalonan. Direktur STIKES  Buleleng ini khawatir kisruh Golkar berimbas pada elektabilitas. 

Megawati tancap gas. Menulis di harian Kompas yang menuntut Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung menjadi benteng penjaga fatwa moral dan etika bangsa. Mega berteriak lantang. Ketika ada yang mau merebut partai. “Saya katakan saya tetap ketua umum”. Dari kisruh Golkar nampak PDIP lebih militan. 

Kita tunggu kisah selanjutnya dari Pak Lurah Pinokio Jawa. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *