Golput

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

DARI survei yang dilakukan, didapat hasil yang mengejutkan. Ada 36 % responden yang tidak menolak politik uang. Yang lebih mengejutkan lagi dari responden menyatakan 15 % di antaranya tidak berangkat mencoblos jika tidak diberi uang, terlepas apa partainya. Terlepas siapa paslonnya. Ada uang coblos sayang, tidak ada uang tidak berangkat. 

Ketua PKB, KH Muhaimin Iskandar dalam pidatonya menyebut masyarakat tidak mau berangkat coblos sesuai pesanan jika tidak diberi 300 ribu rupiah. Kalau cuma 50 atau 100 ribu mereka ogah berangkat.  

Berdasar data di atas kita coba pahami kenapa angka golput tinggi di beberapa daerah.

Di Bali dari daftar pemilih tetap 3.283.893 orang. Koster-Giri mendapat suara 1.414.284 sedang paslon Mulia-PAS mendapat 528.241 suara. Sedang yang golput 983.556.

Kalau dibuat persentase maka angka golput mencapai 30 % atau angka partisipasi hanya 70% tidak memenuhi target 75%.

Apa penyebabnya ? Macam-macam, ada yang karena sibuk bekerja di sektor pariwisata. Ada yang tidak bisa libur kerja karena tuntutan ekonomi. Bisa jadi malas memilih karena kasus korupsi semakin marak sampai ke desa-desa dan sekolah.  

Mungkin juga Bawaslu Provinsi Bali gencar memasang baliho besar yang berisi ancaman pidana bagi pelaku politik uang. Baik yang memberi dan menerima. Nah karena tidak ada yang memberi angpao, mereka tidak memilih.

Lain lagi di Jakarta. Angka partisipasi pencoblosan hanya 58%. Itupun suara yang tidak sah 6%. Tinggal 52%, terendah sepanjang sejarah Pilkada Jakarta. Orang berspekulasi bahwa penyebab utamanya karena pemimpin idaman mereka Anies Baswedan tidak bisa ikut dalam kontestasi. Disebut idaman karena Anies Baswedan mirip dato Anwar Ibrahim PM Malaysia: bergelar akademis doktor. Fasih berbahasa inggris, fasih mengutip Al Qur’an dan hadist, menjunjung tinggi akhlak dan budi pekerti. Bedanya Anwar tampil galak, Anies kalem. Ini menjadi nilai tambah bagi Anies Baswedan. Itu sebabnya Jokowi berusaha menghadang Anies habis-habisan. 

Anies Baswedan tidak tinggal diam. Di saat Jokowi mendukung Ridwan Kamil-Suswono, Anies turun gunung mendukung dan berkampanye aktif untuk kemenangan Pram-Doel. 

Ditambah lagi sikap masyarakat Jakarta yang sangat rasional karena sudah terdidik dan dibawah pengawasan banyak media. Kecurangan hampir bisa dipastikan mustahil. Karena sangat transparan. Ingat pemilu jaman Orde Baru tahun 1993. Semua wilayah Indonesia dimenangkan Golkar kecuali satu satunya yang lepas dan dimenangkan PPP adalah DKI Jakarta. Ini terjadi karena pengamat asing ikut mengawasi.

Masyarakat Jakarta menjadi sangat rasional karena informasi mengalir deras. Bukan hanya televisi, medsos, broadcast, koran, majalah tapi radio juga memainkan peranan penting. Dengan mengundang ahlinya, radio menyiarkan tentang kebenaran demokrasi, penolakan politik dinasti, tuntutan moral tinggi pemimpin. Masyarakat bisa berinteraksi dengan bertanya. Itulah kenapa koalisi gembul yang menghadang Anies mendapat perlawanan sengit di jakarta. 

Hanya memang masih banyak yang menyuarakan golput, atau datang coblos semua karena jengkel dengan ulah jokowi yang menggagas koalisi gembul. Ada juga yang menuruti ajakan Anies untuk mencoblos Pram-Doel.

Hasilnya dari 8,2 juta jumlah daftar pemilih tetap Pilkada Jakarta hanya 4,3 juta yang menggunakan hak pilih. 3,9 juta orang golput. 

Hasilnya pram-Doel menang telak atas RK-Suswono namun sedikit diatas batas ambang 50% yaitu 50.07%, selisih 2.943 suara di atas ambang batas ini yang bikin gonjang ganjing untuk dipikirkan oleh presiden dan mantan presiden diotak-atik. Bukan rahasia umum ketua KPU dipilih dan ditunjuk oleh pemerintah yang sekaligus petahana, apalagi jika kepala daerahnya Pj. tunjukan pemerintah.  

Hal ini terjadi di Banyuwangi. Ada yang bersaksi dengan menyertakan video, ketua KPU Banyuwangi, berpihak kepada paslon 1, harus menang, karena ini perintah bapak. Bapak siapa? Bapak pucung? 

Situasi politik Banyuwangi hangat-hangat kuku. Selisih suara cuma 5%, dugaan pelanggaran TSM, terstruktur, sistematis dan masif. Semoga ada penyelesaian yang adil. Memang politik dinasti mendapatkan perlawanan dimana-mana. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *