- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
TERJADI perubahan di dalam kehidupan beragama sejak Prabowo Subianto (PS) menunjuk KH. Prof. Nazaruddin Umar, M.A. menjadi Menteri Agama. Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini memang punya rekam jejak alim, jujur, pintar, sederhana, penuh toleransi.
Tamu kenegaraan Presiden Indonesia sering memilih agenda mengunjungi Masjid Istiqlal. Presiden AS Barack Obama, Menlu Hillary Clinton, dan sederetan tokoh top dunia berkunjung ke Masjid Istiqlal sebagai representasi tempat ibadah umat Islam. Prof. Nasar selalu menyampaikan bahwa perbedaan dalam beragama adalah lukisan Tuhan.
Begitu dilantik menjadi Menteri Agama, langsung beliau membuat komitmen yang menumbuhkan harapan: pangkas biaya perjalanan dinas 50%. Hentikan jual beli jabatan. Jangan main-main menangani haji. Karena beliau mendapat pesan dari Presiden PS untuk melakukan bersih-bersih di lingkungan Kementerian Agama. Jika Kementerian Agama tidak bersih, itu tanda negara sedang sakit.
Terbaru, Menag membuka Kongres Persatuan Gereja Indonesia di Tanah Toraja, bukan Manado. Kembali beliau mempertegas komitmen untuk selalu saling menghormati, bahwa Kementerian Agama bukan untuk satu agama, namun untuk semua agama.
Pernyataan klise namun amat menyegarkan jika diucapkan oleh orang nomor satu di Kemenag. Tumbuh harapan Menag adalah pribadi yang bisa dicontoh. Diteladani tingkah lakunya. Selalu ditunggu nasehat-nasehatnya.
Sementara Tanwir organisasi Islam modern Muhammadiyah dilaksanakan di Kupang, bukan di Mataram. Ketua Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir beradu gagasan dengan Presiden PS tentang Indonesia membangun, Indonesia maju. Haedar berjanji menyelesaikan buku yang nantinya menjadi penjabaran pemikiran PS yang ditulis PS dalam bukunya paradoks Indonesia dan solusinya.
Organisasi yang punya aset 400 triliun rupiah berupa 20 juta m² lahan (3 kali Singapura, 4 kali luas Bali) dengan 20 ribu TK/SD, 3.200 sekolah menengah, 164 universitas, dan RS 364. Panti asuhan 384, ponpes 356. Melengkapi 12 ribu masjid milik Muhammadiyah.
Buletin Suara Muhammadiyah ada sejak 1915 menjadi buletin pertama di Indonesia yang masih ada sampai sekarang. Tempat Kiai Ahmad Dahlan berdakwah lewat tulisan. Metode ini ditiru oleh mahasiswa yang kuliah di Jogja kembali ke daerahnya. Berdakwah lewat tulisan.
Haedar Nashir kembali dinobatkan salah satu dari 500 ulama berpengaruh di dunia. Tiga universitas Muhammadiyah Surakarta, Malang dan Jogja masuk universitas Islam terbaik dunia.
Universitas Muhammadiyah juga ada di Kupang. Sebanyak 82% mahasiswanya non-muslim. Ketika penutupan Tanwir, paduan suara kampus menyanyikan Hymne Muhammadiyah, ditutup lagu Gemu Fa Mi Re, lagu goyang ke kiri ke kanan. Nampak Haedar naik ke panggung. Namun dengan melipat tangan ke depan, ngapurancang. Sementara Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang lain, termasuk Pak Menteri Mu’ti melambai dan ayunkan tangan. Haedar memang alim.
Nah di tengah para tokoh ulama yang berpandangan moderat, muncul gagasan para nitizen tentang pengucapan selamat hari raya.
Sementara ini ulama Islam ada yang membolehkan mengucapkan selamat Hari Natal dan tahun baru. Namun ada juga yang melarang.
Di Bali, mulai bupati, walikota sampai gubernur mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Baik lewat baliho atau dimuat di koran. Bagaimana dengan agama yang lain jika ada hari raya Nyepi, Kuningan atau Galungan.
Ada ide menarik dari para nitizen, bagaimana jika ada saudara tidak seiman merayakan hari raya?
Diucapkan *Selamat Hari Libur*. Dengan demikian tidak perlu membawa-bawa identitas agama.
Kita berharap yang diberi ucapan selamat mengerti. Bahwa ucapan selamat hari libur itu tanda kita ikut gembira ada saudara yang lagi berhari raya.
Bagaimana? Sepakat? Kita coba 25 Desember mendatang. Tetap dengan semangat kebangsaan yang berkemanusiaan.
Bangsa Indonesia bangsa yang besar dengan banyak suku, agama, ras dan golongan. Bhineka Tunggal Ika mutlak harus menjadi landasan hidup bersama di bawah naungan ideologi Pancasila. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

