- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
DULU tiap kerajaan pasti punya tabib yang tugasnya meracik obat untuk menjaga dan menyembuhkan raja dan anggota keluarga besarnya. Hasilnya lantas ditulis menjadi buku resep.
Lama-lama muncul ilmu baru ketabiban yang kemudian berubah menjadi ilmu kedokteran. Untuk mendeteksi dan menentukan, menemukan penyakit. Berkembang bersama sang peracik obat yang dinamakan apoteker.
Semakin banyak penyakit ditemukan, semakin banyak obat ditemukan pula. Abad 17 infeksi merajalela. 30 tahun kemudian ditemukan pinicilin.
Flu biasa dulu dianggap wabah. Ditemukan aspirin. Lantas penyakit demam berdarah, sipilis, kusta dan lain-lainnya sekarang semakin berkurang.
Saya ke Brunei lima kali dalam rangka dinas luar. Di sana rakyat yang sakit, hanya membayar 1 dolar Brunei (sekitar 6.500 rupiah) sudah diobati sampai sembuh. Walau nantinya harus dirujuk ke RS Queen Elizabeth Singapura sekalipun.
Di sudut kota ada banner bertuliskan sholatlah agar kau sehat. UU di Brunei, jika kedapatan tidak puasa di bulan Ramadhan didenda sekitar 2,5 juta rupiah.
Masyarakat sekitar Kepulauan Riau, lewat Dumai menyeberang ke Malaka, Malaysia untuk berobat. Karena dokter di Malaka lebih pintar, lebih ramah, lebih baik pelayanannya. Dan ini yang penting, lebih murah. Karena disubsidi pemerintah.
Baiknya penanganan kesehatan Malaysia terbantu dengan tampilnya Perdana Menteri Mahathir Mohamad untuk kedua kali dalam usia 92 tahun. Sekarang beliau 96 tahun. Tetap sehat beraktivitas.
Belum lagi berbicara negara maju. Sudah back up anggaran dari pemerintah sangat memadai. Ditambah kemakmuran warganya yang dengan UU yang diciptakan oleh wakil rakyat mewajibkan ikut asuransi kesehatan langsung potong gaji.
Akibatnya, rumah sakit berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik agar pemasukan rumah sakit semakin banyak lewat pembayaran dari dana pemerintah dan asuransi.
Itulah mengapa, ketika Ibu Negara Ainun Habibie sakit, Bapak Habibie memilih berobat ke Jerman. Lantas Ibu Negara Ani Yudhoyono sakit, dirawat di rumah sakit Singapore. Indonesia baru akan mulai mewajibkan para pegawai dan pekerja swasta ikut asuransi kesehatan. Namun selalu saja, peraturan yang sudah baik, bukan ditaati, tapi disiasati.
Mensiasati peraturan dianggap sebagai strategi, lantas kemudian pelaksanaannya menyimpang dari maksud dan tujuan peraturan itu dibuat.
Pernah Indonesia dibikin heboh. Dengan berita dipecatnya dokter Gunawan Simon karena mengobati kanker yang diidap oleh Menlu Adam Malik.
Peracikan obat yang dilakukan dokter Simon tidak melalui proses uji laboratorium yang distandarkan oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Akhirnya dalam sidang kode etik yang dipimpin Ketua IDI saat itu, Kartono Mohamad, kakak kandung Goenawan Mohamad, memutuskan dokter Simon bersalah.
Pernah di masa pemerintahan SBY, ada dokter dari China buka praktek di Indonesia. Di Jabodetabek. Banyak pasien yang sembuh dari penyakit beratnya. Seperti kanker, ginjal, hati dan sejenisnya.
Seminggu ditangani, pasien sudah bisa naik motor keliling lingkungan untuk menunjukkan kepada tetangga sudah sembuh. Tempo menulis setelah berobat 3 – 4 kali. Pasien ditemukan semakin parah karena diberi obat daftar obat G yang bisa menghilangkan rasa sakit dalam sekejap. Tapi merugikan kesehatan dalam jangka pendek juga.
Sampai tahun 1990 kita masih melihat toko jamu di setiap sudut lingkungan. Jamu diberi nomor seri untuk mengobati penyakit yang diderita. Jamu Jago dan jamu cap Air Mantjur yang kemudian ejaannya disempurnakan menjadi Air Mancur berkeliling ke tiap pasar dengan menampilkan manusia cebol yang menampilkan atraksi lucu.
Baru kita sadar sekarang bahwa manusia cebol itu karena stunting. Kurang gizi, nutrisi dan asupan suplemen kesehatan. Sekarang dengan arahan dari pemerintah penanganan gizi dan nutrisi bukan lagi dimulai dari bayi, tapi dimulai ketika ibu mengandung.
Toko jamu dan pengusaha jamu sekarang tidak terlihat lagi. Pemerintah sangat ketat mengawasi penggunaan obat daftar G. Ternyata setelah tidak menggunakan ramuan daftar G, jamu-jamu kurang manjur.
Menyesuaikan dengan kemajuan jaman memproduksi jamu cair seperti Antangin dan atau Tolak Angin, itupun setelah melalui proses validasi yang sangat ketat.
Problem terbesar bangsa kita adalah minimnya anggaran walau pelayanan pendidikan dan kesehatan gratis. Belum memberikan layanan yang baik kepada masyarakat.
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ada pulau yang tidak ada rumah sakitnya. Masyarakat tidak terkena penyakit berat, karena makan dari hasil bumi dan laut yang dikonsumsi secara natural.
Bandingkan dengan kota besar yang banyak bermunculan makanan siap saji yang menggunakan fragmentasi, sehingga menimbulkan kesehatan yang buruk dengan munculnya penyakit yang semakin komplek penangananya.
Contoh bagus ditunjukkan oleh Kerajaan Inggris. Istri Pangeran Mahkota William, Catherine Middleton dinyatakan sakit mengidap kanker seri terbaru. Raja kemudian mengumumkan kepada masyarakat agar memberikan kesempatan kepada putri menantu Lady Diana itu untuk istirahat dan tidak dituntut tampil di publik. Masyarakat maklum dan memberikan dukungan untuk kesembuhan Princes of Wales itu. Begitu canggihnya.
Di Indonesia Kwiek Kian Gie menulis buku : “Orang Miskin Dilarang Sakit”. Iwan Fals menyanyi “Ambulan Zigzag”. Pasien yang disuruh pulang karena tidak punya uang, menunjukkan betapa sengsaranya sakit di Indonesia. Kecuali tentu untuk orang kaya. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

