Merayu

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

CARA paling populer merayu jaman Pujangga Lama adalah : 

Kucing kurus mandi di papan. 

Mandi di papan kayu jati. 

Badanku kurus bukan tak makan

Memikirkan si jantung hati. 

Jaman Pujangga Baru : 

Di wajahmu kulihat bulan. 

Bersembunyi di sudut kerlingan.

Sadarkah tuan 

Kau ditatap insan

Yang haus akan belaian. 

Nenek-nenek kita klepek-klepek kena rayuan ini. 

Ketika Orde Baru menyensor segalanya, muncul rayuan model Lupus, komik terkenal jaman itu. Yang kemudian difilmkan.

Lupus : kamu cantik, kayak sepur. 

Koq…..?

Ya kau lokomotif penghela hatiku. 

Lupus ngocol lagi : tahu tidak beda bis kota dengan kamu ?

Bis kota jauh dekat bayarnya sama. Kamu jauh di mata dekat di hati.

Terus hubunganya apa? Cewekpun cekikikan.

Ditulis di kertas surat warna pink nan harum mewangi. Ditempeli perangko, cara merayu terus mengalir. 

Pemberontakan gaya merayu dilakukan oleh majalah Aktuil. Majalah kaum bronx jaman itu, yang menolak cengengisasi cara merayu : 

Pertama aku lihat

Kedua aku pikat

Ketiga aku sikat

Keempat aku minggat. 

Aku otak maksiat.

Banyak yang memprotes cara merayu seperti ini, tapi kaum bronx cuek beibeh. Rayuan versi terbaru lebih ilmiah : 

Rambutmu lembut seperti kawat email.

Matamu sayu 

Seperti lampu pijar 5 watt. 

Bibirmu tipis seperti dompetku.

Susunan syaraf ku hanyalah cintaku padamu.   

Kalangan moderat lewat jalur dangdut mencoba lebih ramah dalam merayu : 

Hitamnya arang

Tak sehitam rambutmu. 

Halusnya sutra

Tak sehalus kulitmu

Engkaulah sayang

Segalanya bagiku. 

Bagi penikmat cara merayu, semakin banyak membaca, mendengarkan lagu, semakin seru pula cara merayu. 

Jika surat yang dikirim tidak dibalas. Kirim lagi tidak dibalas lagi. Datangi telkom. Tulis telegram yang biasanya dipakai untuk menyampaikan berita penting. Tertulis : “dengan ini aku menyatakan cinta padamu. Hal hal mengenai percintaan. Dapat dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya “. 

Resiko ada dua : kena damprat karena bikin kaget. Atau jawaban yang bikin girang. “Aku lagi menimbang-nimbang”. Seperti Sisilia Variant Nadrof. Penyerangan bisa dilakukan terus menerus sampai rajanya menyerah.

Di era Reformasi, seperti Lupus, ada komik yang difilmkan. Judulnya Dilan. Rayuan pun lebih rasional : “Jangan rindu berat, kau tidak akan kuat“. 

Ketika wanita bertanya apa alasannya kamu mendekati aku. Jangan pamer kekayaan, apalagi  jika itu milik orangtua. Cewek tidak suka laki-laki yang suka nebeng kekayaan orangtua. Lagu Baju Satu Kering di Badan Soneta dan lagu Mawar Merahku Slank menolak itu. 

Ini jawaban Dilan :  

Karena aku bangga punya calon mertua hebat. 

Kog …….? Maksud lu….?

Ya…karena calon mertuaku rela melepas anak gadisnya untukku.

Masuk Pak Eko.

Setelah menikah, segalanya berubah. Istri bertanya, dulu waktu pacaran, kau perhatian sekali, memberiku hadiah, baju, perhiasan. Dan bingkisan. Membawakan makanan. Bunga, bahan bacaan. Sekarang koq tidak lagi. 

Ini bukan jawaban Dilan : “Mungkin tidak ikan dipancing dua kali“. 

Tiap jaman ada masanya. Tiap jaman ada cara merayunya. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *