- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
BULAN April identik dengan kelahiran RA Kartini. Yang lahir 21 April di Jepara, Jawa Tengah. Lewat tulisan surat menyurat dengan teman korespondensinya yang ada di negeri Belanda. Tulisan surat Kartini mengungkap banyak hal. Mulai kondisi sosial budaya kaum perempuan di jamannya sampai cita-cita Kartini di masa mendatang yang menuntut persamaan hak dengan laki laki. Cita cita yang lantas dinamai emansipasi.
Wanita jaman Kartini identik dengan wani ditata. Berani diatur. Wanita hanyalah surga nunut neroko katut – surga ikut neraka ikut. Apa kata laki laki. Wanita umur sekitar 9 atau 10 tahun, ketika datang mentruasi, harus segera dipingit. Diajari baca tulis ala kadarnya, masak, merias, menari, tidak lebih. Tertawa tidak boleh nampak gigi. Harus lemah lembut. Berpakaian ala kemben, rambut harus panjang disanggul.
Kartini lewat surat yang dikirim kepada Abendanon, sahabat penanya, menulis, betapa enaknya wanita di negeri Belanda. Bisa sekolah. Atas keinginan Kartini sekolah ini, Abendanon mengusahakan beasiswa untuk sekolah di Belanda. Namun sang ayah melarang. Saru wanita sekolah, apalagi ke negeri Belanda. Yang umum ya laki laki, ayah Kartini tidak mau melanggar adat. Beasiswa Kartini kemudian dialihkan kepada Agus Salim yang kelak menjadi diplomat ulung.
Kartini juga mengeluh dalam suratnya bahwa wanita Jawa seperti dirinya pasrah atas jodoh yang akan menimpanya. Beruntung jika dijadikan garwo padmi – permaisuri. Namun nasib Kartini harus jadi garwo ampil Bupati Rembang. Istri kedua. Kartini berontak. Lewat surat-suratnya, Kartini mengecam poligami. Karena diperlakukan tidak adil.
Khusus masalah ini, Buya Hamka “membela” Kartini. Lewat koran di awal kemerdekaan, Hamka menjelaskan bahwa Kartini mengutarakan apa yang dialami. Bukan memahami poligami yang benar menurut syariat Islam. Boleh poligami asal bisa berlaku adil. Di Indonesia kesan poligami hanya mengumbar hawa nafsu. Tanpa mempertimbangkan azas keadilan.
Tahun 2018, saya berkesempatan ke Abu Dhabi dan Dubai. Dua kota besar Uni Emirat Arab. Penduduknya cuma 750 ribu jiwa. Sementara pendatang dari India 4 juta. Eropa 1 juta. Sisanya 250 ribu jiwa dari negara tetangga. Jumlah pendatang dari Indonesia hanya 100 ribu jiwa.
Di UEA, wanita muslim sangat dihormati. Jangan coba-coba menggangu wanita muslim yang lagi sendiri berjalan atau belanja, dendanya lumayan besar jika wanita muslim merasa tidak nyaman dan melaporkan ke polisi. Azas keadilan dalam berumahtangga dimuat dalam undang-undang negara.
Barang siapa berpoligami, harus benar-benar adil. Jika menikah 2 harus punya rumah tiga. Serupa dan harus sama persis, lengkap dengan perabot di dalamnya. Sebab, laki-laki tidak boleh tinggal di rumah istrinya secara bergilir. Harus di rumah sendiri. Jika nikah 3 ya rumahnya harus 4.
Maka tidak heran jika di Abu Dhabi dan Dubai ada rumah serupa yang jumlahnya 3, 4 dan lima. Di sepanjang jalan selalu terlihat rumah para penganut poligami. Jika istri ada yang komplain harus diperhatikan benar, jika tidak ingin berurusan dengan pihak berwajib.
Wanita Indonesia memang tidak seberuntung wanita UEA, namun lumayan bagus dalam hal berkesempatan berkarya. Indonesia bahkan punya Presiden wanita yakni Megawati Soekarnoputri. Kuota perempuan 30 % untuk anggota dewan pusat dan daerah. Wanita juga diberlakukan istimewa jika menikah dengan ASN. Janda dan duda ASN dapat tunjangan. Jika menikah lagi, tunjangan hilang. Ini bedanya, jika menjanda lagi maka tunjangan kembali. Namun, tidak untuk duda. Asumsinya tentu untuk melindungi wanita. Padahal banyak ibu-ibu yang melanggar disiplin hanya untuk mendapatkan tunjangan.
Wanita tiang negara. Wanita baik, makmurlah negara itu. Wanita tidak baik, negara bisa hancur. Emansipasi lantas diartikan sebagai pergaulan bebas demi mengejar rupiah. Pamer aurat demi mengejar popularitas. Hal yang belum dipikirkan Kartini. Ketika wanita masih dipingit. Dibuatkan sangkar emas. Mata terlepas, badan terkurung.
Pesan kami laki laki: silahkan emansipasi. Tetap saja wanita terbuat dari tulang rusuk kami. Saling mencintai, saling menghargai, saling berbagi sesuai fitroh adalah pilihan terbaik untuk menggapai surga Allah SWT. Tidak bisa dipungkiri. Laki laki imam bagi perempuan. []
*) Penulis adalah Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga PD Muhammadiyah Buleleng

