- Oleh Ustadz Moh. Ali Susanto, M.Pd.
KITA baru saja menyelesaikan ibadah bulan Ramadhan dengan penuh hikmah dan kebersamaan, keadaan yang terasa nikmat dibalut persatuan yang indah. Kita dapat bersatu merayakan hari raya Idul Fitri. Subhanallah, ini momen yang sangat indah dan mengesankan.
Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla semoga pada masa mendatang, umat Islam mampu menemukan solusi yang dapat menyatukan kita dalam penentuan awal dan akhir bulan yang mengandung syi’ar besar umat Islam seperti sekarang ini.
Persatuan, sangat kita butuhkan, utamanya dalam menghadapi deretan permasalahan umat yang demikian panjang, seperti munculnya aliran-aliran sesat yang semakin membodohi umat. Ditambah lagi dengan keterpurukan ekonomi yang justru diperalat oleh tangan-tangan hitam untuk korupsi dan manipulasi, tapi justru penanganannya yang tebang pilih menjadikan kondisi semakin memprihatinkan.
Hal lain adalah masalah keluarga, lembaga paling penting dalam bangunan suatu masyarakat, hari ini juga menghadapi krisis yang luar biasa. Banyak keluarga yang menghadapi kekisruhan mulai dari perpecahan suami-istri yang diliputi kabut pengkhianatan dan perselingkuhan hingga persoalan anak yang terjebak dalam beragam penyimpangan perilaku, seperti pergaulan bebas dan tawuran, serta kekerasan yang dilakukan orang tua mereka sendiri.
Banyak keluarga hari ini menempati rumah ibarat seperti hotel saja. Hanya untuk bermalam, tanpa perlu peduli dengan penghuni kamar lainnya. Atau ibarat pengunjung rumah makan yang memesan makanannya sendiri tanpa perlu berinteraksi dengan pengunjung yang lain. Yang lebih mengerikan lagi jika ayah-bunda sudah tidak perduli lagi dengan pendidikan tauhid, penguatan ibadah dan karakter akhlak anak-anaknya. Sungguh, telah hilang dan sirna makna sebuah keluarga jika rumah sudah sedemikian adanya.
Sementara itu di tengah umat ini terjadi pula krisis ukhuwah dan persaudaraan, karena persoalan sepele kadang meruncing hingga perseteruan berkepanjangan. Lebih miris lagi jika sudah tiba tahun politik maka dengan entengnya kita nistakan saudara seiman, bahkan agama ini pun dijadikan bahan olok-olok.
Pertanyaannya kini adalah apa penyebab semua ini? Mengapa awan kelabu permasalahan yang menumpuk masih merundung kita?
Sesungguhnya jawabannya sangat jelas, yaitu karena kita jauh dari cahaya dan pelita. Semakin kita menjauh dari cahaya dan pelita ini, maka semakin jauhlah kita dari jalan yang benar, dan semakin dalam pula kita terjebak dalam lorong hitam kesesatan dan kesengsaraan.
Cahaya itu adalah Al-Qur’an. Pelita itu adalah As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabbmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).” (QS. Al-Nisa’:174).
Jika manusia menjauh dari cahaya dan pelita ini, maka panah-panah beracun setan dan hawa nafsu akan menancap pada jiwanya begitu mudah, sehingga membuat ia kehilangan kewarasan imaninya, menjadi gila terhadap dunia. Kehilangan kendali diri dan akhirnya takut terhadap kematian, karena kematian membuat dia meninggalkan kenikmatan semu dunia yang fana ini. Kondisi inilah yang membuat musuh hilang rasa segannya kepada kita, tidak takut lagi untuk menzalimi saudara-saudara kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda:
“Hampir (tiba waktunya) seluruh bangsa akan mengepung kalian dari berbagai penjuru seperti orang-orang yang makan mengerumuni piring makanannya.” Para sahabat bertanya: “Karena sedikitkah kami hari itu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam bersabda: “Justru jumlah kalian pada saat itu banyak, namun kalian hanya bagaikan buih dan sampah yang dibawa oleh banjir. Rasa takut telah dicabut dari hati musuh-musuh kalian dan di dalam hati kalian diletakkan Wahn.” Mereka bertanya: “Apa itu Wahn?” Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad).
Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam mengingatkan kita: “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara al-‘Inah (riba), atau kalian (hanya) mengikuti ekor-ekor sapi (pembajak sawah), dan telah ridha (merasa cukup) dengan semata bercocok-tanam, sehingga kalian meninggalkan jihad, maka niscaya Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan Allah cabut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud).
Apakah kondisi ini menyurutkan langkah kita? Apakah kondisi ini membuat kita pesimis? Tidak, sekali lagi tidak! Justru kondisi ini seharusnya mendorong kita untuk bangkit, memacu diri kita untuk kembali memberdayakan semua potensi umat yang tersedia. Kita tidak boleh terlena dalam jebakan musuh-musuh Allah, justru Allah Ta’ala menyeru kita untuk bangkit berjihad melawan mereka dengan Al-Qur’an. Ya, langkah pertama yang harus diayunkan adalah berjihad dengan Al-Qur’an. Allah berfirman:
“Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir itu, dan berjihadlah dengannya (Al-Qur’an) dengan jihad yang besar.” (QS.Al Furqan:52)
Berjihad dengan Al-Qur’an bermakna belajar membacanya dengan benar secara sungguh-sungguh, menggelorakan semangat tilawah Al-Qur’an di segala tingkatan dan semua kalangan tanpa kecuali. Al-Jihad bil Qur’an bermakna melahirkan penghapal-penghapal Al Qur’an (hafizh/hafizhah) dengan usaha yang sungguh-sungguh, Al-Qur’an bersemayam di dalam dada mereka, terdengar dari lisan-lisan mereka, dan berwujud dalam amalan keseharian mereka.
Berjihad dengan Al-Qur’an bermakna usaha yang sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk mentadabburi Al-Qur’an, menyelami kedalaman maknanya, menghadirkan hati ketika membacanya dengan penuh kekhusyukan. Al-Jihad bil Qur’an bermakna perjuangan menerjemahkan Al-Qur’an dalam kehidupan, mengamalkan dan menegakkan hukum-hukum Allah di dalamnya. Jika lisan kita harus benar melafalkan ayat-ayatnya, maka raga kitapun harus benar melaksanakan ayat-ayat itu. Berjihad dengan Al-Qur’an juga bermakna berdakwah dan menyampaikan ajaran Al-Qur’an kepada seluruh umat manusia.
Intinya, berjihad dengan Al-Qur’an adalah jihad yang besar, sebab inilah yang akan mempersiapkan lahirnya khairu ummah (umat terbaik) yang menegakkan dienul Islam dan kepemimpinan Qur’ani serta membawa kemaslahatan dan ketentraman bukan saja bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh alam semesta, sebagaimana yang telah dicatat di dalam sejarah dengan tinta emas, sejak generasi sahabat hingga berabad-abad lamanya.
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali ‘Imran: 110).
Umat dengan karakteristik seperti ini tidak lahir dengan sendirinya, atau bahkan tidak bisa lahir hanya dari suatu proses pengajaran atau pendidikan yang biasa-biasa saja, sebagaimana yang umum di kalangan umat Islam sejak beberapa abad terakhir ini. Khairu ummah lahir dari sebuah jihad bil Qur’an yang tentu saja dilakukan dengan penuh kesungguhan, intensif, menyeluruh, integral, berkesinambungan dan tanpa batas akhir kecuali pada saat ajal menjemput. Hal ini yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam kepada para sahabat-sahabatnya, pembinaan dalam segala situasi dan kondisi, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat beliau Shallallahu ‘Alayhi Wasallam dan para salafussholeh.
Untuk itu, kita ingatkan kepada para pemimpin bangsa. Hendaknya, Anda semua bertakwa kepada Allah dalam mengurus 280 juta hamba Allah di negeri ini. Dengan otoritas kekuasaan, Anda dapat melakukan dan memimpin rakyat menuju kebaikan, menjadikan negeri kita baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur.
Jalankan kekuasaan dengan adil, bersihkan perilaku keji dari masyarakat, berantas korupsi dengan sungguh sungguh dimulai dari diri dan keluarga Anda, kroni Anda, partai Anda secara totalitas. Pilih dan angkatlah pejabat yang ahli dan amanah, bukan karena perkoncoan dan kongkalikong, agar rakyat kita sejahtera, bahagia dunia akhirat. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, As-Sunnah sebagai penerang. Jika tidak, maka kesengsaraan telah menanti di dunia ini sebelum di akhirat. Bimbinglah rakyat kita ke arah yang Allah ridhai. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka baginya kehidupan yang sempit dan akan Kami bangitkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha:124).
Kepada para muslimah, harapan kebaikan bangsa ini juga bertumpu kepada Anda. Baik dan buruknya umat ini ada di tangan anda. Jagalah kehormatanmu, kenakanlah hijabmu dengan benar, jangan hanya sebatas mode (fesyen), sehingga menjadi ajang pamer aurat dalam bentuk yang lain.
Kepada Anda segenap istri, jadilah pelabuhan hati bagi suami Anda, tempat berlabuh, dan melipur lara. Jadilah al-Wadud, istri yang cintanya buat suami sejati karena Allah, taatlah kepadanya dalam ketaatan kepada Allah.
Kepada Anda, wahai pemuda, harapan umat dan bangsa! Jadilah pemuda beriman yang tangguh! Tirulah para pemuda Ashabul Kahfi, yang tidur merekapun dapat menggetarkan musuh, karena mereka adalah:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rab mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi:13).
Jangan terperdaya dengan tipu daya setan, hingga masa muda kalian hanya diisi dengan hura-hura. Ingatlah bahwa semua ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Hiasi masa mudamu dengan Al Qur’an. Baca, telaah, hapal, dan amalkan, maka niscaya Anda akan menjadi pemuda paling bahagia.
Kepada para sahabat, segenap insan media dan para pemilik media yang baik hati, Anda adalah salah satu pilar peradaban umat. Kokohkan pilar itu dengan iman dan keluhuran budi. Jadikan profesi Anda untuk membangun masyarakat yang cerdas dan beriman, bukan menjadi alat pembodohan, corong penistaan agama, loud speaker liberalisme, dan kanal dekadensi moral generasi muda kita.
Kepada para ayah dan bunda kami, para abi dan ummi yang dirindu, hadirlah dalam hari-hari dan dalam jiwa buah hati Anda. Hadirlah dengan Al-Qur’an, hadirlah dengan cinta sepenuh jiwa mengantar mereka menjadi pejuang-pejuang Islam sejati. Tahukah Anda bahwa buah hati kita kadang menangis dalam hati karena kelakuan kita yang buruk, karena kata-kata kita yang pedas, atau karena tidak hadirnya kita pada saat mereka butuh dan rindu kepada kita?
Basuhlah air mata jiwa mereka dengan senyuman. Belai hati mereka dengan tilawah Qur’an, Hidupkan dalam sikap mereka kelembutan dan ketawadhu’an Abu Bakr As-Shiddiq. Bangkitkan pada jiwa mereka semangat dan ketegasan Umar bin Khattab. Gelorakan pada jiwa mereka jihad Khalid bin Walid.
Cemerlangkan pikiran mereka dengan kecerdasan Ali bin Abi Thalib. Tumbuh suburkan empatinya dengan kedermawanan Usman bin Affan. Dan, bangunlah kelembutan jiwa mereka dengan sifat hikmah dan kebijaksanaan Abu Ubaidah bin al-Jarrah Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in.
Kepada para ustadz, dan alim ulama, guru dan panutan kami, pembimbing hati dan jiwa kami. Ketahuilah bahwa kami mencintai Anda sekalian hanya karena Allah semata, maka bersikap teguhlah di jalanmu, pandulah kami dengan ilmu Allah yang dikaruniakan kepadamu. Yakinlah bahwa umat berada di belakangmu menyokong dakwah yang engkau tebarkan, dan yang paling utama, bahwa Allah di atasmu akan selalu membimbing dan menolongmu.
Bulan Ramadhan adalah mata rantai kebaikan yang hendaknya tidak terputus dengan berakhirnya bulan suci ini. Ramadhan ibarat kepompong bagi ulat. Ulat yang ingin berubah menjadi kupu-kupu, maka ia pun memutuskan untuk berpuasa. Ulat yang berhasil menekuni kesunyiannya dalam kepompong, kelak ia akan terbang menjadi kupu-kupu yang cantik dan menawan.
Puasa ala ulat adalah cermin buat kita bahwa puasa yang sejati harus melahirkan sosok muslim baru yang lebih baik, mempesona dan menebar manfaat. Ramadhan adalah tempaan karantina khusus nan universal. Di dalamnya seorang muslim benar-benar menempa dirinya. Bila ia sukses mengikuti segala rangkaian ibadah Ramadhan, ia terjamin istiqamah seumur hidupnya. Sikap istiqamah inilah kelak yang menghantarkannya ke surga. []
*) Penulis adalah Ketua PD Muhammadiyah Buleleng
*) Tulisan ini disarikan dari khutbah Idul Fitri 1445 H di Taman Kota Singaraja, 10 April 2024

