Islam dan Persepsi Kekerasan

  • Oleh Muhammad Idris, M.Pd.

SEDARI kecil, saya kerap parno terhadap orang berjubah, bersorban, berjenggot, bercelana cingkrang dan berjidat hitam. Apakah keparnoan saya mewujud begitu saja? Tentu tidak, hal ini pada dasarnya hidup dalam ingatan saya terhadap peristiwa Bom Bali 1 dan menyusul beberapa tahun berikutnya Bom Bali 2. Persepsi saya cukup menambah daftar panjang ketakutan dan keparnoan saya terhadap figur yang agamis.

Kehidupan keagamaan saya terasa aman dan terjaga dari turunan ilmu agama dari keluarga dan da’i-da’i cilik lepasan pesantren yang kerap mengundang gelak tawa jamaah di setiap bulan Ramadhan. Toh, pengamalan agama sekampung rukun-rukun aja, tidak ada masalah.

Terus, kalau kita pake perspektif pelaku teror yang mengatasnamakan dirinya sebagai kaum jihadis seperti, apa yah? Apakah dia mencoba memotong jalur untuk mencari jalan pintas masuk surga dengan bunuh diri, ataukah ia memiliki orientasi dan keinginan untuk mendapat bidadari dan kenikmatan surga yang hakiki dengan menghilangkan nyawa manusia, atau bisa jadi ia mencoba menghilangkan kemaksiatan dan kemudharatan dengan menghilangkan orangnya terus ia kemudian atas ‘jasanya’ mendapatkan pahala satu truk pasir dari Tuhan?

Iya, cukup ngeri juga kedangkalan berpikir mereka dalam mempersepsikan kehidupan keberagamaan. Di ruang-ruang yang menghadirkan ketenangan, sebut saja kasur sambil selonjoran dan berpikir: Apakah Islam menghendaki kekerasan? Ataukah saya yang salah memahami agama sendiri?

Dalam hal ini, saya mencoba menggali lebih mendalam teks-teks keagamaan lewat ragam kepala dan tempat dan melihat realitas ke-umat-an hari ini. Saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa semua agama mengajarkan cinta damai.

Sedari remaja, saya mengalami bias simbol dan identitas keagamaan yang salah mempersepsikan pada tampilan luar tiap orang, seakan-akan penampilan berasosiasi pada kelompok tertentu. Kenyataannya tidak, kan? Toh, saya berpenampilan dengan identitas tertentu dimana setiap orang baru yang saya temui selalu menyapa saya dengan sapaan ustadz. 

Dalam hati, seakan saya memiliki wawasan keagamaan yang mapan, penghafal Quran atau penilaian baik dari segi ibadahnya. Bagi saya, penilaian mereka akan berubah seiring dengan intensitas pertemuan dan perjumpaan. Pun demikian penilaian saya terhadap aksi teror yang membawa nama agama tertentu dengan tampilan agamis namun kenyataannya bengis dan tidak berprikemanusiaan.

Terus, kenapa wajah dan ekspresi keberagamaan sebagian figur agamis cenderung tampil ekstremis? Saya hanya menerka bahwa bisa jadi takaran dan ukuran pemahaman saya tentang watak keras dan ekstrem-tidaknya suatu ekspresi keagamaan tiap orang belum terlalu mendalam.

Namun, saya masih bertanya-tanya, bukankah Islam menghendaki kekerasan hanya pada aspek hifzun nafs (menjaga jiwa) benar, bukan? Kekerasan yang bercorak defensif merupakan suatu kebolehan itupun dilakukan secara terukur ketika jiwa terancam. Kekerasan yang muncul dari serangkaian aksi teror kaum jihadis berada dalam mode kekerasan ofensif dan perkara ini tidak dibenarkan dalam agama manapun.

Islam dan kekerasan merupakan kata yang tidak pantas disejajarkan. Islam merupakan agama yang membawa pada kedamaian sedangkan kekerasan membawa umat manusia pada kerusakan. Namun demikian, isu yang paling meroket yaitu kasus intoleransi dan ekstremis yang kemudian dihubung-koneksikan pada agama tertentu yaitu Islam. Hal inilah yang berkontribusi negatif pada persepsi publik yang secara perlahan mereduksi istilah keagamaan yang sebelumnya dipandang sebagai istilah yang netral.

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban dan keberagamaan antar komponen anak bangsa. Perbedaan suku, agama, ras dan antar etnis disatu-padukan dalam suatu tenunan kebangsaan bhinneka tunggal ika (unity in diversity). Dimana, di dalam butir pertama dalam Pancasila yang menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa ber-Tuhan.

Kearifan inilah yang senantiasa dirawat dan bekerja sama dalam memajukan umat dan bangsa. Segala tindak-tanduk kekerasan dalam berbagai ranah kehidupan, satu hal yang menjadi catatan penting bahwa aspek keislaman dan keindonesiaan memiliki kontra narasi terhadap segala bentuk warna kekerasan.

Bila menyusuri jejak sejarah risalah kenabian, hingga sampai pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir dan bahkan tidak pernah didapatkan dalam Al-Qur’an tentang risalah kekerasan dan kutuk-mengutuk antar sesama manusia. Bukankah pribadi Rasulullah memberikan contoh yang baik dalam bermuamalah?

Dikisahkan, di sudut pasar Madinah seorang pengemis Yahudi yang mengalami kebutaan senantiasa mengumpat dan menyebar caci dan maki tentang atribut yang dilontarkan kepada Nabi Muhammad. Ia menyampaikan kepada setiap orang yang mendekatinya, ”Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir, dan berhati-hatilah bila mendekat padanya karena engkau akan terpengaruh olehnya”. Semakin hari frekuensi caci maki dan umpatan kepada Nabi semakin menjadi-jadi. 

Sosok Nabiullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui betul apa yang diperbuat Yahudi buta kepadanya. Namun, apa yang terjadi? Ternyata sikap dan ekspresi keagamaan yang ditampilkan Nabi adalah dengan menampilkan tata laku adiluhung kepada Yahudi buta tersebut.

Rutinitas Rasulullah dengan mendatangi dan memberi makanan, bahkan Nabi menyuapinya tanpa berkata apapun. Kendati demikian, lisan dari Yahudi tua tersebut semakin pedas dan memberi pesan kepada orang baik yang menyuapinya untuk menjauhi orang yang bernama Muhammad.

Singkat cerita, kebiasaan Nabi memberi makanan dan menyuapi Yahudi buta tersebut senantiasa dilakukan hingga menjelang wafatnya. Sepeninggal Rasulullah, tidak ada lagi orang baik yang membawakan Yahudi buta makanan dan bahkan disuapinya. Suatu hari, sahabat Abu Bakar radhiyallahu anhu mengunjungi istri Rasulullah Aisyah radhiyallahu anhu yang juga merupakan putri dari Abu Bakar. Maksud ia berkunjung, perihal sunnah Rasulullah yang belum dikerjakan oleh Abu Bakar. Aisyah menuturkan “Wahai ayahku, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak satu pun sunnah yang engkau tanggalkan, kecuali satu hal”. “Apakah itu?” tanya Abu Bakar.

“Setiap pagi, Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” kata Aisyah. Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke tempat yang dimaksud yang berada di sudut pasar sambil membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu.

Ketika Abu Bakar memberikan makanan kepada pengemis Yahudi buta, ia kemudian menyuapinya. Namun demikian, si pengemis marah kepada Abu Bakar sambil berteriak, “Siapakah engkau?” Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa”.

Namun si pengemis tersebut berucap, “Bukan, engkau bukan orang yang biasa menemuiku”. Si pengemis tersebut menyebutkan bahwa karakteristik orang yang selalu mendatangi dan memberikan ia makanan, menyebutkan bahwa tangannya tidak susah memegang dan mulutnya tidak susah untuk mengunyah.

“Orang yang biasa datang kepadaku selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya. Setelah itu ia berikan kepadaku,” kata pengemis Yahudi buta itu.

Ekspresi Abu Bakar tampak begitu sedih dan menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabat Rasulullah. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Selepas pengemis itu mendengar kabar dari Abu Bakar tentang sosok yang selalu mendatanginya dan memberikan ia makanan ternyata adalah orang yang selalu ia caci maki dan ia umpat, yakni Muhammad secara personal dan ajaran yang dibawanya, ia kemudian menangis dan menyesali atas apa yang ia perbuat terhadap pribadi dan ajaran yang dibawa Rasulullah. Dengan riwayat caci maki, hinaan, dan fitnah yang disebarkan oleh pengemis Yahudi buta tersebut tidak membuat Rasulullah marah dan bahkan senantiasa membawakan makanan setiap pagi. Ia begitu mulia.

Dalam kehidupan keberagamaan, Rasulullah mengedukasi kita semua tentang kelembutan akhlak dan budi pekerti yang baik yang dapat mendatangkan kebaikan kepada orang lain. Hal yang paling saya ingat, ketika semangat-semangatnya menghafal teks hadis yang secara umum dihafal oleh pembelajar mula seperti saya yaitu “Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari”. (HR. Buhkari dan Muslim).

Ingatan saya akan hadis ini senantiasa menjadi pengawal dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan atau tampil di ruang publik dengan mengikhtiarkan diri mengimplementasikan nilai-nilai adiluhung yang menjadi wajah dan sikap keagamaan kita yang moderat, toleran, dan inklusif.

Menyebut kata di atas terasa berat juga menuju ke sana, tapi kan namanya juga ikhtiar. Ciri pembelajar adalah ikhtiar dengan mengerahkan segala daya dan kemampuannya untuk mengilmui segala hal yang belum diketahui dalam samudera ilmu pengetahuan yang amat luas ini.

Intinya, saya ingin mengatakan bahwa manusia tempat salah, demikian kredo klasik kehidupan kita sebagai manusia. Namun demikian, perkara yang perlu menjadi warna kehidupan kita adalah cinta kasih, karena ajaran dari Rasulullah tentang ajaran cinta bukan dan bahkan nihil ajaran kekerasan.

Patutlah kita mencap segala aksi yang mengatasnamakan agama tertentu dengan maksud menghilangkan nyawa manusia maupun membunuh arwah psikologis manusia dengan caci maki/umpatan dengan predikat ‘homo cocoklogius’. Karena muara dan pangkal ujung dari segala varian kekerasan dan umpatan titik temunya ada pada kebodohan. []

*) Penulis adalah Dosen Undiksha Singaraja/Anggaota Majelis Dikdasmen PDM Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *