- Oleh Drs. Yuskardiman
PUASA selalu menumbuhkan kenangan. Tentang surau tempat kita tarawih yang sekarang menjadi masjid yang agung. Menunggu blanggur (mercon dengan ukuran sebesar ember yang diledakkan di angkasa tanda waktu berbuka).
Lantas kita pun main petasan. Malam adalah saat ikut patroli membangunkan orang sahur. Setelah sholat Subuh berangkat tidur. Ini bisa dilakukan karena sekolah libur sebulan penuh selama Ramadhan. Masih ditambah libur hari raya seminggu.
Saatnya memakai baju baru. Makan lontong opor dan dapat uang dari para urangtua, paman, pakde dan para tetangga yang mampu. Uang “galak gampil” itu lantas dibuat naik oplet pergi ke kota. Jalan-jalan yang betul-betul jalan menuju tempat keramaian.
Kenangan tentang libur Ramadhan berakhir ketika Mendikbud mengeluarkan kebijakan sekolah tidak libur saat Ramadhan. Ini terjadi tahun 1978. Ditambah lagi adanya kebijakan diagnosis test. Awal tahun ajaran bukan lagi mengikuti tahun fiscal, yaitu Januari. Tapi mundur 6 bulan menjadi Juli.
Daud Yusuf sampai dipelesetkan namanya menjadi David Yoseph gara-gara memberlakukan kebijakan ini. Ditambah lagi untuk perguruan tinggi diberlakukan sistem SKS (satuan kredit semester) yang kemudian diistilahkan sebagai normalisasi kehidupan kampus (NKK).
Sejak tahun 1980-an mulai surut anak-anak sekolah yang melakukan aktivitas seperti jaman libur Ramadhan sebelum 1978. Siswa dipacu lebih giat belajar. Seperti juga para mahasiswa diarahkan lebih fokus ke kuliah daripada berkegiatan di luar kampus.
Namun ada yang tidak berubah: tradisi mudik. Ucapan Presiden Rumania Nicolae Ceaucescu bahwa puasa membuat gross national bruto atau pendapatan kotor negara merosot, produktivitas barang jasa menurun, tidak terbukti.
Sirkulasi uang meningkat tajam justru terjadi menjelang lebaran. Semua dibeli untuk kemeriahan lebaran. Dari pakaian, makanan, sampai perabot diganti baru. Bahkan motor atau mobil juga tidak mau ketinggalan. Angkutan darat, laut, dan udara penuh sesak.
Bagi yang belum beruntung, motor mobil yang sudah tidak baru lagi tidak menjadi halangan untuk mudik. Mobil pick up dimodifikasi jadi mobil lintas kota antar provinsi. Tidak peduli berapapun jarak akan ditempuh. Untuk sampai ke kampung halaman.
Bersimpuh memohon maaf kepada kedua orang tua. Menyambangi makam sanak saudara yang sudah tiada. Lantas kembali ke selera asal masakan ibu. Istri-istri harus merelakan para suami makan lebih lahap dibanding makan di rumah. Handai taulan berkumpul sekadar melepas rindu.
Urusan kerja beralih menjadi bernostalgia mandi di sungai. Makan jajanan khas yang tidak ditemukan di tempat kerja. Rasanya berapapun uang yang dibawa, terpakai untuk mengangkat perekonomian kampung halaman.
Pernah Menteri Emil Salim pada zaman Orde Baru mengimbau agar jangan mudik. Kirim saja uangnya ke kampung. Lebih efektif efisien. Tapi rasa rindu kampung halaman, kembali ke selera asal, bertemu sanak famili tidak tergantikan di saat Idul Fitri.
Tiba saatnya kembali ke tempat kerja. Masakan ibu dan kue dibawa serta. Pamit sambil menahan haru yang luar biasa. Terselip doa agar bisa dipertemukan Ramadhan mendatang dan hari raya. Video call bisa setiap saat. Pulang bisa saja jika ada sempat. Tapi pulang kampung di hari raya merupakan kenikmatan terbesar setelah berpuasa sebulan penuh.
Jutaan orang bermigrasi dari tempat tinggalnya ke kampung halaman dilihat NASA, Badan Antariksa Amerika, lewat satelit sebagai migrasi terbesar di saat lebaran. Bersamaan dan dalam jumlah besar yang pernah ada di muka bumi.
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Walillah Ilham. []
*) Penulis adalah Ketua Lembaga Seni, Budaya dan Olahraga PD Muhammadiyah Buleleng

