Sejarah Muhammadiyah Buleleng

Bagian 4 – Muhammadiyah Singaraja di Masa Revolusi Fisik

3.4.  Masa Revolusi Fisik

Proklamasi yang telah dikumandangkan ke seluruh pelosok tanah air telah memberikan harapan kepada seluruh bangsa Indonesia untuk menikmati kemerdekaan dan kebebasan. Namun kenyataannya, Belanda masih mempunyai keinginan untuk menjajah kembali sehingga memaksa bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dengan mengangkat senjata. 

Suasana perang yang dihadapi bangsa Indonesia diwarnai dengan semangat nasionalisme yang begitu tinggi akhirnya melibatkan seluruh komponen bangsa terjun ke medan perjuangan. Sebagai bagian dari anak bangsa yang merasa ikut bertanggungjawab akan nasib bangsa dan negaranya, beberapa anggota Pemuda Muhammadiyah ikut terlibat dalam revolusi fisik dalam mempertahankan kemerdekaan.

Angkatan Muda Muhammadiyah yang ikut ambil bagian antara lain Ibrahim Ramli, Ali Usman, Muhammad Samin, dan M. Saleh Singgik. Mereka mendapat tugas untuk mengambil perlengkapan perang berupa senjata bedil, pistol, pakaian seragam, dan lain-lain di Banyuwangi. Selain itu, seorang anggota Nasyiatul Aisyiyah (NA), bernama Analis A.M. Amin terlibat ke garis depan tetapi tak lama kemudian ia sakit dan akhirnya meninggal sebagai syuhada. 

Dari sekian nama yang terlibat dalam kancah revolusi fisik itu, salah satu diantaranya yang pernah mengecap pendidikan di Muhammadiyah adalah M. Anang Ramli. la dikenal sebagai salah seorang pejuang di Buleleng yang perannya cukup menonjol sehingga telah tercatat dalam sejarah sebagai seorang pahlawan di Bali. 

Dengan usainya perang kemerdekaan, menyusul pengakuan Belanda terhadap kedaulatan bangsa Indonesia pada tahun 1949, telah memberikan kelegaan bagi bangsa Indonesia yang sudah lelah merasakan kecamuk perang. Situasi secara umum berangsur-angsur membaik dan kondusif tampaknya memberikan harapan bagi bangkitnya kembali persyarikatan yang telah lama membeku. 

Suasana kehidupan yang telah kembali normal mendorong jajaran pengurus Muhammadiyah Singaraja untuk bangkit kembali. Namun sayang, akibat-akibat yang ditimbulkan masa revolusi fisik telah menyisakan sejumlah persoalan. Beberapa tokoh penggerak organisasi tidak ada lagi karena berbagai sebab, ada yang sudah meninggal dunia ataupun pindah ke daerah lain. Dengan demikian, selama beberapa tahun aktivitas pengurus persyarikatan Muhammadiyah Cabang Singaraja relatif mengalami kevakuman. Meskipun demikian, usaha-usaha konsolidasi telah diupayakan melalui beberapa kegiatan, diantaranya adalah Kepanduan Hizbul Wathan (HW). 

Berdasarkan data dan informasi dari beberapa sumber di lapangan, maka sejak berdirinya tahun 1939 sampai sekitar tahun 1950-an, jabatan pengurus Muhammadiyah Cabang Singaraja dari periode ke periode dipimpin oleh tokoh-tokoh perintis. Periode pertama diketuai oleh H. Muhammad Muchsin yang meninggal dunia sebelum Jepang berkuasa. Periode kedua dipimpin oleh Abdul Hafid Syabibi dan didampingi A.M. Amin. Sedangkan periode ketiga dipimpin oleh Abdul Karim Attamimi, seorang dai yang berasal dari Situbondo dan mantan ketua Muhammadiyah Cabang Negara (1934). 

Kepindahan Attamimi ke Lombok pada akhir tahun 1950-an menimbulkan kekosongan kepemimpinan, sehingga penggantinya ditunjuk Abdul Murod sebagai ketua periode keempat. Dengan demikian, ia adalah orang terakhir sebagai ketua dalam kelompok perintis yang pernah menjadi pimpinan Muhammadiyah Cabang Singaraja.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, sejak berdirinya Muhammadiyah Cabang Singaraja tahun 1939 sampai sekitar awal tahun 1950-an, perkembangan persyarikatan ini mengalami pasang-surut. Hambatan-hambatan yang bersifat internal maupun faktor tekanan eksternal telah menyebabkan berbagai aktivitas organisasi ini tersendat-sendat. Hal ini tidak hanya terjadi pada masa sebelum revolusi fisik, tetapi juga pada pasca revolusi fisik pun kegiatan organisasi belum terarah secara pasti. 

Meski demikian, masa-masa sulit yang dialami tidak membuat para penggeraknya kehilangan gairah, mereka tetap memiliki semangat. Upaya-upaya konsolidasi tetap dilakukan meskipun dalam situasi dan kondisi yang kurang mendukung perkembangan persyarikatan. 

Inilah yang membuat agak sulit untuk mengetahui secara pasti tahun-tahun pelestarian dari satu periode ke periode berikutnya. Selain itu, ketiadaan dokumen – oleh karena berbagai sebab – juga ikut menjadi andil, sehingga dalam satu dekade masa pertumbuhan persyarikatan Muhammadiyah Cabang Singaraja tidak dapat diketahui dengan jelas. (Bersambung) 

*) Amoeng A. Rachman adalah Ketua Pustaka dan Informasi PD Muhammadiyah Buleleng

Ket. Foto : Hizbul Wathan usai sholat Idul Fitri di lapangan bawah Singaraja (depan Polres Buleleng, sekarang jadi lokasi Pura Jagatnatha) pada tahun 1950-an

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *