Sejarah Muhammadiyah Buleleng

Bagian 6 – Masa Kebangkitan

Masa Kebangkitan

SITUASI sosial politik secara nasional pada era awal tahun 60-an yang dikenal sebagai masa Orde Lama diwarnai dengan pertikaian ideologis dan ketegangan sosial di berbagai daerah di Tanah Air. Kondisi ini diperparah dengan kehidupan rakyat yang kian sulit sebagai akibat perekonomian Indonesia yang semakin mundur.

Situasi ini tampaknya agak kontradiktif jika dikaitkan dengan dinamika persyarikatan. Justru pada masa inilah gairah berorganisasi begitu kuat dan bersemangat. Boleh jadi semangat itu lebih banyak didorong karena alasan-alasan yang bersifat ideologis. 

Bukan rahasia lagi bahwa kekuatan komunisme pada masa itu sangat agresif terhadap kelompok-kelompok Islam maupun kelompok nasionalis dan sering menjadi sasaran mereka. Dominasi komunisme pada masa itu telah merasuk hampir di semua sektor kehidupan, di berbagai birokrasi pemerintahan dan militer.

Puncak pertikaian itu adalah meletusnya peristiwa G30S/PKI tahun 1965, yaitu sebuah upaya kudeta untuk merebut kekuasaan pemerintah yang sah. Akibat dari peristiwa tersebut telah menimbulkan kekacauan sosial politik dan huru-hara di berbagai daerah di wilayah Tanah Air dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit. 

Dalam situasi seperti ini, tidak ada pilihan lain Muhammadiyah bersama komponen bangasa lainnya secara aktif mengambil peran melumpuhkan dan menghancurkan komunisme di Indonesia. Untuk di daerah Buleleng, peran yang dimainkan Muhammadiyah terlihat dari terbentuknya KOKAM (Komando Kesatuan Aksi Muhammadiyah) sebagai bagian penting menghadapi gerakan komunisme. 

Bahkan untuk memompa semangat Muhammadiyah pada tahun 1964 mengundang Prof. Buya Hamka untuk mengisi acara Tablig Akbar bagi umat Islam di kota Singaraja. 

Sebagai catatan pada masa kebangkitan ini, Pengurus Wilayah Muhammadiyah Bali pada tanggal 1 Maret 1965 telah menunjuk H.S. Adnan sebagi ketua PWM Bali. Kemudian pada tanggal 21 sampai 23 April 1966 Musyawarah Kerja II Muhammadiyah Bali di Denpasar memutuskan bahwa wilayah Bali dibagi menjadi dua, yaitu Muhammadiyah Bali Utara yang meliputi Cabang Seririt, Gondol dan Buleleng yang dipimpin oleh M. Mahmud Mertowidjojo dan Anang Ramli. 

Sedangkan Bali Selatan meliputi Cabang Jembrana, Tabanan, Badung, Klungkung dan Karangasem. Selanjutnya Musyawarah Kerja III Muhammadiyah Bali tanggal 27-29 Juli 1968 yang dilangsungkan di Singaraja, antara lain mengambil Keputusan status Cabang Singaraja ditingkatkan menjadi Pimpinan Daerah Buleleng. (Bersambung)

*) Amoeng A. Rachman adalah Ketua Pustaka dan Informasi PD Muhammadiyah Buleleng

Ket. Foto: Prof. Buya HAMKA bersama KOKAM Singaraja saat diselenggarakan Tablig Akbar. Lokasi di Jl. Diponegoro Singaraja. Foto tahun 1964

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *