Sejarah Muhammadiyah Buleleng

Bagian 2 – Berdirinya Muhammadiyah di Singaraja

Latar Belakang

Singaraja adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di pesisir utara Pulau Bali. Kota yang pernah menjadi ibukota keresidenan Bali dan Lombok pada masa kolonial (1882) dan ibukota Provinsi Sunda Kecil (1945), kini hanya sebagai ibu kota Kabupaten Buleleng yang merupakan salah satu kabupaten dari delapan kabupaten yang ada di Provinsi Bali. 

Sejak awal abad XIX, jalur perdagangan Bali, Lombok, dan Batavia semakin berkembang, terutama kebutuhan-kebutuhan sandang pangan. Meningkatnya intensitas perdagangan pada masa itu lebih menonjol di daerah Bali Selatan, tetapi setelah pertengahan abad ke-19 perdagangan di Bali Selatan, khususnya di Kuta mengalami kemunduran.

Perubahan-perubahan sosial dan ekonomi telah menyebabkan pusat perdagangan di Bali bergeser ke daerah Buleleng. Pada awal abad ke-20, daerah Buleleng sebenarnya merupakan daerah yang lebih berperan dibandingkan daerah yang lain di Bali. Hal ini disebabkan oleh dua faktor penting, yaitu Singaraja sebagai kota pelabuhan dan sebagai pusat pemerintahan. 

Sebagai kota pelabuhan, daerah ini menjadi lebih terbuka oleh berbagai pengaruh dari luar. Sedangkan sebagai pusat pemerintahan, Singaraja menjadi kota yang ramai dan dinamis.

Peluang daerah Bali Utara untuk tampil sebagai pusat perdagangan pada saat itu sangat mungkin, karena daerah tersebut memiliki tiga pelabuhan alam, yaitu Temukus, Buleleng, dan Sangsit. Ketiga pelabuhan tersebut menjadi tempat transit kapal dan perahu yang berlayar dari Surabaya, Makassar, dan pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara. 

Posisi semacam itu sedikit telah memberi keuntungan bagi perkembangan kota Singaraja, sebagai kota pelabuhan. Dalam posisi seperti itu pula, telah tercipta hubungan yang tidak terbatas pada hubungan ekonomi saja, tetapi dalam batas-batas tertentu hubungan tersebut berkembang ke arah hubungan sosial budaya. Hal ini bisa terjadi karena pedagang-pedagang yang singgah di pelabuhan berasal dari berbagai etnik yang pada akhimya banyak mewarnai kultur masyarakat Buleleng, yaitu suatu masyarakat yang memiliki karakter bersifat egaliter dan kosmopolit.

Akibat kemajuan-kemajuan dalam bidang komunikasi dan industrialisasi menyebabkan perkembangan kota Singaraja sebagai kota pelabuhan dan pemerintahan kota mengalami proses mobilitas sosial. Tampilnya kota Singaraja sebagai kekuatan ekonomi pada masa kolonial itu, telah mendorong munculnya kelas pedagang muslim yang selanjutnya menjadi tulang punggung gerakan Islam. Salah satu dari gerakan Islam itu adalah Persyarikatan Muhammadiyah. 

Adapun kantong-kantong komunitas muslim di kota pesisir pantai itu seperti Kampung Bugis, Kampung Kajanan, Kampung Arab, kelak merupakan basis pendukung bagi gerakan organisasi modern ini. 

Ide Awal

Pada awalnya ada beberapa tokoh lokal dalam komunitas muslim di Kota Singaraja yang sering terlibat dalam diskusi dan memiliki kesamaan visi dalam melihat persoalan umat. Pandangan ini didasari atas kenyataan bahwa kondisi umat masih sangat terbelakang di semua bidang kehidupan. Berangkat dari sinilah kemudian muncul ide-ide pembaharuan, khususnya di bidang sosial agama dan pendidikan. 

Hal ini bisa dilihat bermula dari adanya gagasan dari Salim Hayaze untuk membangun sebuah madrasah dengan sistem pengajaran modern. Akan tetapi, sebelumnya telah ada madrasah yang didirikan oleh A. Rachman Salim pada tahun 1925. Namun karena berbagai sebab, madrasah tersebut tidak dapat berlanjut. 

Tampaknya gagasan Salim Hayaze tersebut mendapat tanggapan dari beberapa rekannya, antara lain: Ahmad Bakar Ma’asyir pada saat itu menjabat sebagai Kapten Arab (pemimpin kelompok etnik keturunan Arab) di Kampung Bugis. Kemudian, H. Muhammad Muchsin, H. Muhammad Said Sakio, dan Muhammad Yasin dari kalangan kelas pedagang yang juga merupakan tokoh-tokoh lokal. Selain itu, respon juga datang dari seorang priyayi asal Jawa bernama Raden Padmodihardjo, yang ketika itu sebagai Jaksa Raad & Kertha Bali dan Lombok di Singaraja. 

Dalam upaya mewujudkan gagasan itu, maka diadakanlah pertemuan-pertemuan di rumah Raden Padmodihardjo. Rupanya ide pendirian sekolah itu selalu menjadi bahan diskusi pada setiap pertemuan. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, bahwa pendirian madrasah banyak mengalami kendala dan berakhir dengan ditutupnya lembaga pendidikan tersebut, maka muncul pemikiran perlunya adanya suatu organisasi yang dapat menopang keberadaan lembaga tersebut. 

Setelah melalui proses pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya ide Raden Padmodihardjo untuk mendirikan cabang Persyarikatan Muhammadiyah sebagai penyangga berdirinya lembaga pendidikan disetujui oleh rekan-rekannya. Ide pendirian Persyarikatan Muhammadiyah pada masa itu dipandang cukup beralasan, karena Muhammadiyah ketika itu telah terbukti berhasil merintis berdirinya lembaga pendidikan modern di berbagai tempat di Tanah Air. (Bersambung)

*) Amoeng A. Rachman adalah Ketua Pustaka dan Informasi PD Muhammadiyah Buleleng

Ket. Foto : Prof. Buya HAMKA bersama KOKAM Singaraja saat dilaksanakannya Tablig Akbar. Lokasi Jl. Diponegoro Singaraja

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *