- Oleh Bayyazid Ray Sanusi
DALAM dua tahun terakhir ini Nyepi dan awal bulan Ramadhan jatuh pada hari yang sama. Kebetulan Nyepi kali ini saya berada di Pulau Dewata, tepatnya di daerah Singaraja.
Pada malam Nyepi kemarin, keadaan Bali benar-benar dibaluti kegelapan di sepanjang kota. Bahkan suara orang dan motor yang biasa berlalu lalang ikut hilang menambah keheningan suasana Bali. Meski sesekali suara dengkuran teman kos dan suara serangga malam menyelinap ke lorong telinga.
Pada waktu yang sama ritus puasa dilaksanakan oleh umat Islam. Sebagai bentuk ketaatan dan kehambaan mereka terhadap Allah SWT.
Sebagai anak rantauan yang kurang lebih satu tahun menetap di Bali, saya merasakan hal yang berbeda. Namun bukan berarti harus meluputkan saya akan keutamaan yang ada pada bulan Ramadhan. Bahkan sebaliknya ada nuansa yang berbeda yang saya dapatkan.
Keheningan yang diciptakan oleh Nyepi pada bulan Ramadhan mampu menambah hikmat bulan Ramadhan. Hening yang diartikan sebagai kesepian memiliki makna, yang lebih dari pada itu sebagai waktu untuk bermuhasabah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Muhasabah merupakan istilah religius yang merujuk pada proses perenungan diri seorang hamba atas hal yang pernah dilakukan. Dalam proses ini, seseorang akan melakukan penilaian akan diri mereka sendiri sebagai kesadaran mereka akan makhluk yang tak luput dari kekhilafan. Kemudian mereka bertaubat dari kesalahan yang sama dan berjanji tidak akan mengulanginya.
Imam Ghazali pernah mengatakan, “Ketahuilah, seorang hamba sebagaimana menyediakan waktu pada awal hari untuk menentukan syarat yang berat bagi dirinya sebagai nasihat pada kebenaran seyogyanya menyediakan waktu pada ujung hari untuk ‘menuntut’ dan ‘mengadili’ dirinya baik gerak maupun diam.”
Bagi Imam Ghazali, dalam upaya untuk menasehati dan mengadili diri (muhasabah) kita memiliki dua momentum waktu yakni pagi hari dan tengah malam. Dimana seseorang bisa berpikir tentang apa yang akan dilakukan dan apa yang telah dilakukan agar tak terlalu larut pada kesalahan. Dan untuk sampai pada keadaan ini butuh suasana yang mendukung. Salah satunya dengan menarik diri menuju keheningan.
Dalam Nyepi, jalan sunyi terbuka lebar dan masuk lebih lama. Dengan keadaan malam yang gelap serta hening membuat kita lebih banyak berbicara dengan diri sendiri. Berpikir tentang apa yang akan terjadi, bagaimana caranya menyikapi, dan bertaubat atas yang pernah terjadi. Apalagi di dalam keberkahan bulan Ramadhan segala bentuk kegiatan yang kita niatkan karena ibadah bisa bernilai pahala.
Di sisi lain, seorang ahli tasauf modern Agus Mustofa menyatakan hal yang sama. Sepi atau hening di tengah malam (tahajut) adalah kondisi yang lebih menguntungkan untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta. Sebab, keheningan memiliki resonansi yang baik.
Resonansi dari sepi memaksimalkan frekuensi doa yang merupakan gelombang suara sehingga terjadi kontak dengan Ilahi. Namun tetap bergantung pada kualitas frekuensi, artinya frekuensi jiwa haruslah suci dan bersih serta memiliki frekuensi ruhiah dan keilahian. Sehingga frekuensi kita menjadi tersambung dengan Ilahi.
Sebagaimana jika ingin mendengarkan radio dalam pemancar 200 FM maka kita harus putar frekuensi radio kita pada frekuensi yang sama.
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman, ‘Orang yang berdoa kepadaKu akan Kukabulkan, orang yang meminta sesuatu kepadaKu akan kuberikan, orang yang meminta ampunan dariKu akan Kuampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)
Untuk itu, dalam nuansa Nyepi seperti kemaren hendaknya kita manfaatkan secara sadar momentun tersebut. Dengan melakukan muhasabah atas perbuatan kita. Melalui Nyepi, jalan sunyi untuk kita merenung menjadi terbuka lebar. Serta menuntun kita kembali sebagai makhluk yang tak luput dari kesalahan. Sebagaimana Adam yang pernah diusir dari surga atas kesalahannya.
Terlebih lagi dalam nuansa sepi bisa mendukung terijabahnya doa kita pada Ilahi. Karena pada kenyataannya dalam sepi resonansi suara lebih baik ketimbang di keramaian.
Gelombang dan frekuensi yang dimiliki doa akan jauh lebih baik ketimbang di hari-hari biasanya. Sehingga bukan hanya mendatangkan sepi semata namun menambah hikmat Ramadhan dalam dua tahun terakhir ini. Wallahualam bissawab. []
*) Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia SMP Muhammadiyah 2 Singaraja

