Oleh Muhammad Fardiansyah
PIMPINAN Daerah Muhammadiyah Buleleng menyelenggarakan Baitul Arqam selama dua hari di Bedugul, Tabanan, Bali, pada tanggal 8-9 Maret 2024. Baitul Arqam untuk gelombang pertama ini diikuti oleh kurang lebih 32 peserta, yang merupakan pegawai dan guru di SD Muhammadiyah Singaraja, SMP Muhammadiyah 2 Singaraja, dan SMA Muhammadiyah 2 Singaraja.
Baitul Arqam adalah suatu bentuk pembinaan di Muhammadiyah yang berorientasi pada pembinaan ideologi keislaman dan kepemimpinan. Tujuan kegiatan Baitul Arqam adalah untuk meningkatkan pemahaman keislaman, menciptakan kesamaan dan kesatuan sikap, integritas, wawasan dan cara berpikir di kalangan anggota persyarikatan dalam melaksanakan visi dan misi Muhammadiyah.
Baitul Arqam juga dimaksudkan untuk pembinaan etos kerja Islami bagi ustadz dan ustadzah di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (SD, SMP dan SMA Muhammadiyah).

Kegiatan Baitul Arqam diselenggarakan untuk lebih memahami hakikat Muhammadiyah. Karena kita bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah, maka kita akan mempelajari dan memahami apa itu Muhammadiyah.
Salah satu yang dipelajari dalam Baitul Arqam adalah paham agama dalam Muhammadiyah, yang menjelaskan prinsip-prinsip ibadah yang benar. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang melaksanakan dakwah dan tajdid untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Sementara itu, menurut saya, Silent Day yang beriringan dengan bulan suci Ramadan ini adalah momen untuk introspeksi dan evaluasi diri untuk membersihkan jiwa dari segala bentuk perilaku yang tidak baik seperti pikiran yang tidak baik, perkataan yang tidak baik dan perbuatan yang tidak baik.
Maka dari itu internalisasi diri dari kegiatan Baitul Arqam beberapa hari yang lalu berkesinambungan dengan tujuan dari hari raya Nyepi atau biasa kita sebut Silent Day.
Puncaknya kita akan mengerti arti pentingnya sebuah profil kader melalui Quran Surat An Nisa’ ayat 9 yang artinya, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)-nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” []
*) Penulis adalah Guru SMA Muhammadiyah 2 Singaraja, Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Buleleng

