Oleh Bayyazid Ray Sanusi *)
BULAN Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa, bahkan dirindukan oleh umat Islam seluruh dunia. Bulan ini dianggap istimewa karena merupakan bulan dimana kitab suci Al-Quran diturunkan. Serta segala kebajikan yang dikerjakan dilipat-gandakan.
Ya, momentum bulan suci Ramadhan bukan saja istimewa, tapi juga dirindukan dan ditunggu kedatanganya. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW, bersabda:
“Barang siapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka.” (HR. An-Nasa’i)
Maka tak heran bulan Ramadhan adalah momentum yang pas dalam meningkatkan kualitas keimanan seorang muslim. Bukan saja pada ranah ritual ibadah puasa dan sholat, melainkan berimbas pada tindak laku dan tutur kata.
Dalam beberapa pendapat, bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Sebab, pada dasarkan manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan interaksi dengan sekitarnya. Kemunculan bahasa merupakan salah satu upaya manusia dalam memenuhi hakikatnya sebagai makhluk sosial.
Kehadiran bahasa di tengah kehidupan masyarakat sebagai medium dalam menyampakan ide, gagasan, serta perasaannya. Bahasa menjadi medium penting untuk menciptakan keterhubungan dan kepekaan emosinal antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya atau dengan tetangga satu dengan tetangga yang lainnya.
Untuk itu, momentum bulan suci Ramadhan bisa menjadi spirit dalam membentuk kedamaian berbahasa. Sebab, bulan ini bukan hanya persoalan menyucikan diri dengan ibadah wajib yang dikerjakan. Tapi membentengi diri dari melakukan perbuatan keji dan perkataan yang kotor. Sebagaimana salah satu manfaat berpuasa untuk mengendalikan emosi.
Spirit kedamaian berbahasa dalam bulan suci Ramadhan akan lebih mudah terbentuk. Pada situsi ini seluruh umat Islam melakukan hal yang sama dalam meningkatkan kualitas keimanan. Sehingga memungkinkan munculnya rasa saling mengingatkan jauh lebih tinggi dari pada hari-hari biasa.
Oleh karena itu, bulan Ramadhan merupakan bulan pelatihan dalam membentuk kualitas keimanan. Sekaligus melatih seorang muslim melalui emosi, prilaku dan tindak tutur untuk menjadi hamba yang bertaqwa. []
*) Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia SMP Muhammadiyah 2 Singaraja

