- Oleh Alif Alfi Syahrin, M.Pd
KETIKA mendengar sekolah tentu dalam benak kita muncul sebuah tempat dilaksanakannya proses belajar mengajar antara guru dan peserta didik. Sekolah menjadi tempat bagi peserta didik berkenalan dengan berbagai macam ilmu pengetahuan, menemukan bakat dan minat, pembentukan sikap hingga menjadi wadah dalam menjalin interaksi sosial. Sehingga dapat dikatakan, sekolah merupakan lembaga yang bertujuan untuk mencerdaskan dan mendidik setiap insan pembelajar menuju perubahan ke arah yang lebih baik dalam segi intelektual, keterampilan maupun karakter.
Berkaitan dengan sekolah, seperti yang kita ketahui bersama ketika memasuki setiap awal bulan Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap tanggal 2 Mei. Sejak ditetapkannya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, setiap tanggal 2 Mei menjadi hari istimewa dalam dunia pendidikan Indonesia. Tanggal 2 Mei merupakan hari lahir sosok Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pelopor pendidikan nasional Indonesia, yang berjuang melawan kolonialisme melalui pendidikan.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tentunya dapat kita manifestasikan dengan berbagai macam kegiatan yang bermanfaat seperti dengan mengikuti upacara bendera yang merupakan hal umum kita lakukan. Begitu juga dengan kegiatan kreatif lainnya, seperti mengadakan perlombaan di sekolah hingga menjadi bahan perenungan kita bersama dalam memaknai dunia pendidikan.
Dalam dunia pendidikan, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan sosial keagamaan Islam terbesar di Indonesia tentunya tidak luput atas perjuangannya dalam merintis dan mewarnai dunia pendidikan di Indonesia. Sejak didirikannya Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) “Sekolah Agama Modern” pada tanggal 1 Desember 1911 oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, Muhammadiyah senantiasa istiqomah dalam mengembangkan pendidikan yang berkemajuan. Pendidikan berkemajuan bukanlah pendidikan sekuler melainkan pendidikan yang memadukan pendidikan berbasis akhlakul karimah dan pendidikan berwawasan global. Inilah karakteristik pendidikan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah hingga sekarang.
Pendidikan berkemajuan yang menjadi ciri khas dari Muhammadiyah dapat terlihat berdasarkan berbagai macam program pendidikan yang diterapkan di setiap perguruan Muhammadiyah dari tingkat PAUD hingga Perguruan Tinggi. Secara sederhana, salah satunya dapat terlihat berdasarkan motto yang digunakan oleh setiap sekolah dibawah naungan Muhammadiyah. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) motto adalah kalimat, frase, atau kata yang digunakan sebagai semboyan, pedoman, atau prinsip (Tim Penyusun, 2008). Sehingga dapat dikatakan sebuah motto merupakan sebuah prinsip dalam bertindak berdasarkan falsafah yang diyakini.
Dalam dunia pendidikan, tentu kehadiran sebuah motto yang digunakan oleh tiap sekolah memiliki berbagai macam ragam bentuk penamaan, namun yang perlu diingat sebuah motto tentunya menggambarkan kemuliaan dan harapan baik bagi tiap sekolah. Salah satunya motto yang digunakan oleh SMA Muhammadiyah 2 Singaraja yang berbunyi “Insan Berkemajuan dan Berakhlak Mulia”. Sebuah motto penuh kemuliaan yang kerapkali penulis dengar ketika menghadiri acara serta saat menyaksikan Youtube SMA Muhammadiyah 2 Singaraja.
Insan berkemajuan dan berakhlak mulia dapat kita pahami sebagai perpaduan dua unsur yang saling melengkapi, yakni pendidikan umum dan pendidikan Islam. Perpaduan dua unsur ini merupakan hasil dari pembaharuan dalam dunia pendidikan saat itu oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Kyai Haji Ahmad Dahlan memperbarui sistem pendidikan umum di satu sisi, dan memperbaharui sistem pendidikan Islam, di sisi yang lain sehingga terciptalah satu model pendidikan hasil perpaduan dari keduanya (Mu’thi, dkk, 2015). Sehingga dapat kita pahami bahwa tujuan dari pendidikan menurut Kyai Haji Ahmad Dahlan tidak hanya berorientasi pada duniawi saja, melainkan juga pada ukhrawi.
Motto ‘Insan Berkemajuan dan Berakhlak Mulia’ juga menyadarkan kita bahwa bagaimanapun cerdasnya intelektual, sehebat apapun keterampilan yang dimiliki, tentu belum cukup jika tidak dilengkapi dengan akhlak mulia yang kita miliki sebagai orang beriman kepada Allah SWT. Terlebih untuk menjawab tantangan saat ini, zaman fitnah, berbagai macam bentuk kedzaliman hingga kemaksiatan seperti sudah menjadi tontonan sehari-hari yang tidak ada habisnya.
Namun di sisi lain, guna menjawab perkembangan Iptek, sudah sepatutnya untuk terbuka terhadap perubahan, sebagaimana yang telah diungakapkan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, salah satu langkah yang perlu diambil oleh lembaga pendidikan Islam dalam bersaing dengan perkembangan zaman (Mu’thi, dkk, 2015).
Penegasan motto ‘Insan Berkemajuan dan Berakhlak Mulia’ semakin menguatkan keterkaitannya terhadap visi dari pendidikan Muhammadiyah itu sendiri. Dapat kita telusuri berdasakan visi dari pendidikan Muhammadiyah yang tercantum dalam Tanfidz Keputusan Mukatamar Satu Abad Muhammadiyah bahwa terbentuknya manusia pembelajar yang bertaqwa, berakhlak mulia, berkemajuan dan unggul dalam IPTEKS sebagai perwujudan tadjid dakwah amar ma’ruf nahi munkar (Muhammadiyah, 2010). Bukankah begitu meneranginya pendidikan Muhammadiyah bagi dunia pendidikan Indonesia.
Insan berkamajuan dan berakhlak mulia yang dijadikan motto oleh SMA Muhammadiyah 2 Singaraja memiliki tujuan mulia dalam membentuk peserta didik di SMA Muhammadiyah 2 Singaraja. Motto yang telah dicanangkan, diserukan dan diperkenalkan pada saat berkegiatan bukanlah teori semata.
Pada prakteknya, sekolah selalu berupaya dalam mewujudkan motto yang penuh kemuliaan itu. Terlihat dalam upaya memperkaya pengetahuan dengan diberikannya mata pelajaran umum, mata pelajaran agama Islam, Kemuhammadiyahaan, serta berbagai macam bentuk program lainnya seperti Program BTAQ (Baca Tulis Al-Qur’an), Hizbul Wathan, Tapak Suci hingga program kekinian seperti program podcast hingga program aeromodelling. Sehingga tidak berlebihan, jika berbagai macam program sekolah yang telah dihadirkan untuk peserta didik sebagai upaya sekolah dalam menghasilkan insan berkemajuan dan berakhlak mulia.
Dengan demikian, motto ‘Insan Berkemajuan dan Berakhlak Mulia’ bukanlah hanya sebatas kata tanpa makna, namun memiliki makna mendalam yang sudah sepatutnya dapat kita jadikan renungan bersama. Tidak hanya bagi peserta didik, maupun sekolah, namun kita jadikan motto ‘Insan Berkemajuan dan Berakhlak Mulia’ dalam bermuhasabah guna meng-update diri dalam ber-Muhammadiyah. []
*) Penulis adalah Dosen Undiksha, Anggota Majelis Dikdasmen PD Muhammadiyah Buleleng
DAFTAR PUSTAKA
Mu’thi, A., Mulkhan, A. M., Marihandono, D., & Tjahjopurnomo, R. (2015). KH Ahmad Dahlan (1868-1923). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Muhammadiyah, P. P. (2010). Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah. Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Tim Penyusun Kamus Bahasa Indonesia. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

