30 Hari Bersamamu, Tak Berjudul

  • Puisi-puisi Raodatun Syarifah

Senja Pertengahan September

Suara musik terdengar mengalun

Pengantar lamunan sore hari

Pandangan mata kesepian

Tertuju pada sinar jingga menyala

Pertengahan September ku kenang

Saat bait dari puisi tercipta

Persembahan tulus untuk jiwa

Yang meminta pulang kembali

Sinar jingga masih berwarna terang

Menembus setiap lorong taman kota

Memantul di setiap helai dedaunan

Menyambut datangnya malam

Duduk bersila diantara meja-meja kosong

Suara riuh dari pejalan kaki

Bersenda gurau bersama sanak saudara

Ada yang ku ikhlaskan pergi

Bersama tenggelamnya senja

Pertengahan September sebagai penanda

Jiwa yang mati suri

Kembali menghitung langkah kaki

Mungkin batinku tersandung

Sebuah kekecewaan dari ilusi

Terlantar oleh harapan sendiri

30 Hari Bersamamu

Lantunan merdu dari surau-surau

Membangunkanku dari mimpi dan lelap

Sehelai kain yang melapisi badan

Ku sigap dan ku lipat dari badan

Langkah kecil mengalun

Percikan air membasuh wajah

Doa dan lamunan pagi

Menambah syahdu fajar yang ku pinta

Tiga puluh hari bersamamu

Ku mulai kembali dengan isak yang usang

Tertatih ku melangkah raga ku paksa berdiri

Demi tangis dan restu darimu

Tiga puluh hari bersamamu

Ku mulai pagiku dengan dingin yang mencekam

Suara sahutan dari burung dan alam

Suara gesekan dari dedaunan gugur

Tiga puluh hari bersamamu

Ku abadikan dalam aksara dan pena

Menjadi pengingat jiwa menjadi pemacu hati

Berhasil yang ku paksa dan ku pinta

Berharap jadi ikhlas tanpa dipinta

Tak Berjudul

Kamis 9 Februari

Malamku yang syahdu

Nyanyian melodi dari alam

Rintik hujan dan suara guntur menyambar

Aku ,,,

Gadis malang lara

Sedang mengadu cerita

Meluangkan deritaku

di atas kertas putih

Bernodakan tinta hitam

Tuhan ,,,

Aku mungkin terlalu dzalim

Pada raga dan takdirku

Menghakimi takdir yang tidak

Seberuntung mereka

Alam ikut mengingatkan

Bahwa kuasaMu sungguh adil

Tuhan ,,,

Bolehkah aku mengintip takdir

Akan seperti apa nanti

Aku bukan tidak percaya

Hm,,,

Dunia dewasa sangat menyenangkan

Dibumbuhi oleh tangis dan derita

Langkah kaki tertatih-tatih

Gonjang-ganjing tak dapat ku bungkam

Aku mencoba mencari pembelaan

Pada mereka yang ku anggap ada

Tapi malu menghantam derita

Karena duka dan lara ikut juga

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *