Bungsu Malang Sukar Kembali Berpuisi

  • Puisi-puisi Raodatun Syarifah

Sukar

Judulnya tidak aku ketahui dan masih menjadi teka teki semesta

Pertanyaan yang belum tentu ada jawaban sudah terbiasa dilontarkan lisan

Ah,,, aku semakin bingung

Berjalan di antara teka-teki kehidupan yang tak bisa dibaca oleh indra

Dan,,, terlalu sukar untuk diterawang mata

Rasanya,,, semakin sukar untuk dipahami

Jiwa pun ikut serta merasakan pilu dan derita yang kian menjadi satu

Tawa dan tangisku kian menjadi sangat akrab

Duniaku kembali diuji

Saat realita lebih menyakitkan dari pada ekspektasiku

Aku kembali di titik itu,,,

Titik dimana,,, ragaku mulai tersungkur

Hm,,, dewasa ku sangatlah berkesan bukan?

Air mata dalam kesunyian menjadi obat penenang saat semua terasa sangat menyakitkan

Haha,,, dadaku sesak

Saat aku berusaha meleburkan antara air mata dan canda tawaku

Hm,,, berpura-pura, sudah menjadi keahlian tambahanku

Hanya bisa menjadi penyemangat untuk orang lain dan menjadi pengecut untuk diri sendiri

Dunia ku,,, semakin hancur

Melebur dengan debu dan diterbangkan jauh oleh angin

Kadang,,, tanya terbersit dalam angan

Tapi,,, yah begitulah, hanya akan menjadi pertanyaan tanpa jawaban

Dunia,,, mungkin kembali menertawakan tangisanku

Tanah yang ku pijak mulai memberikan isyarat

Meskipun masih belum bisa terbaca jelas

Kau tahu,,, aku sangat rapuh

Bak tiang kayu yang terus digerogoti oleh rayap

Mentalku sudah terkikis habis oleh ke-egois-an

Hm,,, kadang aku berfikir,

Apa yang salah dari sebuah takdir

Apakah bahagia bukan bagian dari sebuah takdir?

Aku masih berusaha yakin,

Akan rencana indah di balik teka-teki kehidupanku

Bungsu Malang

Ceritaku masih tentang dia

Si bungsu malang,,,

Ia berjalan menyusuri lorong sunyi

Seorang diri tanpa penjaga

Kaki mungilnya berjalan

Dengan gagahnya

Menghentak kerasnya tanah dan bebatuan

Ia berjalan tanpa tujuan

Menyusuri setiap lorong kehidupan

Kerasnya bebatuan tidak pernah

Dikeluhkan olehnya

Semua dukanya tersusun rapi

Dalam sanubari

Dan selalu ia nikmati sendiri

Dia tak ingin membaginya pada orang lain

Si bungsu malang sudah mulai beranjak dewasa

Ia masih berjalan tanpa henti

Air mata ia cegal dengan tawa

Agar setiap mata tidak menertawakan dukanya

Si bungsu malang masih tertawa riang

Menutup setiap celah dukanya

Sesekali tanya terlontar

Sampai kapan ia akan berpura-pura?

Sampai kapan ia bisa seperti mereka?

Pertanyaan demi pertanyaan

sudah ia lontarkan, meskipun

ia tak tahu pada siapa hendak

ia tujukan

Dan siapa yang akan menjawab

Setiap pertanyaannya

Si bungsu malang mulai terbiasa

Tersenyum saat terang

Dan menangis saat gelap

Suara tangisnya memecah kesunyian malam

suara tawanya memecah riuhnya siang

Si bungsu malang masih berpura

Ceritaku masih tentang dia

Si bungsu malang yang selalu kesepian

Di tengah riuh keramaian

Tangisannya masih terngiang di telinga

Memecahkan lamunan panjangku

Tawa khasnya terus teringat

Menghentikan sedih dan kegundahan

Seakan aku tertampar kenyataan

Aku masih merasa kurang

Padahal kasih sayang selalu

mengiringi setiap langkahku

Meski jalanan yang ku lalui

Lebih berbatu dan berduri

Tapi seakan terasa ringan

Karena kasih sayangku bawa serta

Ceritaku masih tentang dia

si bungsu malang yang masih rapuh

Yang masih bergulat dengan trauma

Yang masih mencari ujung bahagia

Aku mencoba meminta pada malam

Untuk menemani sepinya

Aku mencoba menitip bahagia

Berharap rembulan bisa menjadi perantara

Malam ini masih ku tulis cerita

Tentang si bungsu malang

Yang coba ku sampaikan

Lewat perantara bait-bait puisiku

Meski terlihat samar,

Semoga syair demi syairku

Bisa menjadi pengobat rindu

Untuk si bungsu malang

Kembali Berpuisi

Kembali berpuisi dengan kenyataan

Bait demi bait tersusun dengan rapi

Malamku semakin larut

Inspirasi pun semakin rapuh

Sunyi… semakin mencekam

Suara riuh jalanan seakan ikut terkunci

Gelap mencekam,,,

tanpa sinar bulan dan tanpa kerlipnya bintang

Aku coba bersenandung dengan pilu

Berharap,,, bisa melebur dan bersatu

Renungan malamku,,,

kembali terusik dengan kenyataan dalam genggaman

Tubuhku menggigil hebat,,,

Sehelai kain yang melapisi, tak mampu menjadi penghangat

Dan sehelai kapas putih di tangan, tak mampu membendung air mata

Apa,,,

Apa yang sedang mengganggu lelapku

Sehingga mataku terjaga tanpa kedipan

Pikirkanku kembali pada 5 tahun silam

Saat dewasa belum menjadi racun bagi lelapku

Kembali ku saksikan

Sebuah bait yang seakan menjadi tamparan

Yang menggiringku semakin menjauh dari kenyamanan

Aku mulai capek

Yah,,,  aku capek dengan segala kenyataan

Yang menekan hasratku untuk tetap diam

Dingin bagai tak tersentuh hangat

Langkah kakiku kembali ku pijak, pada tanah tandus tak berpenghuni

Menembus setiap lorong hampa, untuk mencari secercah inspirasi

Kembali ku arungi samudra

Sampai sang sinar jingga menyapa dan mampir memberikan ilusi bahagia

Kemudian,,, kembali pergi menyisihkan duka

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *