Hari Pendidikan Nasional

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd

TIAP tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Berdasar tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantoro.

Siapa Ki Hajar? Beliau dilahirkan di Yogyakarta sebagai keluarga kraton. Oleh karenanya, beliau mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan sampai ke bangku perguruan tinggi.

Belanda sebagai penjajah jelas menerapkan politik diskriminasi. Lulusan sekolah ongko loro disebut menungso seprapat (manusia ¼). Sedangkan lulusan Mulo disebut menungso separo (manusia ½). Golongan bangsawan diberi status Indo Belanda.

Dalam roman Salah Asuhan, Hanafi sampai harus meninggalkan budaya Minang-nya hanya agar bisa diterima keluarga Corie yang noni Belanda.  Hanafi harus tampil kebarat-baratan dengan memakai pentalon, bermain tenis, dan minum alkohol sambil dansa-dansi.

Ki Hajar yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjoningrat menempuh pendidikan dokter di STOVIA Surabaya, sekarang Unair. Beliau masuk kampus ketika para mahasiswa bangsawan ini resah terhadap perlakuan diskriminasi penjajah.

Kebanyakan yang kuliah di STOVIA bercita-cita kawin dengan noni Belanda, agar naik status sosialnya. Tidak terkecuali Soetomo, pendiri Budi Utomo. Tahun 1908, ia mendirikan organisasi untuk tujuan Indonesia merdeka. Namun perjuangan Budi Utomo layu sebelum berkembang.

Soetomo memilih menikah dengan noni Belanda dan fokus bekerja. Beruntung semangat Budi Utomo diteruskan oleh tiga serangkai : Wahidin Sudirohusodo, Douwes Dekker, dan Soewardi. Di antara ketiganya, Soewardi yang paling lantang menyuarakan ketidakadilan Belanda.

Tahun 1913 Ki Hajar menulis di koran dengan judul tulisan “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Mengecam pemerintah Belanda yang menarik iuran untuk merayakan kemerdekaannya dari Prancis. Padahal Belanda sedang menjajah Indonesia. Ini namanya pengingkaran akal sehat.

Sontak Belanda marah. Soewardi dipecat dari STOVIA dan dibuang rencananya ke Banda Naire. Namun karena beliau cucu raja maka diijinkan “dibuang” ke negeri Belanda. Mengajak istrinya juga. Soewardi mengambil kursus keguruan.

Pada tahun 1919, ia pulang ke Indonesia dan bergabung dengan kakaknya, Ki Supayoko, mendirikan Sekolah Taman Siswa. Tahun 1922, Soewardi menggunakan nama Ki Hajar Dewantara untuk bergiat di dunia pendidikan.

Cabang Taman Siswa berkembang di beberapa kota. Sampai akhirnya tahun 1928, diadakan Kongres Pemuda kedua di Jakarta. Muh Yamin mengklaim ini Kongres Pemuda se-Indonesia. Padahal cuma kumpulan pemuda yang lagi kost di seputaran kampus Salemba UI. Kita tahu gerakan Yamin ini menjadi tonggak sejarah kedua setelah Budi Utomo. Sumpah Pemuda menyatakan “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa : Indonesia”.

Belanda geram. Dicari alasan untuk membungkam semangat kebangsaan, terutama pemuda. Dipilih Sekolah Taman Siswa, karena dianggap ikut menyebarkan faham kebangsaan kepada murid-muridnya. Tahun 1932, Belanda mengeluarkan apa yang diistilahkan sebagai ordonasi sekolah luar : sekolah yang tidak menginduk ke pemerintah Belanda harus membayar pajak yang tinggi.

Karena Taman Siswa tidak kuat membayar pajak, maka datang truk militer Belanda merampas meja bangku serta mesin ketik Sekolah Taman Siswa. Sekolah Taman Siswa libur gara-gara peralatan belajar disita Belanda.

Ki Hajar berontak. Kirim telegram ke ketua Vollkard, yang saat itu dipimpin Husni Thamrin: “Bagaimana ini, mau mencerdaskan anak bangsa saja diberangus seperti ini, ini kedzaliman”.

Vollkard bersidang dan memutuskan semua partai politik mendukung perjuangan Ki Hajar dan menginstruksikan semua partai yang ada untuk mengumpulkan dana lewat kaleng-kaleng untuk menampung sumbangan warga koin demi koin yang dikumpulkan untuk menebus membayar pajak yang dibebankan kepada Sekolah Taman Siswa.

Setelah cukup dana terkumpul, Ki Hajar dengan membawa cikar mendatangi tangsi Belanda. Setelah menyelesaikan pembayaran, meja kursi mesin ketik dibawa kembali ke sekolah. Murid dan guru saling berpelukan haru karena sekarang bisa belajar mengajar kembali. Melihat gerakan massa, tahun 1933 Belanda mencabut ordonasi sekolah luar.

Dua belas tahun kemudian Indonesia Merdeka. Ki Hajar menjadi Menteri Pengajaran pertama RI, tapi tidak lama. Ki Hajar kembali ke Yogya membesarkan Taman Siswa. Tahun 1959, beliau wafat dengan meninggalkan sesanti peletak dasar pendidikan di Indonesia : Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Di depan memberi contoh

Di tengah membangun semangat

Di belakang memberi dorongan

Hal yang dipelesetkan oleh Rocky Gerung sebagai :

Ing ngarso sung korupsi

Ing madyo mangun dinasti

Tut Wuri cawe cawe

Terjadi lagi pengingkaran akal sehat.

Selamat Hari Pendidikan Indonesia. Bangsa yang maju adalah bangsa yang sehat jasmani dan pikirannya. Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya untuk Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya yang digunakan Ki Hajar untuk dijadikan tujuan pendidikan nasional saat beliau diangkat menjadi Menteri Pengajaran.

Satu lagi, dokter-dokter adalah peletak dasar perjuangan kemerdekaan Indonesia lewat Budi Utomo. Wahidin, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo adalah dokter-dokter yang bukan hanya mengobati fisik pasien. Tapi juga mengobati cara berpikir rakyat Indonesia untuk jangan mau dijajah. Bravo dokter Indonesia. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *