Sejarah Berdirinya TK ‘Aisyiyah Singaraja

  • Oleh Sriyani Sadikin ———— Bagian 1

PADA tahun 2024 ini, Taman Kanak-Kanak (TK) ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja berusia 70 tahun. Didirikan pada tahun 1 April 1954, TK ‘Aisyiyah Singaraja merupakan TK tertua ketiga di Indonesia setelah TK di Yogyakarta dan di Aceh.

Bagaimana sejarah berdirinya TK ‘Aisyiyah Singaraja, berikut tulisan dari mantan Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Buleleng dua periode (2000-2005 dan 2005-2010), Hj. Sriyani Sadikin, A,mA.Pd. SuaraMu Buleleng.com menurunkan tulisan Sejarah Berdirinya TK ‘Aisyiyah Singaraja Bali secara bersambung dimulai edisi pertama ini.  

Pendahuluan

Kehadiran organisasi ‘Aisyiyah di Buleleng sejatinya tidak lepas dari sejarah keberadaan persyarikatan Muhammadiyah di Bali. Sebagai sayap perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah selalu bekerjasama dan bersinergi dalam mengembangkan program kerja, serta kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. 

Di daerah Buleleng, wilayah pesisir pantai utara pulau Bali ini, kehadiran ‘Aisyiyah, menurut catatan sejarah, bersamaan waktunya dengan terbentuknya Pengurus Muhammadiyah Cabang Singaraja pada tahun 1939. Sebagai sebuah organisasi besar, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang memiliki cabang merambah hampir di seluruh bagian wilayah di Indonesia dan telah memiliki berbagai amal usaha seperti sekolah, rumah sakit, panti asuhan dan lain sebagainya. Demikian juga di daerah Buleleng, ‘Aisyiyah mengelola beberapa amal usaha yang sampai saat ini masih tetap berjalan.

Salah satu fokus perhatian dalam tulisan singkat ini adalah akan menguak sedikit tentang sejarah salah satu amal usaha ‘Aisyiyah pada masa kolonial dan pasca kemerdekaan. Amal usaha di bidang pendidikan yang dikelola ini, ada pada dua masa yang berbeda. Bahkan salah satunya telah berusia tujuh puluh tahun.

Oleh karena itu, dilihat dari segi sejarah, lembaga pendidikan yang berada di tengah-tengah penduduk dengan mayoritas beragama Hindu ini menjadi hal yang sangat menarik untuk ditulis, meskipun kelangkaan sumber menyebabkan tulisan ini menjadi sangat terbatas.  

Peresmian nama “Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Singaraja oleh Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Buleleng, Ibu Mariani Sariman. Lokasi Gedung TK ‘Aisyiyah Jl. Merak Singaraja. Foto tahun 1969

Bagian Pertama : Periode Kolonial

Seperti halnya di daerah lain, pada masa kolonial Belanda, nasib kaum pribumi yang terjajah adalah masyarakat yang terbelakang baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Kolonialisme di Indonesia dengan segala akibat yang dirasakan telah menyadarkan bangsa Indonesia akan nasib masa depan bangsanya. 

Kesadaran akan pentingnya mencapai kemajuan untuk membebaskan diri dari belenggu keterbelakangan telah mendorong aktivis ‘Aisyiyah, Muhammadiyah di daerah Buleleng, secara bersama-sama untuk mengambil peran dan tanggung jawab sosialnya terhadap perbaikan nasib bangsanya. 

Pada masa awal berdirinya ‘Aisyiyah di Buleleng dengan berbagai programnya yang telah dicanangkan, ‘Aisyiyah di kota Singaraja pada tahun 1940 telah merintis berdirinya lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak yang operasionalisasinya diserahkan kepada kader-kader muda Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA). Sekolah Taman Kanak-Kanak pertama yang didirikan tersebut diberi nama “Taman Peladjaran Poetri Nasijatoel Aisijah”. Namun demikian, perlu dicatat, sebelumnya Muhammadiyah telah terlebih dahulu mendirikan sekolah HIS Met de Qur’an tahun 1939, setingkat dengan sekolah dasar pada masa kini. 

Berdirinya Taman Kanak-Kanak tersebut dipandang sebagai sebuah inovasi baru dan luar biasa menurut ukuran zamannya. Pada masa kolonial, lembaga pendidikan semacam itu adalah hal yang masih asing bagi sebagian besar rakyat kita yang masih dalam keadaan buta huruf.

Oleh karena itu, kehadiran lembaga pendidikan ini mendapat respon positif dari komunitas muslim, khususnya yang berada di kota Singaraja. Siswa-siswi sekolah TK yang mendaftar di sekolah ini adalah anak-anak yang berada tidak jauh dari lokasi sekolah dan pada umumnya orang tua mereka adalah aktivis Muhammadiyah atau sekurang-kurangnya mereka yang bersimpati dengan gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. 

Sekolah yang menempati bangunan sederhana itu terletak di wilayah Kampung Bugis (sekarang Jalan Pattimura Singaraja) merupakan pinjaman dari salah satu warga yang bersimpati dengan ‘Aisyiyah. Gedung yang menyerupai bangunan rumah yang memanjang ini memiliki tiga kelas dengan jumlah siswa laki-laki dan perempuan sekitar hampir tiga puluh orang. 

Seperti lazimnya di sekolah Taman Kanak-Kanak, para siswa-siswi diajarkan berbagai pengetahuan dasar yang bernuansa permainan, disamping unsur bermainnya yang lebih dominan. Dalam rangka pembentukan karakter keislaman, maka penanaman nilai-nilai yang Islami menjadi prioritas dalam proses belajar mengajarnya. Guru-guru yang mengajar pada umumnya adalah tenaga suka rela yang tanpa pamrih mengabdikan dirinya demi masa depan bangsanya. 

Berdirinya Taman Kanak-Kanak ini dipimpin oleh seorang kepala sekolah bernama Analis M. Amin, yang merupakan kader muda ‘Aisyiyah lulusan Muallimat Jogyakarta. Ia juga dikenal sebagai aktivis Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) yang sangat militan. Apalagi ketika pecah revolusi fisik menjelang Indonesia Merdeka, ia terlibat dalam dunia pergerakan sebagai srikandi bersama para pejuang lainnya di kota Singaraja. Karena perannya begitu penting dalam menggelorakan semangat pejuang sehingga ia menjadi sasaran operasi dan buronan oleh pasukan pendudukan Jepang. 

Dalam perkembangan selanjutnya, sekolah yang tergolong belum lama berdiri ini, pada masa pertumbuhannya dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan. Situasi perang dunia yang melanda di berbagai belahan dunia telah menyebabkan perubahan peta kekuasaan kolonialisme di tanah air.

Telah terjadi perubahan kekuasaan dari pemerintahan kolonial Belanda beralih ke pemerintahan militer Jepang. Munculnya kebijakan pemerintah pendudukan Jepang yang mengambil-alih kekuasaan dari pemerintah kolonial Belanda, telah membatasi bahkan melarang sekolah-sekolah yang dikelola kaum pribumi yang menggunakan sistem Belanda untuk beroperasi. 

Tampaknya pemerintah pendudukan Jepang memiliki keinginan untuk menghilangkan sama sekali pengaruh pendidikan Belanda di tengah rakyat kaum pribumi di Indonesia. Pemerintah pendudukan Jepang ingin mengganti sistem pendidikan kolonial Belanda untuk kepentingan politiknya.

Sebagai akibatnya adalah nasib sekolah yang dikelola kaum pribumi ini harus menyesuaikan diri dengan kebijakan penguasa baru. Situasi semacam ini tentu sangat berpengaruh besar terhadap nasib masa depan sekolah yang baru beberapa tahun didirikan.

Masa transisi dari pemerintah kolonial Belanda kepada pemerintah pendudukan Jepang dan dilanjutkan masa menjelang kemerdekaan bangsa Indonesia telah banyak menguras perhatian dan tenaga para aktivis organisasi, sehingga amal usaha yang telah dirintis kurang mendapat fokus perhatian yang seharusnya. 

Para guru pada awalnya yang bertekad sepenuhnya untuk mengabdikan dirinya dalam persyarikatan pada akhirnya satu per satu tidak dapat lagi mengajar. Bahkan kepala sekolah yang masih muda belia dan merupakan kader tangguh serta militan telah ikut terjun langsung di medan gerilya. Ia telah melibatkan dirinya menjadi pejuang wanita dan menjadi bagian dari pasukan gerilya yang ada di daerah Buleleng pada masa itu. 

Dapat dikatakan bahwa panggilan jiwa nasionalismenya untuk memerdekakan bangsanya dari cengkraman penjajah telah memaksanya meninggalkan sementara akan cita-cita luhurnya untuk mencerdaskan bangsanya.

Sementara itu situasi sosial dan politik yang berkembang di tanah air saat itu sudah tidak memungkinkan lagi sekolah yang telah dirintis itu bisa dipertahankan. Berbagai faktor baik internal maupun eksternal yang menyertainya telah menyebabkan sekolah ini berada dalam ancaman ditutup.

Lembaga pendidikan sebagai bentuk amal usaha itu pada akhirnya harus menerima sebuah kenyataan. Ia harus mati sebelum berkembang. Pemerintahan pendudukan Jepang telah mengambil kebijakan politik untuk membekukan seluruh sekolah yang dikelola kaum pribumi pada masa penjajahan itu. 

Namun demikian, cita-cita luhur dari pejuang kemerdekaan itu tidak akan pernah padam untuk memajukan bangsanya. Dan sejarah telah mencatat bahwa ‘Aisyiyah Buleleng pada masa lalu pernah mengambil peran strategis dalam upaya membebaskan bangsanya dari keterbelakangan. 

Bagaimana pun juga, ‘Aisyiyah telah ikut mewarnai dinamika dunia pendidikan di kota Singaraja dengan merintis berdirinya sebuah lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak yang didirikan pada masa penjajahan kolonial Belanda itu. 

Amal usaha pertama milik ‘Aisyiyah ini bukan saja telah menjadi tonggak sejarah perubahan sosial pendidikan di tengah-tengah belenggu penjajahan kolonial, tetapi ia juga telah menjadi inspirasi perjuangan bagi generasi berikutnya dalam menyongsong era kemerdekaan. (Bersambung)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *