Dari Lubang Buaya ke Panggung Sejarah : Tragedi G30S PKI

Oleh Lensa Muda

PERISTIWA G30S 1965 adalah salah satu tragedi besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa ini juga dikenal dengan sebutan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) dan Gestok (Gerakan Satu Oktober) yang terjadi pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965.

Pada peristiwa G30S/PKI 1965, sepuluh tokoh bangsa gugur dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi. Sebanyak tujuh jenderal Angkatan Darat beserta ajudannya, Lettu Pierre A. Tendean, menjadi korban penculikan di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Di Yogyakarta, Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto juga tewas akibat aksi serupa. Selain itu, AIP II Karel Satsuit Tubun, ajudan Jenderal Nasution, gugur saat baku tembak di rumah sang jenderal. Setelah peristiwa ini, muncul pengumuman dari kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September.

Peristiwa ini terjadi di masa pemerintahan Presiden Soekarno dengan sistem Demokrasi Terpimpin, di mana PKI merupakan partai besar dengan sekitar 3,5 juta anggota pendukung, serta menguasai berbagai organisasi massa, termasuk serikat buruh dan petani. PKI mendukung aliansi NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis) dan sempat mengusulkan pembentukan “Angkatan Kelima” yang terdiri dari pendukung bersenjata, namun ditentang militer.

Sejak 1 Oktober 1965, PKI dituding sebagai dalang peristiwa. Tuduhan ini membuka jalan bagi pembubaran PKI, penangkapan massal, hingga peristiwa pembantaian terhadap ratusan ribu orang yang dituduh terlibat atau bersimpati pada PKI. Peristiwa ini juga menjadi titik balik sejarah, kekuasaan Presiden Soekarno melemah, dan munculnya Orde Baru dibawah Soeharto.

Untuk mengenang jasa para Pahlawan Revolusi, berikut disajikan biografi singkat dari para tokoh yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Riwayat hidup mereka menjadi pengingat tentang pengabdian tanpa pamrih kepada bangsa dan negara.

Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani

Jenderal Ahmad Yani adalah salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia yang dikenal sebagai sosok pemberani, disiplin, dan setia kepada bangsa. Ia lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Juni 1922. Sejak muda, Ahmad Yani menunjukkan minat besar pada dunia militer. Ia menempuh pendidikan militer di tentara PETA (Pembela Tanah Air) pada masa pendudukan Jepang, lalu melanjutkan pendidikannya hingga ke luar negeri, yaitu di Amerika Serikat dan Inggris.

Karier militernya cemerlang. Ahmad Yani pernah terlibat dalam berbagai operasi penting, seperti penumpasan pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dan PRRI/Permesta di Sumatera. Karena dedikasinya, ia kemudian dipercaya menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat pada tahun 1962.

Namun, perjalanan hidupnya terhenti tragis pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan yang menamakan dirinya “Gerakan 30 September” menculik dan menembak Ahmad Yani di rumahnya, lalu membawa jenazahnya ke Lubang Buaya. Bersama enam perwira tinggi lainnya, ia kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Ahmad Yani dikenang sebagai sosok yang tegas, berjiwa nasionalis, serta selalu mendahulukan kepentingan bangsa daripada pribadi. Namanya kini diabadikan sebagai Bandara Ahmad Yani di Semarang, jalan raya, serta berbagai fasilitas publik di Indonesia.

Letjen (Anumerta) Suprapto

Letjen Suprapto, atau Raden Suprapto (20 Juni 1920 – 1 Oktober 1965), adalah seorang Pahlawan Revolusi Indonesia yang menjadi korban peristiwa G30S/PKI. Ia lahir di Purwokerto, menempuh pendidikan militer, dan memiliki karier yang cemerlang di Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia pernah menjabat sebagai ajudan Panglima Besar Sudirman, Kepala Staf Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro, dan Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Masa Pendudukan Jepang ia sempat menjadi tahanan Jepang namun berhasil melarikan diri dan mengikuti berbagai latihan kemiliteran bentukan Jepang. Suprapto bergabung dengan TKR setelah kemerdekaan. Ia aktif di Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan terlibat dalam pertempuran melawan Sekutu di Ambarawa. Suprapto turut serta dalam pertempuran Ambarawa dan pernah menjadi ajudan Panglima Besar Sudirman.

Karier militer Raden Suprapto berjalan lancar hingga ia menjadi mayor jenderal saat peristiwa G30S 1965. Malam itu, Pasukan Cakrabirawa menjemputnya di rumah dengan alasan perintah Presiden Soekarno. Menurut kesaksian putrinya, Ratna Purwati, keluarga yang sedang tertidur tidak mengetahui penjemputan tersebut.

Ia merupakan salah satu korban peristiwa G30S/PKI yang gugur di Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Letnan Jenderal Anumerta Pahlawan Revolusi. Setelah gugur, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Letjen (Anumerta) Siswondo Parman

Letjen (Anumerta) Siswondo Parman atau S. Parman adalah salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia yang dikenal sebagai perwira intelijen yang cerdas dan berpengalaman. Ia lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918.

Semasa muda, ia menempuh pendidikan di HIS, MULO, dan AMS di Yogyakarta, lalu sempat kuliah di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta sebelum terhenti karena kedatangan Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, S. Parman bekerja sebagai penerjemah untuk Kempetai dan mendapat pelatihan intelijen di Jepang.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berkarier di bidang militer hingga dipercaya menjadi Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Pada 1951, ia menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan kemudian bertugas di Kementerian Pertahanan.

Ia juga pernah menjadi Atase Militer RI di London sebelum akhirnya menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal. Kedekatannya dengan bidang intelijen membuatnya mengetahui banyak tentang rencana PKI, sehingga menjadi salah satu target utama gerakan tersebut.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, S. Parman diculik pasukan G30S/PKI dan dibunuh di Lubang Buaya. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas pengorbanannya, ia mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi Letnan Jenderal dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi pada 5 Oktober 1965. Namanya dikenang sebagai sosok yang setia dan berani dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Letjen (Anumerta) Mas Tirtodarmo Haryono

Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924. Sejak muda, ia telah menunjukkan ketekunan dalam menuntut ilmu. Pendidikan dasarnya ditempuh di ELS, kemudian dilanjutkan ke HBS. Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat belajar di Ika Dai Gakko, sebuah sekolah kedokteran di Jakarta, meski akhirnya tidak menyelesaikan pendidikannya di sana.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Haryono bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mendapat pangkat mayor. Karier militernya terus menanjak, dan ia dipercaya memegang berbagai tugas penting. Haryono pernah menjadi Sekretaris Delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda, serta ditunjuk sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan untuk urusan gencatan senjata. Ia juga turut berperan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pernah bertugas di Belanda sebagai Atase Militer.

Karier gemilang itu terhenti tragis pada peristiwa G30S/PKI. Pada dini hari 1 Oktober 1965, rumahnya didatangi oleh pasukan Tjakrabirawa. Haryono ditembak mati, lalu jasadnya dibawa ke Lubang Buaya. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 5 Oktober, jenazahnya ditemukan di sebuah sumur tua dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Atas pengorbanannya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.

Mayjen (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan

Donald Isaac Pandjaitan atau dikenal sebagai D.I Pandjaitan yaitu adalah salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia yang mendapatkan pangkat militer Mayor Jenderal TNI Anumerta. Lahir pada 9 Juni tahun 1925 di Balige, Hindia Belanda. Ia lahir dari pasangan Herman Panjaitan dan Dina Pohan. Semasa ia kecil, ia diberi nama panggilan Donald.

Donald dapat menjadi anggota militer karena ia bergabung dalam Giyugun, atau pasukan tentara sukarela yang ditegakkan Jepang. Dari situlah awal perjalanan beliau sampai menduduki jabatan sebagai Jenderal Anumerta. Donald pun menjadi tangan kanan Jenderal Ahmad Yani, yang ternyata membuat beliau masuk ke dalam daftar penculikan kelompok tentara pimpinan Letnan Kolonel Untung (PKI).

Pada dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok anggota Gerakan 30 September mendatangi rumah Pandjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dengan cara memaksa masuk sambil melepaskan tembakan. Saat sedang berdoa, Pandjaitan tertembak di bagian kepala.
Jenazahnya kemudian diangkut menggunakan truk ke Lubang Buaya dan baru ditemukan pada 4 Oktober. Keesokan harinya, ia dianugerahi kenaikan pangkat anumerta menjadi Mayor Jenderal serta ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Isaac dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo

Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo dikenal sebagai seorang perwira tinggi yang memiliki integritas tinggi dan memegang peranan penting dalam penegakan hukum di lingkungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1922.

Salah satu momen penting dalam kariernya adalah ketika ia diangkat menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto, seorang tokoh militer yang sangat dihormati. Pengalaman mendampingi Jenderal Gatot Soebroto memberikan banyak pelajaran berharga tentang kepemimpinan dan strategi militer Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung. Latar belakang pendidikannya serta pengalamannya di bidang hukum militer mengantarkannya untuk diangkat menjadi Inspektur Kehakiman/Jaksa Militer Utama pada tahun 1961 dengan pangkat Kolonel. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal.

Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan yang merupakan bagian dari Gerakan 30 September mendatangi kediaman Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat. Dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno, mereka menculiknya dan membawanya ke daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Di Lubang Buaya, Brigjen Sutoyo bersama dengan perwira tinggi Angkatan Darat lainnya disiksa dan dibunuh secara keji. Jenazahnya kemudian dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama dengan para korban lainnya. Jasad para pahlawan ini baru ditemukan pada tanggal 4 Oktober 1965.

Atas pengorbanan dan jasa-jasanya kepada negara, Sutoyo Siswomiharjo dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Mayor Jenderal. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, bersama dengan para Pahlawan Revolusi lainnya.

Brigjen (Anumerta) Katamso Darmokusumo

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Darmokusumo lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 5 Februari 1923. Ia merupakan putra dari pasangan Ki Sastrosudarmo dan Kasiyem Sastrosudarmo. Dalam kehidupan rumah tangganya, Katamso menikah dengan Rr. Sriwulan Murni dan dikaruniai tujuh orang anak, terdiri atas lima putra dan dua putri.

Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo menempuh pendidikan hingga tingkat MULO, yang setara dengan SMP pada masa Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, ia mengikuti pendidikan militer di PETA (Pembela Tanah Air).

Ketekunan dan kemampuannya membuat Katamso dipercaya sebagai Budanco (komandan regu), lalu naik menjadi Shodanco (komandan peleton) di Solo. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Katamso bergabung dengan BKR yang kemudian berkembang menjadi TKR, cikal bakal TNI. Ia terlibat aktif dalam berbagai operasi militer, termasuk perlawanan terhadap Belanda pada masa Agresi Militer.

Dalam perjalanan kariernya, ia juga berperan dalam menumpas pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah yang terkait dengan gerakan DI/TII. Tahun 1958, Katamso dipercaya menjadi Komandan Batalyon “A” Komando Operasi 17 Agustus di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani, untuk menghadapi pemberontakan PRRI/Permesta.

Karier militernya terus menanjak hingga akhirnya menjabat sebagai Komandan Korem 072/Kodam VII/Diponegoro di Yogyakarta. Tragedi menimpa Katamso saat peristiwa G30S. Pada 1 Oktober 1965, ia bersama Kepala Staf Korem, Letnan Kolonel Sugiyono, diculik dari kediamannya oleh anggota Gerakan 30 September di Yogyakarta.

Katamso dieksekusi secara kejam di Kentungan. Ia dipukul di bagian kepala dengan kunci mortir hingga sekarat, lalu dilempari batu hingga meninggal dunia. Jasadnya baru ditemukan pada 21 Oktober 1965 dan dimakamkan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepada Katamso melalui Keputusan Presiden No. 118/KOTI/Tahun 1965 pada 19 Oktober 1965. Pangkat terakhirnya sebagai Kolonel Infanteri kemudian dinaikkan secara anumerta menjadi Brigadir Jenderal TNI. Namanya kini dikenang sebagai salah satu putra bangsa yang rela berkorban demi tegaknya kemerdekaan dan keutuhan Republik Indonesia.

Kolonel (Anumerta) Sugiyono Mangunwiyoto

Kolonel Infanteri (Anumerta) Raden Sugiyono Mangunwiyoto adalah salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia. Ia lahir di Gunungkidul, Yogyakarta, pada 12 Agustus 1926, sebagai anak kesebelas dari 14 bersaudara. Sejak muda, Sugiyono menunjukkan minat pada dunia militer, terutama setelah masa pendudukan Jepang.

Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan meniti karier militer dengan berbagai jabatan penting, mulai dari Komandan Seksi hingga Komandan Batalyon 411/Banteng Raiders III. Pada 1965, ia menjabat sebagai Kepala Staf Korem 072/Pamungkas Kodam VII/Diponegoro di Yogyakarta dengan pangkat Letnan Kolonel. Ia dikenal sebagai perwira yang cerdas, berani, dan disiplin.

Dalam kehidupan pribadi, Sugiyono menikah dengan Supriyati dan dikaruniai tujuh orang anak. Meski sibuk dengan tugas militer, ia dikenal sebagai sosok ayah yang penuh kasih dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.

Pada 1 Oktober 1965, saat peristiwa G30S merambah Yogyakarta, Sugiyono diculik, disiksa, dan dibunuh oleh kelompok yang terpengaruh ideologi komunis. Jenazahnya baru ditemukan pada 21 Oktober dan dimakamkan di TMP Kusuma Negara, Yogyakarta. Atas jasanya, ia dianugerahi kenaikan pangkat anumerta menjadi Kolonel dan ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi pada 5 Oktober 1965.

Kapten (Anumerta) Pierre Tendean

Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andries Tendean adalah salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia yang dikenal karena keberanian dan pengorbanannya. Ia lahir di Batavia (Jakarta) pada 21 Februari 1939 dari keluarga terpelajar, anak kedua dan satu-satunya putra dari tiga bersaudara. Ayahnya, Dr. A.L. Tendean, adalah seorang dokter spesialis kejiwaan asal Minahasa, sementara ibunya, Maria Elizabeth Cornet, berdarah Belanda-Prancis.

Sejak muda Pierre menempuh pendidikan militer dan lulus dari Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) pada tahun 1962. Ia kemudian bertugas di Medan sebelum diangkat menjadi ajudan pribadi Jenderal A.H. Nasution pada 1965. Dedikasi dan ketegasannya membuatnya dipercaya dalam tugas-tugas penting meski masih berusia muda.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, saat pasukan G30S menyerbu rumah Nasution, Pierre dengan berani mengaku sebagai sang jenderal demi menyelamatkan atasannya. Ia kemudian ditangkap, disiksa, dan dibunuh di Lubang Buaya pada usia 26 tahun. Atas jasanya, Pierre Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namanya kini dikenang sebagai teladan kesetiaan seorang prajurit kepada bangsa dan negara.

A.I.P. II (Anumerta) Karel Satsuit Tubun

Karel Satsuit Tubun atau KS Tubun lahir di keluarga sederhana dan setelah selesai sekolah dasar pada tahun 1941, ia tidak dapat melanjutkan pendidikan lebih tinggi karena keterbatasan ekonomi.
Kariernya bermula saat ia bergabung dengan Kepolisian Negara dan mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Ambon pada 1951. Setelah itu ia bertugas di Brimob, ikut operasi di Aceh, pemberontakan PRRI/Permesta, serta operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, ketika pasukan G30S berusaha menculik Jenderal A.H. Nasution, KS Tubun yang bertugas sebagai salah satu pengawal rumah Wakil Perdana Menteri Leimena turut terkena serangan, meskipun bukan target utama operasi. Ia dibangunkan secara paksa, sempat melakukan perlawanan, namun akhirnya ditembak dan gugur.

Atas pengorbanannya dalam tugas, KS Tubun dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi melalui SK Presiden No. 114/KOTI/1965 dan dinaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda). Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Untuk mengenang jasanya, nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah kapal perang Republik Indonesia, yaitu KRI Karel Satsuit Tubun (356). (*)

*) Disarikan dari berbagai sumber
*) Penulis : Lensa Muda (Rizky Eka, Keyla Aulia, Rachel Leolita, Putri Nailah, Azzahra Firdaus, Sahara Faris, Keisya Fahira, Zubaidah Nacia, Aminah, Ayuztina Putri)

Mungkin Anda Menyukai

21 tanggapan untuk “Dari Lubang Buaya ke Panggung Sejarah : Tragedi G30S PKI

  1. kerenn banget, bisa mengingatkan kita semua agar tidak lupa dengan sejarah pahlawan kita dan supaya kita mengenang jasa pahlawan yang gugur, semangat terus untuk berkarya dan jagan pernah menyerah!

  2. Terima kasih penulis ‘Lensa Muda’ atas penyajian yang jelas dan ringkas tentang tragedi G30S/PKI ini. Artikel ini penting sebagai pengingat agar generasi muda tidak melupakan bab kelam sejarah bangsa. Semoga makin banyak tulisan sejarah seperti ini agar kesadaran kolektif tetap terjaga. Semangat untuk terus berkarya teman teman!

  3. kerenn banget, bisa mengingatkan kita semua agar tidak lupa dengan sejarah pahlawan kita dan supaya kita mengenang jasa pahlawan yang gugur, semangat terus untuk berkarya dan jangan pernah menyerah!

  4. kerenn banget, bisa mengingatkan kita semua agar tidak lupa dengan sejarah pahlawan kita dan supaya kita mengenang jasa pahlawan yang gugur, semangat terus untuk berkarya dan jangan pernah menyerah, pekerjaannya sudah rapi dan terlihat jelas kalau mengerjakannya dengan bersungguh sungguh, kerennn!

  5. dari pendapat saya, cerita sejarah ini dapat mempelajarinya dengan akurat dan jelas,dari kisah yang terjadi pada 7 pahlawan revolusi yang dihabiskan nyawa nya oleh para PKI itu mengapa disebut G30spki dimana malam hari itu mereka 7 jendral di cari kerumah oleh pasukan para PKI dan disitulah mereka di eksekusi di lubang buaya.

  6. Saya bangga dengan karya yang sudah kami buat bersama. Kerja sama tim membuahkan hasil yang semakin berkualitas. Untuk memperingati G30S/PKI kalian juga dapat menonton video ataupun membaca karya yang sudah kami buat. Semoga karya kami dapat bermanfaat untuk pembaca. Terimakasih.

  7. Tulisan ini informatif, mengingatkan jasa Pahlawan Revolusi, serta menumbuhkan nasionalisme dan cinta tanah air.

    Semangatt!!

  8. tragedi G30S/PKI adalah peristiwa kelam yang harus dikenang sebagai pelajaran agar bangsa Indonesia tidak terpecah kembali.

  9. “Semangat terus, generasi hebat! Kalian memiliki potensi luar biasa untuk menciptakan perubahan dan menginspirasi dunia. Teruslah berkarya, berinovasi, dan wujudkan impianmu!”

  10. Tulisan ini informatif, mengingatkan jasa Pahlawan Revolusi, serta menumbuhkan nasionalisme dan cinta tanah air.

    semangatt!!

  11. kerreennnnnnn bangettttttttt semangattt teruss yaa!! kaliann memiliki karya yang luar biasa dalam menciptakan rasaa cinta tanahh airr!!

  12. Karya tulis ini menunjukkan pemikiran yang matang dan terstruktur. Pemilihan kata yang tepat serta alur pembahasan yang runtut mencerminkan ketelitian penulis dalam menyampaikan gagasan. Kehadiran data, argumentasi, serta gaya bahasa yang jelas menambah nilai ilmiah sekaligus estetis, menjadikan tulisan ini tidak hanya informatif tetapi juga enak dibaca. Sebuah karya yang layak diapresiasi dan dijadikan inspirasi.

  13. kerreennnnnnn bangettttttttt semangattt teruss yaa!! kaliann memiliki karya yang luar biasa dalam menciptakan rasaa cinta tanahh airr kita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *