Sejarah Muhammadiyah Buleleng

Bagian 7 – Pengembangan Amal Usaha

Copy of Copy of Copy of Copy of Copy of Sejarah Sumberklampok, Desa di Ujung Barat – 1

Pengembangan Amal Usaha

SEIRING dengan berjalannya waktu, Persyarikatan Muhammadiyah Singaraja yang telah mengalami beberapa pergantian pengurus dari satu periode ke periode berikutnya, belum juga mampu melahirkan satu amal usaha apapun, kecuali HIS Muhammadiyah dan Taman Pelajaran yang sudah ditutup pada masa pendudukan Jepang. 

Hal ini cukup merisaukan sebagian kalangan pengurus persyarikatan, mengingat motto “Tidak ada Muhammadiyah tanpa amal usaha” dan “Berlomba-lombalah Kamu Berbuat Kebaikan”. Motto ini nampaknya memberikan motivasi yang sangat kuat dan semangat juang yang tinggi bagi aktivis Muhammadiyah untuk mewujudkan cita-citanya. Gerak langkah persyarikatan tampaknya memperoleh momentum untuk membangun amal usahanya kembali. 

Pendirian SMP Muhammadiyah Singaraja

Usaha-usaha perintisan pengembangan Muhammadiyah untuk memiliki amal usaha terus dilakukan, di antaranya untuk pendirian lembaga pendidikan tingkat menengah. Mengingat pada masa itu di lingkungan masyarakat muslim di kota Singaraja belum memiliki sekolah semacam itu. 

Sekitar pertengahan tahun 1964, ide untuk mewujudkannya telah muncul. Dan atas saran Imam Muhajir, kala itu sebagai Kepala Inspeksi Pendidikan Agama Wilayah, menunjuk Syahri Kasbaniputra dan Munawar Djoyoprayitno yang notabene aktivis Muhammadiyah, untuk membentuk MMU (Madrasah Menengah Umum). 

Namun sekolah ini tidak berjalan lama, karena berbagai kesulitan akhirnya pengurus MMU sepakat menyerahkan kepada pengurus Muhammadiyah Singaraja. Sebagai catatan, dari pihak pengurus Muhammadiyah sendiri sebenarnya telah membentuk Panitia Persiapan Pendirian SMP Muhammadiyah yang diselenggarakan pada tanggal 11 Maret 1965, di rumah Muhammad Syammakh.

Akhirnya keinginan pengurus MMU untuk berintegrasi dengan SMP Muhammadiyah dilakukan pada tanggal 1 Januari 1967, yang serah terimanya ditandatangani oleh Ibrahim Ramli, ketua dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Singaraja. Sedangkan pihak pengurus MMU diawasi oleh Mohammad Nasih selaku ketua majelis pendidikan yang menangani pengelolaan MMU.

Pada masa awal beroperasinya, ada sejumlah tenaga guru yang juga merupakan aktivis Muhammadiyah, yaitu Syahri Kashaniputra (Kepala Sekolah), Munawar Djoyoprayitno, Ramelan, M. Anwar BA, Zein Z. Jufri, Moch. Ichsan dan lain-lain. 

Sejak berdiri, SMP Muhammadiyah Singaraja telah mengalami pindah tempat beberapa kali, yaitu pertama, tahun 1967-1968, menempati gedung Baperk (bekas kantor milik etnis Cina) di Jalan Diponegoro Singaraja. 

Kedua, tahun 1969-1987 menempati gedung sendiri yang merupakan tanah wakaf dari anggota Muhammadiyal (Keluarga Shaleh Idris dan istri dari Bapak Ibrahim Ramli). Bangunan ini terletak di Jalan Imam Bonjol 28A Singaraja. Namun bangunan ini ditukarkan dengan tanah seluas 1.500 M2 yang terletak di Jalan Jatayu, Kelurahan Kaliuntu Singaraja. 

Kini SMP Muhammadiyah Singaraja masih berdiri dan berdampingan dengan SMA Muhammadiyah Singaraja yang dibangun kemudian (tahun 1988). 

Pendirian BKIA Muhammadiyah Singaraja

Selain amal usaha di bidang pendidikan yang telah berdiri, Muhammadiyah Cabang Singaraja juga mendirikan amal usaha di bidang kesehatan, yaitu BKIA Muhammadiyah. Amal usaha ini dibentuk guna memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan pada umumnya, meliputi rumah bersalin dan poliklinik.

BKIA Muhammadiyah yang berlokasi di Jalan Patimura didirikan pada tanggal 1 September 1970. Peresmiannya dilakukan oleh PWM Bali dan Pejabat Pemda Buleleng yang diwakili oleh Dewa Nyoman Teges, serta dr. Sandjojo dari Dokabu Singaraja.  Selain itu, hadir pula warga dan simpatisan Muhammadiyah.

Meskipun BKIA beroperasi di lingkungan komunitas muslim (Kampung Bugis), namun layanan kesehatan ini dimanfaatkan oleh masyarakat luas dari berbagai kalangan. Adapun tenaga perawat yang sebelumnya telah dilatih di RSU Singaraja, direkrut dari anggota NA (Nasyiatul Aisyiah), yaitu Sarimi I.R., Maria Fajeri, Bahria Abdul Halim, Rahmani Yahya, dan Nursari Ahmad Patah. (Bersambung)

*) Amoeng A. Rachman adalah Ketua Pustaka dan Informasi PD Muhammadiyah Buleleng

Keterangan Foto: Pengurus Aisyiyah menyiapkan penggalangan dana untuk amal usaha. Lokasi BKIA Muhammadiyah, Jl. Pattimura Singaraja, tahun 1977

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *