Menelusuri Jejak-jejak Kontribusi Muhammadiyah dalam Sejarah Bali

  • PAP Bedah Buku Perkembangan Muhammadiyah di Bali (Bagian 1)

PENGAJIAN Ahad Pagi (PAP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng yang digelar Ahad, 6 Oktober 2024, tampak berbeda. PAP kali ini membedah sebuah buku karya Guru Besar Sejarah Universitas Udayana, Prof. Dr.Phil. I Ketut Ardana.

Sebuah upaya menelusuri jejak-jejak kontribusi Muhammadiyah Bali, termasuk Muhammadiyah Buleleng, dalam perjalanan sejarah Bali. Sejak era penjajahan Belanda, Jepang hingga era Revolusi Fisik dan pemerintahan Orde Lama.

Tampil sebagai pembedah Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PD Muhammadiyah Buleleng, Drs. Amoeng A. Rachman, dan Kepala SMP Muhammadiyah 2 Singaraja, Imaduddin Syamil, S.Pd. Acara PAP bedah buku tersebut dimoderatorinya Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Buleleng, Muhammad Fardiansyah.

Amoeng memulai dengan mengingatkan warga Muhammadiyah tentang pentingnya memperhatikan sejarah, termasuk sejarah Muhammadiyah di Buleleng. “Kalau bicara sejarah, kita sangat prihatin. Harus kita akui secara jujur, kita sangat lemah, bahkan ini bagian yang terlantar di lingkungan kita (Muhammadiyah-red), sehingga kerugian yang kita rasakan sangat besar,” ujarnya.

Koordinator Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng ini, menceritakan bagaimana seorang penulis sejarah dari Amerika Serikat, Dr. Kevin, yang pernah melakukan pernah meneliti sangat kaget. “Kok sedikit sekali dalam catatan sejarah nasional tentang peran Muhammadiyah dalam Revolusi Fisik. Dia heran sekali,” paparnya.

Padahal, data-data dan fakta-fakta tentang peran Muhammadiyah dalam Revolusi Fisik itu sangat banyak berserakan. “Ini yang bicara orang luar. Kita tidak sadar kerugian-kerugian yang kita rasakan sekarang sangat besar, karena sejarah tidak dianggap penting. Mungkin orang menganggap kita belajar sejarah hanya menghafal tahun dan tempat saja. Tidak memahami secara lebih mendalam apa arti dan makna sejarah itu,” jelas Amoeng. 

Di Bali, sejarah masuknya Muhammadiyah di Bali sangat penting dibukukan karena perannya signifikan sekali. Sejarah Muhammadiyah di Bali merupakan mata rantai dari sejarah Islam di Bali. “Dan sejarah ini penting bagi kita sebagai minoritas. Ini akan selalu menjadi perhatian dan menarik,” katanya.

Menurut Amoeng, karena pentingnya penulisan sejarah Muhammadiyah, dalam suatu Muktamar Muhammadiyah, diamanatkan agar masing-masing Muhammadiyah di daerah menulis sejarahnya. “Alhamdulillah, amanah ni sudah dilaksanakan oleh beberapa daerah, walaupun saya tidak punya catatan pasti daerah mana saja yang sudah menulis sejarah Muhammadiyah. Sebab, ternyata hambatannya cukup banyak,” ungkapnya.

Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Bali sendiri, kata dia, sudah berusaha menulis sejarahnya. Amoeng mengaku diundang untuk ikut dalam tim penulisan sejarah Muhammadiyah Bali. Dikatakan, ternyata dalam perjalanannya upaya penulisan buku sejarah Muhammadiyah Bali itu tersendat-sendat dengan berbagai alasan. Penulisan sejarah itu tidak bisa dilaksanakan. 

“Mungkin karena kita minim tenaga sejarawan. Kedua, masalah waktu dan biaya yang sangat besar. Memang kalau ingin menghasilkan tulisan karya ilmiah yang standar, memerlukan tenaga dan waktu yang sangat besar,” tambahnya.

Oleh karena itu, menurut Amoeng, lalu dicoba mencari jalan lain. Ia teringat skripsi yang ditulis I Ketut Ardana, mahasiswa jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana, yang kemudian mendapat kesempatan untuk menyelesaikan kuliah melalui “Program Cangkokan” di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM. Untuk menyelesaikan studinya tersebut, Ketut Ardana harus membuat skripsi. Rupanya pilihan materi skripsinya tentang Muhammadiyah di Bali. 

“Saya menduga karena pembimbingnya sejarawan Dr. Kuntowijoyo, yang orang Muhammadiyah maka Ketut Ardana disuruh ambil tema Muhammadiyah,” katanya.

Saat Ketut Ardana melakukan penelitian di Buleleng tahun 1980-an, Amoeng mengaku saat itu menjabat sebagai Sekretaris PDM Buleleng. “Pak Ketut Ardana sempat melakukan penelitian ke Buleleng beberapa bulan. Sampelnya di Buleleng, Jembrana dan Denpasar,” ceritanya.

Setelah berhasil diselesaikan, Muhammadiyah meminta skripsinya itu diseminarkan di kalangan Muhammadiyah. Itu terjadi tahun 1986 ketika memperingati 25 tahun Perguruan Muhammadiyah di Denpasar. Seluruh warga Muhammadiyah di Bali hadir untuk membahas buku ini.

“Kita bersyukur ada orang yang mau menulis. Kalau tidak, bagaimana. Siapa yang bertanggungjawab tentang masa depan Muhammadiyah di Bali. Dan orang itu kebetulan orang luar. Jadi objektivitasnya bisa dijamin,” katanya.

Ia mengaku, naskah skripsi Ketut Ardana tersebut sempat hilang. Menurutnya, dirinya selama beberapa tahun mencarinya. “Saya seperti seorang detektif ke sana kemari mencari naskah ini,” kisahnya.

Menjawab pertanyaan moderator, Muhammad Fardiansyah, tentang pentingnya mengetahui sejarah Muhammadiyah Bali, Amoeng mengutip ungkapan seorang sejarawan. Bahwa jika ingin mengubah suatu bangsa, maka ubahlah sejarahnya. 

Ia mengatakan, sangat penting mengetahui sejarah Muhammadiyah di Bali, dan perannya dalam sejarah. Itu untuk memperkuat kepercayaan diri. Bahwa Muhammadiyah mempunyai peran penting dalam perjalanan Bali. Mulai dari era penjajahan Belanda, Jepang hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia memberi contoh peran tokoh Muhammadiyah Buleleng, Kapten Anang Ramli. Ia merupakan orang kedua dalam jajaran Pasukan I Gusti Ngurah Rai. “Dia orang yang dipercaya untuk melindungi I Gusti Ngurah Rai dalam perjalanannya dari Jawa ke Bali,” katanya.

Kapten Anang Ramli juga tokoh yang menurunkan bendera Belanda di Pelabuhan Buleleng, dan menggantinya dengan bendera Merah Putih. Peristiwa itu terjadi pada 27 Oktober 1945.

Atau juga tokoh Nasyiyatul Aisyiyah Buleleng, Analis M. Amin. Menurut Amoeng, Analis merupakan pejuang kemerdekaan. Ia menjadi Ketua Pemudi Pejuang Buleleng, yang memberi semangat pemudi di Buleleng untuk melawan Jepang maupun Belanda (NICA).  

“Jadi peran Analis ini bukan ecek-ecek. Dia ketua atau pimpinan Pemudi Pejuang di Buleleng. Dalam buku sejarah Pejuang Wanita ada komentar, ‘Ibu Analis ini yang memberi kita semangat untuk berjuang’. Pengakuan ini ada dari pihak lain. Hal ini kurang terekspos dan kita sendiri tidak tahu,” kata Amoeng. 

Jadi, kata tegas Amoeng, umat Islam, termasuk di dalamnya orang-orang Muhammadiyah, mempunyai peran sejarah penting di Bali ini. Tidak seperti yang dituduhkan AWK selama ini bahwa umat Islam datang ke Bali hanya cari makan saja. “Seolah-olah tidak ada kontribusi apa-apa. Mengapa AWK sampai bilang begitu. Pertama, mungkin dia tidak membaca sejarah. Jadi tidak tahu dia. Kedua, mungkin dia test case,” tegas Amoeng. (Bersambung)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *