Transformasi Diri

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

TIDAK ada jaminan orang makin kaya menjadi makin bahagia. Semakin tua bukan jaminan menjadi lebih bijak bestari. Tidak juga ada jaminan makin tua makin pintar. Menjadi tua tidak pula berarti segendang sepenarian dengan laku dewasa.  

Kecuali mencari kebenaran lewat keilmuan. Dengan cara menguasai bahasa. Inti bahasa adalah kata. Maka kata adalah hasil dari pemikiran. Dengan menguasai kata, kita bisa merangkai imajinasi kita, bisa dengan menulis, bisa dengan membaca, bisa dengan berbicara.

Dan yang lebih lagi, dengan kata kita bisa bertanya, mempertanyakan berada dimana kita sekarang. Dengan menulis ada kemungkinan kita bisa menemukan kata baru ketika hati berkelindan dengan angan. 

Maka tidak ada kata lain kecuali terus menimba ilmu. Semakin ditimba ilmu akan terus mengalir. Bahkan kita akan menemukan air yang semakin jernih, menyegarkan. 

Sampai saatnya tanganmu tidak kuat lagi menimba. Gunakan ilmu yang kau timba untuk membasuh, mensucikan diri dari debu dan kotoran sehingga engkau sampai pada kesimpulan. Batasanmu telah tiba. 

Biarkan dirimu nampak bodoh, di tengah tumbuh-kembangnya kepintaran baru. Di tengah kebenaran baru. Di tengah hiruk pikuknya pemikiran baru. 

Kita memang akan dianggap semakin kuno. Terbawa badan yang semakin renta. 

Terimalah takdirmu untuk menjadi tua, semakin bijaksana dan menerima. 

Tengok dunia, kau telah melewati masa dengan rangkaian kata. 

Karunia yang tidak terhingga, dengan ujian tiada henti, namun akhirnya kau bisa melewatinya. Dengan cinta. Dengan ketulusan tiada terkira, kau bisa menjadi yang kau idamkan. 

Air keilmuanmu membasuh luka. Kejernihan alam pikiranmu menghapus dengki. Kearifanmu membendung benci. 

Bersiaplah menuju alam keabadian. Sebagai wujud kepasrahan. Sekaya apapun, sepintar apapun. Semulia apapun. Semuanya akan nihil pada saatnya.

Belajar berpikir abstrak surealisme. Belajar berpikir konstruksiisme antara lain dengan bermain catur: mengolah logika non mistika. Belajar nihilisme dengan menghindar gaya hidup berdasar kepemilikan. Akhirnya lantas belajar tentang syariat dan makrifat:  hidup harus dilandasi kebermaknaan. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *