- Oleh Drs.Yuskardiman, M.Pd.
Ptah : maka timbullah bumi dan langit.
Ptah : maka timbullah bintang dan udara.
Ptah : maka timbullah sungai nil.
Ptah : maka timbullah tanah subur dan gurun.
Demikianlah firman Dewa Rah. Dewa yang disembah rakyat Mesir 6 ribu – 8 ribu tahun lalu.
Malaka menyebutnya logika mistika. Bertentangan dengan logika yang berdasar ilmu pengetahuan, penelitian dan eksperimen.
Logika ilmu pengetahuan lewat eksperimen sampai sejauh ini baru menghasilkan teori Evolusi Darwin. Dunia dan isinya tidak tercipta serta merta. Bermula ada sel inti yang lantas berproses berjuta-juta tahun menjadi tumbuhan, makhluk hidup bumi dan antariksa.
Awalnya kera, lantas simpase, gorilla lambat laun menjadi manusia. Sel-sel tadi juga membentuk bulan bintang dan matahari. Sesuai dengan fungsinya masing-masing yang kemudian bergerak sesuai hukum Gravitasi Newton, kemudian teori Relativitas Albert Einstein. Energi berubah bentuk untuk memulai kehidupan tidak pernah habis mengikuti hukum Kekekalan Energi Joule.
Seharusnya logika mistika terus mengali kebenaran lewat ilmu pengetahuan agar tidak percaya begitu saja.
Buya Hamka setuju pemikiran Tan Malaka bahwa beragama harus berilmu. Namun ilmu pengetahuan seperti air di ujung jari dibanding luasnya samudra ilmu Tuhan. Sementara agama dan filsafat beda pendekatan.
Agama percaya dulu, baru ragu-ragu dan mencari kepastian lewat ilmu pengetahuan.
Sedang filsafat ragu-ragu dulu baru percaya. Pengetahuan tidak bisa menjelaskan secara menyeluruh tentang kebenaran. Manusia butuh firman dan utusan untuk mendapatkan penjelasan kebenaran sejati dari Tuhan.
Tidak semua ilmu pengetahuan bisa menjelaskan hal sepele: berapa jumlah rambut di tubuh kita?
Oleh karenanya, memang manusia terus dengan ilmu pengetahuan menyingkap rahasia alam. Kebenaran baru datang mengganti kebenaran lama. Namun terlalu banyak rahasia alam yang belum terungkap. Untuk itu, diperlukan keyakinan yang disebut iman.
Teori Evolusi Darwin banyak mengandung kelemahan. Jika dunia tercipta karena adanya sel yang terbelah terus menerus, siapa yang menciptakan sel ?? Kalau ditanya begini, mereka balik bertanya: lantas apa mungkin alam semesta tercipta dalam sekejap ?
Ketika mencetuskan teori Relativitas, Einstein berkesimpulan: Tuhan super cerdas, menciptakan alam semesta tidak dengan bermain dadu.
Nah ilmuwan yang dibanggakan penganut faham logika saja percaya Tuhan.
Yuri Gagarin, manusia pertama keluar angkasa (jaraknya sekitar 3.200 km di atas bumi) tahun 1967 mengatakan: “Diluar angkasa tidak ada Tuhan”. Saat kembali parasutnya meleset dari target kapal yang mau menampungnya. Dan tenggelam. Kebetulan?
Kapal Titanic disombongkan kapal yang tidak mungkin tenggelam, oleh Tuhan sekalipun. Ternyata kandas. Dan tenggelam.
“Carilah dunia seperti kau tidak bakalan mati. Carilah akhirat seperti kau akan mati esok pagi”. Sabda Rasulullah Nabi Muhammad SAW ini sangat masuk akal sesuai logika. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

