Madilog (Materialisne, Dialektika, Logika)

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

KETIKA saya masih sering ke Jakarta, mampir ke rumah sepupu tertua. Uda, sepupuku, lagi baca Madilog. Obrolan kemudian tentang Tan Malaka.

Tokoh pemikir kiri kelahiran Payakumbuh yang dibesarkan di lingkungan agamis tapi kemudian filsafat tentang logika menentang keras logika mistika yang pola pikir manusia didasarkan pada pendekatan ruhani. Bukan berdasar riset dan fakta. Antara mistik dan agama berjarak tipis. Itulah kenapa Marxisme yang berdasar materialisme, dialektika dan logika tidak bisa memahami pemikiran spiritual akibat pengalaman ruhani. Anehnya buku Tan Malaka yang dikarang selama 8 bulan antara 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 sekarang sering dibahas oleh sebagian orang lewat Tiktok.

Semakin menarik karena yang menjadi narasumber adalah Hasan Nasbi, pemilik lembaga survei ternama Cyrus Network yang dilantik menjadi Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan pada Senin, 19 Agustus 2024 lalu. Dua hari sebelum munas Golkar. Tiga hari setelah putusan MK yang menghebohkan dan kemudian menyusul kejadian turunannya.  

Secara gamblang Nasbi menjelaskan, pemikiran Tan Malaka yang dilupakan. Masyarakat bisa maju jika sudah makmur begitu teori materialisme yang berdasar prinsip sama rata sama rasa. Prinsip ini dilaksanakan di Cina, Rusia, Vietnam, Korea Utara dan Cuba.  

Lantas dialektika hanya akan menghasilkan satu saja lembaga yang disebut Soviet. Tidak perlu ada trias politika, karena ketiga lembaga itu mudah disusupi kaum kapital. Yang terakhir semua harus berdasar logika. 

Melihat latar belakang Hasan Nasbi, kelahiran Bukittinggi tahun 1978. Dan masih kerabat Buya Syafi’i Ma’arif, saya menduga Nasbi sedang meninjau Madilog dari sisi filsafat. Bukan paham. Tapi bagaimanapun posisi Nasbi sebagai jubir presiden ikut membuat masyarakat menduga-duga. Buat apa membahas Madilog di tengah situasi demo yang lagi memanas. 

Akhirnya saya cari buku Madilog. Dan membacanya. Buku tebal 460 halaman dengan huruf kecil-kecil ini menyiksa mata. 

Tan Malaka pribadi keras, yang selalu memilih jalan konfrontasi. Itulah kenapa Madilog tidak begitu disukai. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *