- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
KENAPA kita males membicarakan politik, lebih baik fokus membicarakan cabang olahraga masing-masing. Lihat faktanya.
Penyelenggaraan Pilpres kemarin menelan Rp 71,2 triliun. Sementara untuk penghelatan PON Sumut-Aceh cuma Rp 512 milyar. Biaya politik jauh lebih jumbo dibanding anggaran untuk event olahraga nasional. Belum lagi anggaran untuk pilkada.
Kenapa dilakukan di Sumut dan Aceh? “Kebetulan” kedua provinsi ini dijabat oleh Pj. gubernur. Pejabat yang ditunjuk langsung oleh Presiden lewat Mendagri. Bukan hasil pemilihan. Jadi kesan politisnya terasa sekali. Tahu sendiri kan, mantu kesayangan mencalonkan gubernur di mana?
Pembukaan secara resmi PON XXI dilaksanakan di Aceh, disiarkan daring ke Sumut. 33 cabor di Aceh, 32 cabor di Sumut, termasuk catur. Usai pembukaan ternyata ada infrastruktur yang belum siap.
Jalan menuju Sumut Sport Center masih berupa tanah dan masih dalam tahap pengerjaan. Banyak atlet yang berjalan kaki hanya untuk menuju tempat berlatih, sambil menggerutu sampai viral di medsos. Kontras dengan pembangunan IKN yang terkesan jor-joran.
Konsumsi atlet juga bermasalah. Makan pagi yang kesiangan (jam 09.30), makan malam yang kemalaman (jam 23.30) sangat mengganggu persiapan atlet.
Padahal PON kali ini dibarengkan dengan Haornas yang biasanya diperingati tiap tanggal 9 bulan 9 dengan tetap membawa spirit mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olahraga.
Menarik apa yang dijanjikan calon wagub Bali Giri Prasta yang akan membangun sport center di tiap kecamatan di seluruh kabupaten di Bali. Sementara GOR di tiap kabupaten sudah ada. Ramai kegiatan tiap hari.
PON perekat bangsa. Silaturahim atlet antarprovinsi diharapkan bisa meningkatkan rasa kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara.
Di tengah keprihatinan pelaksanaan PON, Presiden lusa menggelar rapat kabinet terakhir di IKN. Mondar-mandir lagi, boros anggaran lagi. Ditambah isu reshuffle lagi. Karena ada dua menteri mundur ikut pilkada. Risma dan Pramono Anung. Padahal masa kerja kabinet tinggal 5 minggu.
Di tingkat internasional orang tidak bisa melupakan peristiwa 11/9 2001 ketika 2 pesawat dibajak dan ditabrakkan ke gedung kembar World Trade Center Washington DC, Amerika Serikat. 3000 orang meninggal.
Dua hari kemudian Amerika menyerbu Afghanistan. Mendudukinya 20 tahun. Akhirnya pergi secara damai meninggalkan Afghanistan karena terus-menerus mendapatkan perlawanan dari Taliban yang pantang menyerah.
Seberapa pun manisnya event olahraga. Tenggelam oleh berita politik nasional dan dunia. Jangankan PON, Olimpiade Paris saja tenggelam oleh pergantian Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak dari Partai Konservatif yang digantikan Keir Starmer dari Partai Buruh yang memenangkan Pemilu, menguasai parlemen.
Kita terkepung berita politik. Olahraga sekadar gincu pemanis saja. Pelipur lara. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

