- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
JIKA partai partai dikooptasi dengan menyandera sehingga langkah organisasi politik ini seperti terkunci. Jika demokrasi dimatikan dengan mencoba membuat koalisi borongan tanpa menyisakan oposisi. Rakyat lantas diminta memilih satu calon dan kotak kosong.
Apa program kotak kosong? Gagasan alternatif apa yang bisa diberikan oleh kotak kosong. 43 daerah pilkada kotak kosong mengalami kegalauan. Kecemasan dan patah hati pemikiran. Mereka tidak punya pilihan, namun dianjurkan jangan golput.
Jika saluran demokrasi lewat mekanisme partai buntu. Maka harus dicari cara dan mereka mendapatkannya: berdemokrasi lewat media.
Sekumpulan anak anak muda yang berprestasi dan punya idealisme tinggi untuk melihat Indonesia lebih baik menyalurkan ide, gagasan, landasan moral lewat pesan melalui media gambar yang dibantu Intelegensia Algoritma (IA) yang punya IQ sampai 2.300. Sementara IQ manusia tertinggi 230.
Mereka bisa menvisualkan peristiwa sejarah masa lalu. Buah pikiran filsuf tentang demokrasi, kisah-kisah kepahlawanan yang heroik. Membongkar privacy kaum mapan yang mendapat kekayaan, fasilitas dari negara yang disalah-gunakan. Gaya kehidupan berjois (baca borju) yang didapat dari fasilitas jabatan sang ayah. Semuanya dibuat cetho welo welo.
Seperti bermain catur, kita beradu gagasan dengan lawan lewat pemikiran: bagaimana menjalankan buah catur agar tercipta peluang. Membuka blokade lawan dan memerdayai lewat langkah kombinasi. Kita juga harus pandai membaca pikiran lawan, mau kemana arah tujuannya. Agar kita bisa memblokade. Dan menghentikan langkah lawan.
Begitu juga berpolitik. Nitizen dari kalangan guru besar, dibantu dosen-dosen muda penuh idealisme lantas mencoba memahami arah pemikiran Jokowi. Mereka berbicara dari kampus ke kampus. Mengapa Presiden Indonesia sulit naik juga sulit turun dari jabatan.
Nitizen membedah lewat data dan disiplin ilmu. Saat akal sehat hendak dihentikan dengan kekuasaan. Mereka serempak membunyikan alarm bahaya, gambar garuda biru. Lantas mereka tumpah ruah ke turun ke jalan. Inilah dewan perwakilan rakyat yang sejatinya.
Nitizen mengamati, Ketika menjabat di periode pertama. Presiden nampak santun dan sedikit jenaka. Ketika di periode kedua dan hampir lengser, tingkahnya mulai macam-macam. Apalagi kalau presiden cuma petugas partai.
Mereka kepingin dianggap sebagai king maker. Lantas menganggap dirinya seperti raja. Yang bisa meneruskan kekuasaannya kepada anaknya.
Etika moral diabaikan. Jika partai pendukung tidak mendukung, bikin aliansi di luar partai dengan membentuk kelompok pendukung, pasukan pembela atau aliansi seperti Projo, pasukan berani mati Jokowi yang berkumpul di Jakarta membuat deklarasi.
Maunya sih para pendukung ini dihimpun. Lewat partainya Jokowi PSI. Kalau semua pendukung mencoblos PSI, pasti PSI lolos ke Senayan. Namun nyatanya hanya 3,8%.
Kaesang yang baru dua hari menjadi anggota langsung menjadi ketum. Gagal di PSI lantas merebut Golkar. Namun Jokowi belum juga ditetapkan menjadi ketua dewan pembina.
Nitizen mengamati dan menganalisa tiap langkah Jokowi yang kemudian dikutip koran dan majalah yang populer di tengah masyarakat.
Hari ini nitizen berteriak: yang diperlukan rakyat Indonesia bukan pasukan berani mati. Tapi pasukan berani malu.
Malu melanggar konstitusi, malu melanggar etika. Menjunjung tinggi supremasi hukum.
Para cendekia mengirim telaah kajian ilmiah, koran majalah membahas juga. Para aktivis berdiskusi lewat talk show. Yang disiarkan langsung televisi nasional. Para mahasiswa dan jebolan universitas membuat meme, tiktok dengan variasi penuh warna.
Demokrasi bergerak di media. Dengan para nitizen pelakunya. Bukan di gedung parlemen.
Mereka adalah para guru besar, cendekia, jurnalis, aktivis, seniman, budayawan dan pegiat lingkungan.
Kita juga rindu petuah dan nasehat para agamawan yang sekarang lebih sibuk mengurus tambang. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

