SuaraMu Buleleng – Rintik hujan membasahi kompleks Perguruan Muhammadiyah Buleleng sejak pagi. Hal tersebut tak menyurutkan langkah warga persyarikatan dari berbagai amal usaha, aktivis, hingga kader muda hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan Milad Muhammadiyah ke-113 yakni donor darah dan Pengajian Ahad Pagi di SD Muhammadiyah Singaraja.
Tahun ini, pengajian mengangkat tema yang sarat makna: “Menguak Peran Muhammadiyah Buleleng dalam Sejarah.”
Tema tersebut menjadi jendela bagi peserta untuk memahami kembali warisan dakwah yang telah dibangun para pendahulu di Bali Utara.
Kegiatan dimulai tepat pukul 08.00 WITA diawali donor darah bekerja sama dengan PMI. Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini, menjadikannya bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk nyata kepedulian sosial warga Muhammadiyah terhadap masyarakat luas. Donor darah berlangsung hingga pukul 09.00 WITA dengan suasana penuh kegembiraan dan kehangatan.
Pukul 09.00 WITA, acara berlanjut ke sesi Pengajian Ahad Pagi. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Buleleng, H. M. Ali Susanto, M.Pd., membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya memahami sejarah pergerakan Muhammadiyah di Buleleng.
“Belajar sejarah Muhammadiyah Buleleng adalah cara menguatkan dan meneguhkan hati kita untuk tetap istiqamah dalam bermuhammadiyah,” ujarnya dalam sambutan pembuka.
Pernyataan tersebut menjadi titik awal diskusi yang berlangsung hangat, dipandu oleh jurnalis senior Yahya Umar, yang hari itu bertindak sebagai moderator dialog sejarah bersama tiga narasumber.
Narasumber pertama, Ketut Muhammad Suharto, Ketua ICMI Buleleng, mengajak peserta menelusuri sejarah awal masuknya Islam ke Bali Utara. Ia mengisahkan lahirnya Desa Pegayaman, dinamika sosial keislaman lokal, dan bagaimana perkembangan tersebut berkaitan dengan peran Muhammadiyah dalam memperkuat dakwah di kawasan tersebut.
Pemikiran tersebut dilanjutkan oleh narasumber kedua, Nyoman Dodi Irianto, Anggota FPSI Buleleng sekaligus Wakil Ketua PDM Buleleng Bidang Pendidikan.
Dengan gaya bertutur lugas dan penuh metafora, ia menggambarkan perjalanan panjang komunitas Bugis. Ia mengibaratkan kehidupan mereka sebagai “perahu” yang harus terus berlayar akibat perubahan politik Nusantara.
Dodi mengungkapkan bahwa meski awalnya adalah petani, tekanan sejarah membuat orang Bugis bermigrasi menjadi pelaut tangguh dan terkadang menanggung stigma sebagai bajak laut dari pedagang lain. Ia juga menjelaskan alasan Bali Utara menjadi tujuan strategis: gelombang laut yang lebih bersahabat serta dampak dari runtuhnya Kesultanan Hasanuddin yang memicu perpindahan besar-besaran ke berbagai wilayah.
Narasumber ketiga, Amoeng Abdurrahman, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Buleleng, menyampaikan urgensi pendokumentasian sejarah Muhammadiyah di daerah tersebut. Ia menegaskan bahwa mengingat sejarah bukan hanya melihat masa lalu, tetapi juga menjaga identitas dan arah perjuangan agar generasi yang datang tidak kehilangan akar dakwahnya.
Amoeng mengajak kader untuk memahami bahwa warisan dakwah Muhammadiyah Buleleng perlu terus dirawat melalui literasi sejarah yang kuat serta upaya pelestarian arsip perjuangan.
Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi yang berlangsung interaktif dan hangat. Para peserta dari berbagai amal usaha Muhammadiyah menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait tantangan dakwah di Bali Utara, mulai dari penguatan peran pendidikan hingga peningkatan literasi sejarah di lingkungan kader muda.
Diskusi ini menjadi penutup yang manis, menghadirkan harapan baru bahwa warisan dakwah Muhammadiyah Buleleng akan terus hidup dan berkembang melalui generasi penerus. (Laporan Saffanah Mubaarokah)

