- Oleh dr. Rizani, M.Ked
ASOSIASI Eropa untuk Studi Obesitas (EASO) telah memperkenalkan kerangka baru yang melampaui indeks massa tubuh (BMI) tradisional untuk mendiagnosis dan mengklasifikasikan obesitas. Diterbitkan pada 5 Juli 2024 di Nature Medicine, kerangka baru ini terdiri atas algoritma yang menggabungkan BMI, akumulasi lemak, dan komponen klinis termasuk aspek medis, fungsional, dan mental. Pendekatan ini bertujuan untuk lebih menyelaraskan diagnosis dan manajemen obesitas dengan kompleksitas kondisi tersebut.
Meski pun obesitas diakui sebagai penyakit kronis multifaktorial, rekomendasi klinis saat ini belum sejalan dengan kondisi kronis lainnya. Modalitas manajemen baru yang efektif membutuhkan kerangka yang diperbarui, yang mencakup algoritma untuk mendiagnosis dan mengatur obesitas dengan mempertimbangkan:
BMI akumulasi lemak perut bersama dengan gangguan medis, fungsional, dan psikologis.
Rasio Lingkar Pinggang-Tinggi Badan: Direkomendasikan menggantikan lingkar pinggang dengan cut-off ≥ 25 kg/m² BMI dan rasio lingkar pinggang-tinggi badan > 0,5 sebagai indikator risiko komplikasi pada orang dewasa keturunan Eropa.
Obesitas Sarkopenik: perlu penilaian kondisi ini pada individu yang berisiko.
Skrining Kanker: Disarankan untuk melakukan skrining rutin untuk kanker terkait obesitas.
7 dari 28 pernyataan konsensus tsb, berfokus pada “pilar pengobatan” yang mengadvokasi manajemen multidisiplin jangka panjang, termasuk modifikasi perilaku, terapi psikologis, pengobatan, dan operasi bariatrik jika diperlukan.
Diresepkan sebagai tambahan untuk modifikasi perilaku terutama untuk mereka dengan BMI ≥ 27 atau kg/m² dengan komplikasi terkait obesitas. Kerangka ini juga menyarankan mempertimbangkan pengobatan individu dengan BMI ≥ 25 kg/m² dan rasio lingkar pinggang-tinggi badan > 0,5 dengan gangguan.
Kerangka ini menekankan pentingnya rencana pengobatan yangg dipersonalisasi berdasarkan tingkat keparahan komplikasi dan distribusi lemak.
Dr. W. Timothy Garvey dari University of Alabama Diabetes Research Center memuji kerangka baru ini karena kejelasannya dan keselarasan dengan prinsip manajemen penyakit kronis. Ia menyoroti pentingnya metrik baru dan inklusi obesitas sarkopenik serta skrining kanker. Namun, ia juga menunjukkan kurangnya panduan pengobatan yang terperinci dan perlunya menangani determinan sosial kesehatan dan bias berat badan.
Seiring munculnya obat-obatan baru untuk obesitas dan data pengobatan, diharapkan adanya panduan yang lebih komprehensif. Uji klinis seperti SELECT, STEP-HFpEF, FLOW, dan SURMOUNT-OSA mulai menunjukkan bahwa obat-obatan ini membantu mengurangi komplikasi & meningkatkan hasil pasien.
Keberhasilan implementasi kerangka ini akan bergantung pada mengatasi tantangan seperti rendahnya kesadaran tentang CKD (Penyakit Ginjal Kronik) dan akses terbatas ke perawatan. Kerangka ini juga bertujuan untuk mengurangi praktik pemesanan obat online tanpa pemeriksaan pasien yang tepat.
Kerangka EASO baru mewakili kemajuan signifikan dalam diagnosis dan manajemen obesitas. Dengan melampaui BMI dan menggabungkan pendekatan holistik, kerangka ini menyediakan strategi yang lebih akurat dan efektif untuk mengobati penyakit kronis yang kompleks ini.
Diharapkan adopsi kerangka ini akan meningkatkan akses ke manajemen obesitas yang tepat dan meningkatkan hasil pasien. []
*) Penulis adalah Wakil Ketua PD Muhammadiyah Buleleng

