Klasifikasi Nutrien dan Dampaknya Terhadap Anak

  • Oleh dr. Rizani, M.Ked.

KELAPARAN tersembunyi pada anak atau hidden hunger atau defisiensi mikronutrien adalah salah satu masalah nutrisi yang terjadi pada kasus undernutrition atau overnutrition. Masalah defisiensi mikronutrien dapat terjadi akibat asupan makan yang kurang, peningkatan jumlah mikronutrien yang digunakan oleh tubuh, penyerapan mikronutrien yang tidak adekuat, ataupun kandungan mikronutrien dalam makanan yang dikonsumsi kurang memadai.

Menurut WHO, penyebab insiden defisiensi mikronutrien secara global yaitu defisiensi vitamin A, vitamin D, Vitamin B12, zat besi, yodium dan zink, dengan prevalensi paling tinggi yaitu pada defisiensi zink, vitamin A, zat besi, dan yodium. Terkait zink, WHO mengatakan sekitar 30-50% negara berkembang mengalami permasalahan defisiensi zink sehingga WHO merekomendaikan pemberian zink pada kasus diare.

Berdasarkan data global saat ini, tercatat 38,9 juta anak usia < 5 tahun mengalami kelebihan berat badan, 45,4 juta anak mengalami wasting, & 149,2 juta anak mengalami stunting. Dari ketiga prevalensi malnutrisi tersebut, diperkirakan 2 miliar anak mengalami defisiensi mikronutrien.

Menurut Golden ada 2 tipe nutrien, yaitu Nutrien Tipe I: Zat besi, tembaga, mangan, yodium, selenium, kalsium, fluoride, dan vitamin (B, C, A, D, E, K). Nutrien ini disimpan dalam tubuh dan terkonsentrasi di jaringan. Pada tahap awal kekurangan mikronutrien tersebut tidak akan tampak gangguan pertumbuhan pada anak. Namun jika berlanjut maka tanda-tanda klinis spesifik akan terlihat. Defisiensi mikronutrien ini dapat terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium.

Nutrien Tipe II: Kalium, natrium, magnesium, zink, fosfor, protein (termasuk nitrogen, asam amino esensial), oksigen, air dan energi. Nutrien ini tidak disimpan dalam tubuh dan umumnya memengaruhi metabolisme secara keseluruhan. Jika terjadi kekurangan maka respon tubuh yang pertama terlihat yaitu terhentinya pertumbuhan. Tidak ada tanda-tanda klinis spesifik yang muncul dari defisiensi mikronutrien ini. Defisiensi mikronutrien ini dapat terdeteksi dari antropometri yang abnormal.

Risiko Kekurangan Mikronutrien

Berikut kelompok usia yang berisiko mengalami defisiensi mikronutrien:

Bayi: Beberapa asupan nutrisi sangat bergantung pada status gizi ibu dalam masa direct breastfeeding, di antaranya vitamin A, B1, B2, B6, B12, C, D, zat besi, & zink. Kekurangan mikronutrien ini dapat mengganggu pertumbuhan dan fungsi kekebalan tubuh.

Anak-anak: berisiko kekurangan zat besi, vitamin A, D, E, asam folat, zink, dan selenium. Defisiensi mikronutrien tersebut bisa mengakibatkan meningkatnya risiko infeksi.

Remaja: faktor gaya hidup dapat menyebabkan kekurangan vitamin C, D, A, E, zat besi, zink, dan selenium, yang memengaruhi kesehatan dan perkembangan secara keseluruhan.

Mengatasi defisiensi mikronutrien perlu melibatkan berbagai strategi untuk memastikan kecukupan asupan vitamin dan mineral, diantaranya 0⁰ :

Keanekaragaman pangan sangat penting untuk diperhatikan guna memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Menurut beberapa literatur hanya sekitar 51-53% anak Indonesia usia 6-23 bulan yang mengonsumsi makanan beragam.

Fortifikasi pangan atau penambahan mikronutrien tertentu dalam makanan, seperti misalnya penambahan yodium pada garam. Suplementasi mikronutrien, misalnya pemberian vitamin A untuk anak pada bulan Februari dan Agustus.

Penerapan biofortifikasi yang bertujuan meningkatkan kandungan nutrisi tanaman melalui praktik agronomi khusus.

Nutrisi merupakan bagian penting dari kesehatan pertumbuhan dan perkembangan anak. Nutrisi yang baik artinya tubuh mendapatkan asupan gizi lengkap dari makronutrien dan mikronutrien yang dibutuhkan tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Untuk mencapai status gizi yang baik, diperlukan variasi kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi.

Sejumlah mikronutrien, seperti vitamin dan mineral, sangat penting untuk pertumbuhan fisik dan mental, terutama untuk memproduksi enzim, hormon, dan biomarker lainnya. Namun hingga saat ini, defisiensi mikronutrien masih menjadi masalah kesehatan global yang mengkhawatirkan. Menurut perkiraan WHO, lebih dari 2 miliar orang di dunia menderita kekurangan mikronutrien.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menerbitkan rekomendasi pola makan gizi seimbang untuk masyarakat Indonesia yang menyatakan, bahwa konsumsi makanan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok umur.  Namun hal tersebut belum terimplementasi dengan baik pada praktik sehari-hari.

Survei konsumsi makanan di Indonesia menunjukkan, bahwa anak Indonesia dominan mengkonsumsi nasi, mie dan serealia yang merupakan sumber karbohidrat tanpa diimbangi dengan buah-buahan, sayuran, dan sumber protein. Pola makan yang kurang beragam tsb.dapat menyebabkan rendahnya jumlah asupan vitamin dan mineral yang diperlukan anak untuk tumbuh kembangnya.

Telah ada upaya meningkatkan asupan mikronutrien dengan pemberian fortifikasi pangan seperti zink dan kalsium, namun hasilnya belum sesuai harapan. Masih sulit untuk mengejar kebutuhan mikronutrien harian anak karena terlambatnya pengenalan sumber makanan tersebut dan pemberian makanan yang kurang berkualitas.

Dampak Kekurangan Mikronutrien

Kekurangan mikronutrien pada anak-anak di Indonesia merupakan masalah kesehatan yang mendesak dan memerlukan perhatian segera. Asupan mikronutrien yang tidak mencukup, seperti zink, kalsium, dan vitamin B, memiliki dampak negatif jangka panjang pada kesehatan dan pertumbuhan anak-anak.

Penelitian menunjukkan bahwa 1 dari 5 anak² 5-12 tahun mengalami defisiensi zink, dengan prevalensi 11,2% pada anak laki & 8,5% pada anak perempuan, yang secara signifikan mempengaruhi grafik z-skor tinggi badan menurut usia. Kekurangan zink berkepanjangan pada anak juga dapat meningkatkan risiko kejadian diare, infeksi saluran pernapasan bawah akut, hingga gangguan perkembangan seksual.

Pertumbuhan anak juga dipengaruhi oleh kecukupan asupan kalsium, namun faktanya di Indonesia masih ditemukan kasus defisiensi kalsium pada anak. Sebuah studi yg diadakan di Indonesia menunjukkan adanya kasus defisiensi kalsium pada anak usia 5-12 tahun dengan prevalensi lebih tinggi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki.

Kekurangan kalsium ini dapat menyebabkan masalah pada pertumbuhan tulang dan gigi serta meningkatkan risiko osteoporosis di masa dewasa. Maka dari itu, pemenuhan asupan kalsium pada anak sangat diperlukan untuk mencegah defisiensi sejak dini.

Perkembangan otak dan saraf tak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Otak berkembang sangat pesat pada masa kanak-kanak dan dukungan asupan mikronutrien yang adekuat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan perkembangan otak dan saraf anak, seperti misalnya vitamin B1 dan B12 yang berkaitan erat dengan perkembangan intelegensia dan memori yang lebih baik.

Tenaga kesehatan berperan penting dalam mengatasi permasalahan defisiensi mikronutrien pada anak-anak Indonesia, diantaranya yaitu:

Edukasi mengenai keragaman pangan dan kaitannya dengan kebutuhan nutrisi anak dapat membantu orang tua memahami pentingnya memperhatikan asupan makan anak.

Penilaian Nutrisi/Nutritional Assessment

Termasuk praktik pemberian makan anak, pemantauan tumbuh kembang, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium terhadap tanda spesifik adanya defisiensi mikronutrien.

Intervensi nutrisi seperti konseling pemilihan jenis pangan, pemberian pangan fortifikasi dan pemberian suplementasi mikronutrien.

Adanya tantangan defisiensi mikronutrien pada anak-anak Indonesia memerlukan perhatian segera. Pola makan yang kurang beragam dapat menyebabkan defisiensi nutrisi yang penting bagi tumbuh kembang seperti misalnya zink, kalsium, dan vitamin B.

Tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam pencegahan dan pengananan kasus defisiensi mikronutrien, di antaranya edukasi kecukupan asupan nutrisi, pemantauan tumbuh kembang anak serta intervensi nutrisi seperti konseling pemilihan jenis pangan & pemberian suplementasi mikronutrien, dapat membantu pemenuhan gizi yang optimal. Strategi ini selaras dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 yang memastikan setiap anak Indonesia berkembang optimal dan mencapai potensi penuh. []

*) Penulis adalah Wakil Ketua PD Muhammadiyah Buleleng

Referensi

Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 tentang Pedoman Gizi Seimbang. 2014.

Kementerian PPN/Bappenas. Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Dari : https://sdgs.bappenas.go.id/. Diakses pada 05/06/2024.

DOC/JAK/013/05/24-ED:05/27

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *