Leo Kristi

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd

KETIKA koran Tempo Minggu memuat kembali Leo Kristi, langsung saya buka youtube untuk mencari lagu-lagunya. Ingatan kembali ke tahun 1980-an ketika Leo bersama Gombloh dan Franky Sahilatua mendirikan Lemon Trees dan menyanyikan balada. 

Namun ketika keduanya mulai berdamai dengan pasar dengan memainkan piano, keyboard, gitar listrik dan peralatan modern lainnya, Leo Kristi yang nama aslinya H. Leo Imam Soekarno,  memilih jalan sendiri dengan kekeh mengandalkan peralatan akustik. Leo yang kelahiran Surabaya 8 Agustus 1949, mulai bereksperimen menggunakan musik etnis yang dia dapat dari berkelana ke sudut-sudut Nusantara untuk menggali alat musik tradisional. 

Lagu Kristi lantas seperti mendokumentasikan musik tradisional Indonesia. Kadang riang, dengan petikan gitar yang aneh, lantas optimistis, namun sesekali tersandera mistis. 

Penampian Leo yang eksentrik, berkat kisah hidupnya yang unik. Tetap muslim sepanjang hayat, namun sering diminta nyanyi di tempat-tempat yang termarjinalkan.  

Sekolah di SMAN 1 Surabaya lantas mengambil teknik sipil di ITS, namun tidak pernah selesai karena ditinggal menggelandang menyanyi dari satu tempat ke tempat lain. Susah dihubungi, namun tiba-tiba muncul folk song sendiri yang lantas dibarengi musisi lain yang kebetulan ada di situ. 

Sesekali sering menggunakan celana pendek waktu konser. Ketika ditanya, dijawab : “Ya Indonesia hanya segini, sambil menunjuk dengkul”. 

Waktu tampil di panggung, Leo pernah menyanyi dengan menggunakan helm. Katanya : “Biar pikiran yang ada di kepalaku tidak terkontaminasi”. 

Leo wafat 21 Mei 2017 di Bandung. Para fans mencoba mengumpulkan kembali personil pendukung Leo yang kebanyakan jebolan Institut Kesenian Jakarta. Dan kenangan tentang Leo Kristi kembali mengeruyak : tentang penyanyi idealis yang teguh memilih musik eksperimen, tidak peduli diterima pasar atau tidak. Yang penting Leo merdeka menyanyikan lagu tentang balada : petani yang digusur, nelayan yang kembali cuma perahunya. Nyanyian tanah merdeka. 

Tahun 2016, setahun sebelum meninggal, Leo dianugerahi predikat sebagai pencipta lagu dan penyanyi yang membangkitkan semangat dan optimisme oleh pemerintah lewat Kementerian Pendidikan.

Bagi pecinta Leo Kristi. Leo Kristi tidak pernah mati. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *