Dinamika Olahraga

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

PON XXI Aceh Sumut ditutup secara resmi di Deli Serdang. Acara tari kolosal ditampilkan. Para juara diumumkan Jabar, DKI, Jatim menduduki tiga besar. Penutupan yang rencananya dilakukan oleh Jokowi, batal. Digantikan oleh menteri PMK Muhadjir Effendy didampingi Menpora Dito Ariotejo. 

Presiden lebih memilih menghadiri pernikahan anak ketiga Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Masjid Akbar Surabaya. 

Ada yang menduga, Jokowi batal hadir karena laporan dari media koran, medsos tentang pelaksanaan PON yang menghadapi masalah teknis dan non teknis melayani 5000 atlet yang berlaga di Aceh. Dan 6000 atlet yang berlaga di Sumut. 

Gedung olahraga yang belum sepenuhnya jadi digunakan untuk lomba macam-macam cabang. Jalan yang masih makadam. Berdebu jika panas, becek jika hujan jadi berita utama. Makan pagi kesiangan, makan malam kemalaman juga mengganggu aktivitas atlet. 

Di Aceh beralasan kurangnya fasilitas dapur umum. Di Sumut kurangnya divisi angkutan untuk mendistribusikan katering. Talang air ambrol terkena hujan angin sehingga lomba menembak sempat molor satu hari menunggu perbaikan. Terlihat Aceh nampak tertinggal akibat konflik berkepanjangan yang baru sudah setelah adanya tsunami tahun 2004. 

PON 2024 yang dibiayai Rp 811 milyar ini punya banyak catatan menarik. Terutama cabor paling populer sepakbola. Saat bertemu Aceh di semifinal, tim kesebelasan Jatim menang 3-2 bersih tanpa insiden melawan tuan rumah Aceh. 

Sebelumnya, ketika Aceh melawan Sulteng. Wasit sampai dilarikan ambulans karena dipukul pemain Sulteng karena tidak puas atas kepemimpinan wasit yang kelewat membela Aceh sebagai tuan rumah. 

Kabar tidak sedap mewarnai PON XXI tentang kepemimpinan wasit dan juri, terutama kompetisi yang bersifat lomba. Tidak aneh peringkat Sumut di urutan 4, Aceh urutan 6. Naik drastis dibanding peringkat PON sebelumnya di Papua. 

Sepakbola Jatim meraih emas setelah mengalahkan kesebelasan Jabar 1-0. Yang paling heroik tentu cabang bola voli putri. Saat semifinal dan final tim voli Jatim diperkuat Megawati Hangestri. Pevoli yang main di club Red Sparks Korsel yang diijinkan terbang ke Sumut, memperkuat Jatim 3 hari. 

Kehadiran Megawati memang memberikan warna lain. Spike-nya membuat bloking lawan jebol. Sebaliknya Megawati sering mendapatkan blok point, menggagalkan spike lawan. Penonton jadi antusias. Apalagi saat kedudukan ketat 24-23 melawan Jabar. Smash Megawati tidak diblok sempurna. Momen Megawati berteriak histeris dan sujud syukur menjadi viral setelah Jatim memastikan emas. 

Setelah itu Megawati bergegas mengemasi barangnya menuju bandara langsung terbang ke Seoul, Korsel bergabung bersama klubnya kembali. Kehadiran Megawati seperti memberi contoh bahwa orang Indonesia bisa berkiprah di luar negeri untuk selanjutnya pulang saat diperlukan membela tanah air. Tidak asal comot naturalisasi pemain sepakbola demi prestasi.

Cara instan yang kurang mendapat simpati. Lihat Argentina, Brazil, Uruguay, jepang, Korea. Mereka anti naturalIsasi dan memilih kerja keras mengembleng diri. 

Cabang catur menghadirkan berita yang kurang sedap. Tim beregu favorit Jabar yang dikomandani GM Susanto Margaranto gagal emas digeser DKI. Santo tidak turun di nomor perorangan. 

Dalam catur klasik 90 menit +30 detik, GM Novendra dikalahkan IM Taufik Hallay yang mewakili Propinsi Papua Pegunungan meraih emas. Novendra juga kalah lawan MN Budiman Hs. dari Sulbar. 

Budiman memang pemain terbaik di Sulawesi. Saya pernah dikalahkan Budiman Hs saat Pornas Korpri tahun 2019 di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Budiman Hs, guru ASN di SMKN Polewali Sulbar. 

Santo kalah oleh pemain Jateng. Juga GMW Irene Kharisma Sukandar juga mengalami kekalahan oleh pemain yang elo-nya jauh lebih rendah. Lesunya para dedengkot catur Indonesia ini bersamaan dengan kabar diberangkatkannya para pemain yunior ke Olimpiade Catur di Hongaria. Biasanya memang yang biasa dikirim ke Olimpiade Santo dan Irene beserta  pecatur top Indonesia lainnya.

Belum lagi ada tulisan tentang jual beli poin di arena catur PON Brastagi ini dibawah judul: Catatan Kelam Catur PON Sumut Aceh, Meja Catur Berubah Menjadi Meja Judi Macau. 

Tulisan tentang tim DKI yang melobi official Sumsel untuk mengalah 4-0 kepada DKI dengan menyelipkan bohir

Meja satu sampai tiga cepat mengalah dan meninggalkan tempat pertandingan. Meja empat Audialy Sumsel terus bermain serius mengabaikan instruksi pelatih. Posisinya menang atas pemain lawan. 

Cristin lantas meninggalkan pertandingan. Uring-uringan kepada pelatihnya. DKI memang juara umum catur tapi dengan cibiran. Kabeo, tuku

Catatan kelam ini sempat menimbulkan isu Cabor Catur dihapus di gelaran PON 2028 NTB-NTT. Semoga saja tidak terjadi. Catur tetap dilombakan di PON. 

Nama Audialy menjadi perbincangan. Dia tidak mau mengkhianati komitmen kepada daerah dan korps-nya yang telah memilih dia untuk berlaga. Audialy, seorang Polwan. Dia tetap memegang prinsip walau menghadapi banyak tekanan. Audialy pahlawan gen una sumus di tengah badai time is money yang melanda PON Sumut Aceh, terutama cabor Catur. Pegang prinsip walau langit akan runtuh. 

Semoga kita dipanjangkan umur dapat menyaksikan PON XXII di NTB – NTT. Amien YRA. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *