Pendidikan Kita

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

KETIKA Jusuf Kalla mengecam pendidikan di negara kita semakin mundur. Orang terkesiap. 

Gamblang JK mengecam Kurikulum Merdeka tidak cocok diterapkan di Indonesia, karena tanpa ada ujian nasional. 

Peserta didik jadi tambah malas belajar. Jangan studi banding ke Singapura, Finlandia.  Singapura penduduknya cuma 5 juta jiwa, pendapatan 70.000 dolar per kapita. Sedangkan Indonesia penduduknya 280 juta dengan pendapatan 4.500 dolar per kapita. 

Di Singapura anak minat kimia, fisika, peralatan laboratorium lengkap. Mau pilih olahraga sesuai minat bakat guru pendamping siap.

Kita belajar tekun karena ada ujian. Kata JK lagi. Takut tidak lulus, tidak naik. Anak sekarang malas belajar karena tidak ada ujian.  

Tiru India, hampir sebagian besar CEO perusahaan besar orang India. Mantan PM Inggris, Rishi Sunak, kandidat Presiden Amerika, Kamala Harris, keturunan India. Walikota London juga.

Tiru China, tiru Korea, kata JK. Kemudian JK juga mengkritik Mas Menteri Nadiem Makarim yang jarang ngantor. Sontak dunia pendidikan Indonesia seperti terkena gempa bumi terkena kecaman pedas JK.

Tadi malam saya menemukan Tiktok Bambang Prakosa yang puluhan kali menyurati Mas Menteri untuk memberikan masukan terkait minat baca masyarakat yang rendah. Ranking 60 dari 61 negara.  

Kebiasaan membaca yang buruk. Anak SMA hanya membaca satu buku dalam sebulan. Itu pun jumlah persentasenya tidak banyak. Kecepatan membaca anak SMA Indonesia setara dengan SD. Sementara banyak anak SD bisa membaca tapi tidak mengerti apa yang dibaca. Sehingga berakibat kepada turunnya IQ rata-rata Indonesia sedikit di atas gorila. 

Tiktok Bambang Prakosa dibagikan hampir 3 ribu kali. Sayang pagi ini ketika datanya mau saya kutip, Tiktok Bambang tidak bisa dibuka. Tentu pemerintah lewat Menkominfo memblokirnya. Karena Menkominfo yang punya otoritas. 

Akhir-akhir ini pemerintahan Jokowi yang tinggal satu bulan memerintah, kelimpungan menghadapi para netizen yang terus menyerang Jokowi dan keluarganya. Siapa menebar angin akan menuai badai. 

Lagi-lagi saya teringat saat berkunjung ke New Zealand (NZ). Negara Persemakmuran, yang mengacu kepada kebijakan Inggris Raya. Guru Malaysia boleh mengajar di NZ, dan sebaliknya.  Begitu juga jika ingin pindah mengajar ke Kanada. Semua guru di negara Persemakmuran berjejaring.

Saat awal Malaysia mengikuti program ini, guru-guru banyak dikirim keluar negeri. Akibatnya Malaysia “pinjam” guru dari Indonesia. Begitu guru Malaysia pulang kembali, baru terasa kita tertinggal dari Malaysia. Padahal isunya saat itu, Malaysia berguru kepada kita. 

Di NZ, murid hanya diajar 4 pelajaran saja. Satu pilihan mata pelajaran life skill (ketrampilan) satu pengembangan diri lewat hobi. Ujian nasional memang tidak ada, namun ujian (Asesmen) diserahkan kepada lembaga independen lewat program sertifikasi. Grade-nya bergerak mulai level 1 sampai 12. Grade 8 setara S1, grade 10 setara S2, dan grade12 setara S3. 

Nah bagi yang sudah siap peserta didik boleh mendaftar minta diuji. Di sini hakekat merdeka belajar. Anak-anak belajar sesuai minat dan bakat. Mereka bisa akselerasi lebih cepat meraih grade karena pintar dan tekun. Tidak heran ada anak usia belasan sudah mencapai grade tertinggi dan meraih gelar doktor, lantas jika penelitiannya bermanfaat, bisa profesor. 

Di kelas pengembangan diri, saya melihat fasilitas olahraga sekolah super lengkap. Alat-alat kebugaran. Lapangan olahraga apa saja. Masuk kelas catur, saya membaca visi dan misi : menjadi juara dunia catur. Jumlah siswa tiap jenjang cuma 4. Ada kelas pemula, intermediate dan master. 

Harap maklum penduduk NZ cuma satu juta. Saya mengunjungi anak yang mengambil life skill otomotif dan kerja kayu. Dibawa ke “pabrik” mini perakitan mobil. Mulai dari proses awal sampai akhir serba canggih seperti di pabrik mobil beneran. 

Lantas anak belajar troubleshooting untuk memperbaiki kerusakan. Karena asyik sampai sore juga anak betah belajar. 

Kerja kayu, anak perempuan duduk di kursi pengendali operasi. Mulai dari kayu gelondongan sampai diproses menjadi lembaran kayu. Teknik menyambung dan merancang bangun untuk menjadi rumah. Harga per unit, waktu itu tahun 2008, 415 juta jika dirupiahkan. 

NZ daerah gempa. Maka rumah-rumah penduduk dari kayu. Dengan jarak yang relatif berjauhan. 

Pernah di kota Crystus terjadi gempa skala 9,1 magnitudo. Korbannya cuma satu orang.  Bandingkan dengan gempa di kota Palu dan Aceh. Sekitar 8 magnitudo korban ratusan. Di Aceh ratusan ribu. 

Kembali ke masalah pendidikan. Negara kita negara kaya dengan jumlah penduduk mumpuni. Satu saja usahakan untuk memulai sekarang: membaca. Biasakan membaca. Paksa diri dan keluarga untuk membaca. Jika mungkin langganan koran dan majalah. Lantas dibaca. 

Apapun yang disediakan pemerintah seperti perpustakaan, internet, manfaatkan untuk belajar dengan membuka Google. Asah naluri untuk menggerakkan. Untuk mencoba, lakukan.  Niscaya kita menjadi pribadi unggul. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *