Raja Jawa

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

SAYA sering mengomentari jika ada Tiktok yang membahas tentang kebijakan tokoh politik. Seperti presiden, menteri, ketua lembaga, ketua partai, selebgram dan tokoh masyarakat pada umumnya. 

Seperti ketika ada yang memposting memuji Jokowi, Bapak Infrastruktur Indonesia. Saya komen bahwa janji politik Jokowi saat kampanye Presiden tahun 2019 tol Trans Jawa selesai, sampai ke Banyuwangi, akhir 2022 tidak terbukti.

Ketika ada yang memposting Bahlil dengan istilah ‘Raja Jawa’ yang dikesankan Bahlil bengis. Saya komen bahwa tidak semua Raja Jawa bengis. Ada yang sangat bijaksana dengan meminjamkan istana saat Indonesia di-agresi Belanda. Masih juga mengongkosi pegawai negara menggunakan uang Kraton. Terlibat aktif membela negara. Menulis buku ‘Tahta untuk Rakyat’. 

HB IX juga pernah menjadi wapres. Ketika Presiden Soeharto menyapa dengan memakai bahasa Jawa kromo inggil, HB IX segera mengambil sikap sempurna memberi hormat sambil membalas salam Presiden menggunakan bahasa Indonesia. HB IX tidak mau Presiden ewuh pakewuh karena posisi HB IX Raja Jawa.   

Juga tertulis dalam buku ‘Tahta untuk Rakyat’. Bagaimana HB IX sidak keliling kota menyetir sendiri mobilnya. Di tengah jalan mobilnya di-stop mbok bakul, ikut nebeng ke pasar. Ketika mbok bakul diturunkan oleh Kanjeng Sultan, seluruh pasar heboh, mbok bakul kaget, yang dia tumpangi mobil raja.  

Setelah tidak menjabat wapres, Sri Sultan HB IX menjadi ketua gerakan Pramuka tingkat nasional, Kwarnas. Terlihat Kanjeng Sultan nampak merakyat ketika seluruh anggota Pramuka memanggil Kak Sultan. HB IX berbaur dengan sesama anggota Pramuka yang lain. 

Ketika Goenawan Mohamad menyapa dengan sebutan Kak Sultan, HB IX menimpali saya senang dengan panggilan itu. 

Kalau Bahlil menggambarkan Raja Jawa bengis. Bahlul saja. Hari-hari yang biasanya berita demo dimana-mana muncul berseliweran di laman TikTok saya dan biasanya saya support dengan komen atau tanda cinta isyarat mendukung. Sekarang yang sering muncul Mr. Bean, lagu-lagu romantis Indonesia maupun barat, strategi bermain catur, dunia farmasi, implementasi Kurikulum Merdeka, dan Mahabarata. 

Kami bertiga diskusi di rumah. Ternyata teman anak saya mengalami serupa. Diikuti, dilemahkan semangatnya, dialihkan perhatiannya. 

Ada pengamat media sosial dengan teknologi intelegensia algoritma (IA) mencoba melawan orang-orang yang bersikap kritis rasional kepada pemerintah dengan cara yang masih bisa diterima. 

Juga ada lembaga survei yang menghubungi untuk minta surveinya diisi. Jawa Pos, Tempo, Kompas, Kemenhub, Kemenag dan lembaga survei independen. Saya isi sesuai hati nurani. Untuk itu dapat merchandise dari Jawa Pos dan Tempo.

Semangat tidak boleh kendor. Tetap berjuang belajar mengajar bersama masyarakat demi Indonesia yang lebih baik. Lebih makmur dengan pemimpin yang selalu berpihak kepada rakyat. Seperti yang dicontohkan Raja Jawa HB IX dan kemudian HB X. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *