- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
JIKA bukan karena seizin Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa. Saat Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, 17 Agustus 1945, maka proses berikutnya bisa saja Indonesia tercerai berai.
Bayangkan. Setelah menyatakan merdeka, bendera Belanda masih berkibar di mana-mana. Bung Tomo saat ke Jakarta, September 1945 melihat belum ada perubahan yang signifikan. Apalagi lantas ada berita Belanda dengan membonceng NICA, akan kembali ke Indonesia.
Kegelisahan Bung Tomo dituangkan dalam wawancara radio RRI Surabaya yang lantas relay RRI Jakarta, Medan, Singaraja, Jogja dan Makassar.
Belum banyak orang yang punya radio. Masih banyak rakyat yang buta huruf. Namun keberanian Bung Tomo menghadang kedatangan Belanda sungguh diluar perkiraan Belanda. Pertempuran tidak seimbang terjadi 10 November 45. Belanda memang bisa menguasai Jakarta, Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan terus ke timur. Namun karena arek-arek Suroboyo pasang badan melawan Belanda, daerah lain pun bergolak. Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup berkalang bangkai. Belanda ngeri juga melihat militansi milisi Indonesia.
Di Bali, milisi pimpinan I Gusti Ngurah Rai terdesak mundur sampai ke daerah Loloan, Jembrana. Pasukan Ngurah Rai masuk pesantren menyamar sebagai muslim. Belanda kebingungan mencari. Saat Belanda lengah, pasukan Belanda diserbu, dibuat kucar-kacir. Di Jogja juga, milisi Indonesia berhasil menguasai Jogja walau cuma 6 jam. Dunia tahu, Indonesia tidak sudi dijajah lagi.
Bung Karno yang semula siap memimpin gerilya jika Belanda kembali. Ini juga desakan Tan Malaka yang mencontohkan gerakan Che Guevara yang selalu digembar-gemborkan Tan Malaka di setiap kesempatan berkumpulnya massa. Ternyata saat Bung Karno diajak Panglima Besar Sudirman, memilih jalan diplomasi, agar tidak banyak menimbulkan korban jiwa.
Sudirman akhirnya memimpin perang gerilya melawan Belanda. Kegigihan Sudirman memimpin pasukan yang dicintai rakyat melahirkan perang semesta. Belanda ngeri juga. Dan akhirnya setuju ke meja perundingan.
Pertempuran beralih ke ranah diplomasi. NKRI harus berubah menjadi RIS agar Belanda bisa memecah belah Indonesia. Sultan Hamid dari Kesultanan Pontianak direkrut Belanda dan diberi pangkat kehormatan. Ratu Yuliana berkunjung ke Sumenep republik Madura.
Tindakan Belanda mendapat reaksi keras dari para pejuang yang terikat sumpah tahun 1928 : satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia. Natsir dengan semangat Sumpah Pemuda menggalang tanda tangan untuk menolak RIS dan menuntut NKRI kembali.
Natsir menunjukkan kepada dunia internasional Indonesia ingin bersatu di bawah panji Pancasila dan UUD 45. Gerakan Natsir dikenal sebagai mosi integritas yang kemudian disetujui parlemen sementara. Belanda kalah diplomasi dan akhirnya harus hengkang selamanya dari bumi Indonesia.
Bayangkan jika gerakan Natsir gagal, Indonesia terpecah menjadi 17 negara. Ingat-ingatlah pemimpin Indonesia, negara ini dibentuk dengan darah dan airmata. Jadilah pahlawan seperti para pendahulu kita. Jangan jadi pecundang.
10 November 2024. Di Stasiun Gubeng, Bandara Juanda dan RRI Surabaya memutar lagu Surabaya yang dinyanyikan dara puspita. Ditingkah lagu the Gembels, pahlawan yang terlupakan.
Ingat ingatlah masa berjuang. Agar kita tahu darimana kita dilahirkan. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

