SuaraMu Buleleng – Pimpinan Cabang (PC) Muhammadiyah Gerokgak menggelar Buka Puasa Bersama (Bukber) dan Santunan Anak Yatim Piatu di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gerokgak, Sabtu (22/3/2025). Ketua PD Muhammadiyah Buleleng, H.M. Ali Susanto, M.Pd. yang menyampaikan tausiyah membeberkan rumus meraih lailatul qodar.
Acara Bukber tersebut selain dihadiri warga dan simpatisan Muhammadiyah di Kecamatan Gerokgak, juga dihadiri Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Buleleng, dan PC Muhammadiyah Seririt.
Ustadz Ali Susanto dalam tausiyahnya mengutip riwayat Imam Malik, bahwa Rasulullah pernah ditampakkan kepada umur-umur umat terdahulu (sebelum umat Muhammad SAW). Umat Nabi Nuh AS rata-ratanya umurnya 100 tahun lebih. Bahkan ada yang menyebutkan ratusan tahun. Karena umurnya yang panjang, tentu mereka punya kesempatan beramal dalam durasi waktu yang cukup panjang.
Sedangkan umat Rasulullah Muhammad SAW usianya seperti usia Rasulullah Muhammad SAW, yakni 63 tahun. “Kalau sampai lewat usianya dari 63 tahun, itu sudah dapat bonus,” jelas Ustadz Ali Susanto.

Nah, kata dia, Surah Al Qadr, merupakan salah satu motivasi bagi umat Muhammad SAW. Bahwa walaupun usia umat Rasulullah Muhammad SAW tidak sepanjang usia umat-umat terdahulu, tetapi jaminan untuk bisa mengumpulkan amal kebaikan itu tidak kalah dengan kesempatan yang diberikan Allah kepada umat-umat terdahulu.
“Bahkan dalam riwayat yang lain digambarkan, sebelum Rasulullah Muhammad SAW, para nabi lain membawa umatnya ke surga sedikit-sedikit. Tidak seperti barisan umat Rasulullah SAW,” jelasnya.
Oleh karena itu, Surah Al Qadr merupakan bagian yang harus menjadi spirit atau motivasi umat Muhammad SAW. “Bahwa mengejar lailatul qadar itu memang harus menjadi agenda kita, dengan cara yang kita mampu,” ujar Ustadz Ali Susanto.
Menurutnya, kalau memang kita tidak bisa full iktikaf di masjid, maka kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak pernah berhenti untuk menyebar kebaikan. Ustadz Ali Susanto mengutip satu tafsir yang ditulis oleh Imam Fahrurrazi, yang menasfirkan Surah Al Qadr. Bahwa malaikat itu sebetulnya berebut untuk turun ke bumi ini.

Disebutkan, para malaikat sebenarnya penasaran. Sebab, di arsy, di singgasana Allah SWT, setiap malaikat ingin tahu amalan manusia itu, terutama amal buruknya, yang oleh Allah ditutup tirainya.
“Sehingga malaikat penasaran. Kenapa di mata Allah SWT manusia itu punya kedudukan yang agak spesial. Padahal para malaikat sebagai penduduk langit tidak pernah berhenti beribadah dan memuji Allah SWT,” jelasnya.
Dalam kitab tafsir itu dikatakan, ada amalan penduduk langit yang tidak dikerjakan kecuali oleh penduduk bumi. Ada amalan yang tidak mungkin dikerjakan oleh penduduk langit, tetapi dikerjakan oleh penduduk bumi.
“Kalau kita berdzikir, mengingat Allah, istighfar, bertasbih, dan sebagainya, di langit juga begitu. Kalau kita rukuk, sujud, di langit para malaikat juga begitu. Artinya malaikat juga melakukan hal yang sama,” tambahnya.
Tetapi malaikat menjumpai dua amalan yang hanya bisa dikerjakan penduduk bumi. Pertama, pertobatan. “Jadi orang bertobat itu hanya ada di bumi,” kata Ustadz Ali Susanto.
Ia menyatakan, salah satu amalan utama ketika kita mau lepas dari bulan Ramadhan itu yaitu iktikaf. “Lantas ketika iktikaf di masjid ngapaian saja?” tanyanya.
Menurut Ustadz Ali Susanto, sebenarnya amalan iktikaf yang paling utama itu adalah berkontemplasi. Banyak merenung, dan mengingat-ingat, kita ini sebenarnya siapa dan hendak ke mana. Tidak ada dzikir-dzikir khusus ketika kita iktikaf. Justru pekerjaan utama ketika orang iktikaf itu adalah merenung,” tegasnya.
Kalau kita merasa banyak dosa, kata Ustadz Ali Susanto, maka segera perbaiki, dan menyesali perbuatan kita. “Dan menempatkan istighfar itu tidak di ujung lisan kita, tetapi diresapi sebagai bentuk penyesalan sehingga melahirkan pertobatan yang sifatnya nasuha. Bukan tobat tomat atau tobat sambel. Kapuk tapi pingin mengulangi,” tegasnya.
Kedua, amalan penduduk bumi yang tidak bisa dikerjakan penduduk langit adalah membantu orang yang miskin. Rasa simpati muncul di bumi. Membantu dengan berinfaq, bershodaqah, dan menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan. “Itu (amalan) nggak ada di langit, hanya ada di bumi,” tandasnya.
Ustadz Ali Susanto mengajak peserta Bukber agar di sisa Ramadhan 1446 benar-benar kita mantapkan bahwa ramadhan ini adalah ramadhan terbaik. “Dan bayangkan kalau ramadhan ini adalah ramadhan terakhir kita. Karena dengan media apa lagi kita bisa mendapatkan ampunan Allah SWT, kalau tidak memanfaatkan ramadhan dan lailatul qodar ini,” tegasnya. (smb)

