- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
BELAJAR sepeda bisa dilakukan di tanah lapang. Jatuh, bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. sampai akhirnya bisa berleha-leha naik sepeda di jalan raya.
Belajar tentang sepeda bisa dilakukan di dalam kelas atau di perpustakaan. Membahas tentang fungsi roda, rem, lampu dan sebangsanya. Belum tentu yang sudah berpengetahuan tentang sepeda bisa naik sepeda.
Bagus jika yang paham teori sepeda bisa mempraktekkan naik sepeda. Kalau tidak? Itulah problem pendidikan kita. Tidak belajar beneran, tapi masih belajar tentang.
Ujian nasional yang sekarang bernama asesmen menguji tentang konsep. Sementara penguasaan skill ketrampilan sangat jauh bedanya dengan dunia kerja. Ivan Illich, pemerhati pendidikan Jerman sampai mengatakan bubarkan sekolah. Karena cuma menciptakan pengangguran.
Jika ingin menjadi dokter, ikut dan belajarlah ke dokter. Mau jadi montir belajar ke montir. Jangan ke sekolah. Hentakan pendapat Ivan Illich ini kemudian diadaptasi oleh pemerintah Jerman dengan menerapkan link and match yang ditiru pemerintah Indonesia menjadi pendidikan sistem ganda.
Yang dioptimalkan di bawah Dikdasmen Kementrian Pendidikan Nasional dengan menambah dirjen baru, yaitu Dirjen Vokasi, dengan program utama kawin paksa dunia pendidikan dengan dunia industri.
Saya pernah ke Jepang tahun 2009 untuk study banding. Jepang menerapkan sistem CBSA, cara belajar siswa aktif. Peraturan pemerintah tegas menyatakan bahwa produk apapun yang dihasilkan: motor, mobil, kulkas, TV, dan lain lain harus menyerahkan cetak biru produknya kepada kementerian pendidikan. Ahli pabrikan harus menjelaskan kepada ahli pendidikan cara kerja dan maintenance hasil produknya. Jika sudah OK, pemerintah memberi ijin produksi. Ahli pendidikan kemudian membuat kurikulum lengkap dengan alat peraga dan alat nyata.
Menariknya saat berkunjung ke sekolah. Semua tulisan dalam huruf Kanji. Ada yang huruf Latin berbahasa Inggris yang bunyinya: “Jangan berbusana tradisional Jepang jika tidak bisa berbahasa Inggris.”
Tahun 2010 saya ke New Zealand. Jumlah sapi 5 juta dengan penduduk mendekati 1 juta. Sapi-sapi dikelola secara kolosal. Ribuan sapi cukup di gembala satu orang saja. Tempat perah susu disemprot air dingin dibarengi musik klasik.
Usai diperah sapi keluar dan menekuk satu kaki untuk memberi hormat dan berterimakasih mendapat rumput segar. Jika melanggar sapi dihukum tidak diberi makan. Sampai kelas 2 SMA, sekolah untuk putra dan putri terpisah. Mereka tinggal di asrama dan hanya menerima 4 pelajaran saja: sain, bahasa, filsafat dan ilmu pengetahuan.
Sementara untuk bekal hidup mereka boleh memilih keahlian yang ingin dicapai. Untuk hobi, mereka hanya boleh memilih salah satu cabang saja. Saya masuk kelas catur. Bukan main, bermainnya sudah setingkat master. Visi dan misi sekolah selalu menjadi juara dunia.
Selandia Baru menerapkan sistem belajar tuntas. Jika sudah menempuh proses pembelajaran, siswa boleh ikut ujian kompetensi bersertifikasi berjenjang mulai tingkat satu sampai 10. Siapa pintar dia cepat. Sistem akselerasi.
Tahun 2011, saya diajak Direktorat PSMK Pendidikan SMK ke Inggris. Yang menarik adalah adanya alat peraga perang yang masih terawat sejak 2 abad sebelum Masehi yang dipertontonkan di Tower of London, di sebelah jembatan legendaris sungai Thames.
Guru terlihat asyik mengajar dengan diorama sejak awal kerajaan berdiri sampai sekarang. Lengkap dengan patung patung pahlawan dan pecundang inggris. Semua lengkap di diorama sebelas lantai. Bangunan-bangunan menghadap ke sungai yang bersih dengan latar belakang jam Big Ben.
Sekolah serba gratis. Sampai ke angkutan berangkat pulang sekolah. Makan siang gratis, menu penuh gizi. Di Inggris orang tua selalu berprinsip anak saya proyek saya. Mereka tidak segan berinvestasi demi kemajuan pendidikan anaknya.
Kembali ke Indonesia. Negara kita begitu luasnya dengan latar belakang budaya yang berbeda. Pemerataan masih menjadi kendala. Alat peraga dan benda nyata belum banyak tersedia. Kurikulum 2013 mengadaptasi pendekatan sciencetific dengan 5 M: mengamati, menanyakan, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mensosialisasikan.
Lantas diubah lagi menjadi Kurikulum Merdeka. Namun tidak sepenuhnya merdeka untuk sampai ke tingkat madya apalagi ahli. Terlalu banyak yang dipelajari terlalu sedikit yang sampai ahli. Belum sampai ke tahap vokasi walau akan terus diupayakan.
Pendidikan kita tertinggal 28 tahun dengan negara maju. Ini kata Jokowi. Semakin runyam dengan dipertontonkan ketidakjujuran dan kecurangan. Semakin jauh dari awal tujuan pendidikan yang digagas Mendikbud pertama RI Ki Hajar Dewantoro: bangunlah jiwanya, bangunlah raganya, demi Indonesia raya.
Pendidikan itu sederhana: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi Paham. Ini yang penting: dari tidak baik menjadi baik. Tidak jujur menjadi jujur. Tidak beriman menjadi beriman. Dan yang belum kesampaian: dari tidak ahli menjadi ahli. Sesuai bidang masing-masing.
Untuk itulah Muhammadiyah dibentuk untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan. []
*) Penulis adalah Ketua Lembaga Seni, Budaya dan Olahraga Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng

