Representasi Surah Al-Alaq dalam Ber-Muhammadiyah

  • Oleh Bayyazid Ray Sanusi

DI awal tulisan ini, saya akan menceritakan secara singat tentang pertemuan saya dengan Muhammadiyah selama 9 bulan terakhir. Benar, hampir genap 1 tahun saya berkecimpung di salah satu ormas Islam besar ini.

Berbagai pengalaman dan pengatahuan baru saya dapatkan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, baru saja kemarin saya mengikuti pengkaderan selama dua hari di Muhammadiyah.

Istilah yang dikenal oleh para kader Muhammadiyah yang baru saja tahu maknanya adalah amal usaha. Salah satu wujud dari amal usaha ini yang sampai sekarang masif dilakukan pada bidang pendidikan.

Awalnya istilah tersebut saya pahami sebagai penamaan dari setiap program kerja yang ada di ormas Islam ini. Melainkan frasa itu bermaksud dalam setiap program atau kegiatan yang dibuat pertama harus diniatkan dulu untuk beribadah sebagai amalan kita untuk mencari ridha Allah SWT.

Muhammadiyah

Muhammadiyah adalah salah satu ormas Islam besar yang ada di Indonesia. Lahir pada tahun 1912 yang didirikan oleh cendikia Muslim bernama KH Ahmad Dahlan di kampung Kauman, Yogyakarta. Kata ‘muhammadiyah’ sendiri diambil dari kata “Muhammad” yang secara bahasa memiliki arti pengikut Nabi Muhammad.

Lebih jauh lagi kata ‘muhamadiyah’ dimaksudkan untuk menghubungkan gerakan organisasi dengan ajaran dan perjuangan Nabi Muhammad. Sehingga dengan nama itu, Muhammadiyah memiliki pengertian sebagai nama untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi ini ialah umat Nabi Muhammad yang berasas pada ajaran yang dibawa nabi yakni Islam, dengan Al-Quran dan hadist sebagai pedoman.

Dari sejarahnya, terbentuknya ormas ini melalui proses yang panjang dan bukan instan. Beberapa upaya yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan, mulai dari belajar di Arab sampai berguru kepada ulama-ulama besar yang ada di di Indonesia. Bahkan untuk menyakini keputusannya membentuk ormas ini beliau melakukan sholat istiharah.

Awalnya ide dibentuknya ormas bernama Muhammadiyah ini merupakan saran dari murid KH Ahmad Dahlan sendiri. Muridnya menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dilakukan olehnya bukan saja hanya diurus seorang diri. Tapi juga bisa diurus oleh organisasi agar kegiatan pendidikan yang dilakukan olehnya bisa berjalan secara berkelanjutan.

Iqra’ adalah Pengetahuan

Kata iqra’ memiliki arti bacalah, yang terdapat disurah Al-Alaq dalam Al-Qur’an. Singkatnya kata ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk membaca tanda-tanda-Nya. Bahwa Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Dan Allah yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Sebagaimana Nabi Adam diajarkan oleh-Nya tentang nama-nama benda.

Menariknya, surah tersebut merupakan ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai tanda kenabian dan isyarat kepada baginda Nabi sebelum melakukan perjuangan menegakkan ajaran Islam.

Seolah-olah, Allah ingin mengatakan untuk menyebarkan agama rahmatan lilalamin ini terlebih dahulu persiapkanlah diri (Muhammad) dengan bekal pengetahuan sebagaimana redaksi perintah membaca tadi.

Seperti yang kita tahu, membaca merupakan upaya manusia dalam mengoptimalkan potensi dirinya untuk meneguk sejuknya ilmu pengetahuan. Sehingga tak salah kiranya istilah buku sebagai jendela dunia, kita sepakati benar maknanya. Bahkan di zaman sekarang perintah iqra’ menjadi gerakan yang galak digencarkan oleh beberapa organisisi yang kita kenal sebagai gerakan literasi.

Sedangkan dalam Islam hal ini telah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad di awal kenabiannya. Supaya kedepannya kita bisa meyikapi setiap persolan dan perbedaan yang ada. Bukan saja bertumpu ego semata. Namun berpatokan pada nilai yang ada di Al-Qur’an dan hadis.

Pertanyaannya, apakah harus berpatokan pada Al-Qur’an dan hadis? Sejauh ini setiap masyarakat memiliki budayanya masing-masing mengenai etika dan moral. Namun, hal itu tidak cukup karena setiap lingkungan tempat kita hidup memiliki tolak ukur yang berbeda tentang baik dan buruknya sesuatu.

Sedangkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bukan hanya mengatur dalam prilaku manusia dalam lingkup kecil tapi lebih dari pada itu. Karena sebaik-baik pedoman yang dijadikan pentunjuk dalam hidup haruslah bersifat universal. Makanya Al-Qur’an sampai sekarang diterima di belahan dunia manapun karena ajaran dan hukum yang dibawa bersifat universal.

Representasi Surah Al-Alaq dalam Muhammadiyah

Sebagai ormas Islam besar yang dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah merupakan salah satu gerakan Islam yang mempunyai prinsip dan tujuan yang jelas. Salah satu tujuan dari Muhammadiyah adalah mendorong pendidikan Islam yang berkualitas.

Bahkan sampai sekarang telah tercatat 3.334 lembaga pendidikan sudah dibangun. Mulai dari universitas sampai ke pendidikan dasar, ada dalam naungan Muhammadiyah. Hal ini menunjukkan bagaimana keseriusan Muhammadiyah dalam menganggap pentingnya ilmu. Bukan saja tentang ilmu keagamaan, namun juga ilmu pengetahuan dan sains.

Selain itu, dalam Muhammadiyah dia juga terdapat konsep tarjih. Konsep ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan kemampuan para kader Muhammadiyah dalam menilai suatu perkara dengan kecamata Islam. Dengan menitik-beratkan pengambilan keputusan berdasarkan dalil yang kuat.

Tarjih diambil dari usul fiqih, yang artinya kegiatan ijtihad dalam Muhammadiyah. Istilah ini kemudian mengalami pergeseran sehingga tarjih bukan hanya diartikan sebagai kegiatan kuat-menguatkan suatu dalil atau pilih-memilih di antara pendapat yang sudah ada, akan tetapi sudah identik dengan ijtihad itu sendiri. Jadi tarjih dalam ber-Muhammadiyah merupakan aktivitas ijtihad untuk merespon persoalan yang ada dengan berpatokan pada Al-Qur’an dan hadis. Baik terhadap persoalan baru dan belum tersentuh oleh fuqoha masa lalu maupun persolan yang telah lalu yang sudah ada hukumnya.

Satu lagi hal yang tak kalah penting. Konsep dakwah yang diyakini Muhammadiyah, bahwa dalam berdakwah, Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada jalan mimbar saja. Lewat instansi pendidikan yang dimiliki menjadi salah satu pilihan. Sebagaimana dari beberapa instansi pendidikan yang ada seperti universitas kerap ditemukan para pelajar non muslim menuntut ilmu di universirtas Muhammadiyah.

Islam sebagai rahmatan lilalamin benar-benar telah hadir dalam wadah ini. Seakan Muhammadiyah ingin menampilkan Islam dengan spirit yang baru. Bukan lagi memandang non muslim sebagai orang yang harus kita bentangkan jarak. Tapi harus kita berikan akses untuk mencicipi bagaimana kedamian Islam.

Sebagaimana yang pernah Dr. Nurkholis Madjid sampaikan dalam salah satu bukunya “Islam sebagai rahmatan lil’alamin bukan sebagai rahmatin lil’muslimin”. Maka dari itu, ber-Muhammadiyah merupakan cara belajar bernalar dalam ber-Islam.

Dengan kata lain, Muhammadiyah ingin mengajak para kadernya untuk mengoptimalkan segala potensi yang diberikan Allah dengan menggunakan akal. Sebab, Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran yang sarat akan nilai bukanlah sebuah prasasti yang tiba-tiba muncul pada abad 7 masehi yang tak boleh disentuh. Melainkan prasasti indah yang akan tetap sejalan dengan zamannya.

Sebagaimana yang sudah dikabarkan oleh Allah melalui ayatnya dalam surah Al-Baqorah 1-2 bahwa “Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia yang bertakwa”. []

*) Penulis adalah Guru SMP Muhammadiyah 2 Singaraja

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *