- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
LIMA Presiden Indonesia sejak Gus Dur, Mega, SBY, Jokowi dan Prabowo Subianto dilantik tanggal 20 Oktober. Kita menyaksikan pelantikan yang paling berat sebelah antara presiden dan wakil presiden. Usia presiden 73 tahun, sementara wakilnya 37 tahun.
Banyak cerita menarik di seputar peristiwa pelantikan kemarin. Susah payah Jokowi membangun citra di akhir masa jabatannya dengan menggunakan APBN memoles citranya, dengan “menyewa” halaman koran, melaporkan kepuasan terhadap publik yang katanya berkisar antara 70 sampai 80%. Namun pidato Prabowo menjelaskan semuanya. Masih banyak kemiskinan, masih banyak korupsi.
Kekuasaan mestinya untuk rakyat. Pemimpin untuk rakyat, jangan rakyat dimanfaatkan untuk kepentingan pemimpin. Ini kata-kata mutiara dari Prabowo Subianto: “ikan busuk dimulai dari kepalanya”.
Koran hari ini melaporkan pasar merespon positif pelantikan Prabowo. Walau juga banyak yang menilai Prabowo pidato kelewat banyak. Janji tentang swasembada pangan. Swasembada energi. Memberantas korupsi. Pemulihan ekonomi, penegakan hukum.
Lima hal ini saja sudah sangat berat untuk diwujudkan. Biasanya di periode pertama, pidato presiden yang baru dilantik menggebu-gebu. Perode kedua mulai realistis untuk kemudian mulai kurang bersemangat di akhir periode kedua
Spesial presiden ketujuh lantas bersikap aneh-aneh yang melawan akal sehat. Itu kenapa Filipina hanya membatasi satu periode dengan durasi 6 tahun. Adegan anak Marcos dengan menantu Soeharto menarik perhatian.
Sebagus apapun citra Jokowi dipoles. Tidak bisa menolak kode alam menyorot Kaesang, Kahiyang dan Boby Nasution, teriakan hu…hu…hu… menggema. Jelas mengejek.
Namun saat kamera menyorot Titiek Soeharto tepuk tangan meriah untuk janda presiden ini. Kisah cinta yang berimpitan dengan politik tercebur dalam hubungan rumit yang tidak gampang diurai.
Prabowo mantu kebanggaan Soeharto. Prabowo digadang-gadang menjadi tembok istana yang kokoh. Disebut rising star karena saat usianya baru 46 sudah berpangkat bintang tiga, letnan jenderal. Bisa saja tampuk kekuasaan diteruskan sang menantu.
Namun peristiwa 1998 mengguncang semuanya. Prabowo yang diharapkan menjadi bemper Soeharto malah sering kumpul-kumpul dengan aktivis. Soeharto marah dan mengusir sang menantu.
Sementara pihak pimpinan angkatan darat memecat Prabowo karena melanggar prosedur dengan menggerakkan pasukan tanpa sepengetahuan atasan. Panglima saat itu Wiranto. Wiranto yang menerima “supersemar” untuk memulihkan stabilitas dinilai lamban. Prabowo berinisiatif tapi tergencet di dua sisi. Oleh mertua dicap pengkhianat, oleh panglima dianggap melanggar prosedur.
Himpitan cobaan membuat Prabowo lari ke Yordania. Megawati memanggilnya. Untuk berjuang menempuh jalan demokrasi. Dengan kekayaan melimpah, Prabowo mudah mendirikan Gerindra. Merangkul banyak kalangan. Bandingkan dengan partai Hanura besutan Wiranto yang gampang diambil alih Sapta Odang.
Prabowo lantas ikut andil sebagai calon presiden Pemilu 2004. Sebagai cawapres Mega tahun 2009. Dan dua kali menantang Jokowi 2014 dan 2019.
Prabowo mau saja diajak selingkuh Jokowi. Kongsi dengan memasangkan anak Jokowi yang belum cukup umur. Yang penting menang. Karena Prabowo punya kapasitas, integritas dan isi tas. Pengalaman empat kali kalah ikut kontestasi Pilpres menjadi pertimbangan.
Wapres karbitan yang dipasangkan dengannya sekarang menjadi beban. Apalagi isi Fufufafa yang menyebut Prabowo sebagai orang yang rela jadi mualaf demi menikahi Titiek. Malah dicerai. Anak homo…… sangat membuat keluarga besar Prabowo marah.
Sedalam apa luka hati Prabowo dan Titiek sehingga hampir seperempat abad memilih hidup sendiri. Memang dengan bergelimang harta semua bisa diurus. Prabowo dan Titiek punya asisten rumah tangga yang mempekerjakan banyak karyawan mengurus rumah.
Titiek mengurus gurita bisnisnya bersama Hasyim adik Prabowo. Tidak heran semua fasilitas kebutuhan pribadi ada. Alat olahraga, salon, kolam renang. Itu yang membuat Titiek selalu tampil anggun bersanggul. Mengingatkan orang kepada ibu Tien Soeharto. Titiek tampil seperti Kanjeng Gusti Prameswari, cocok menjadi ibu negara.
Apalagi ada Didiet anak semata wayang yang nampak selalu “menyeret” ibu bapaknya untuk selalu tampil bersama. Hanya Prabowo Titiek yang tahu. Apakah luka lama peristiwa 1998 dapat disembuhkan. 26 tahun berpisah namun selama hampir 20 tahun mereka selalu berdekatan.
Ada di negara yang sama, di kota yang sama, bahkan di saat spesial, dilantik menjadi menjadi presiden, berada di ruang yang sama, dengan cuitan dan tepuk tangan tanda banyak yang menginginkan mereka bersatu kembali.
Dipisahkan oleh politik, dipertemukan kembali lewat politik. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

