- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd
SAYA ikut grup – lebih tepatnya diikutkan. Namanya Konstitusi dan Masalah Bangsa. Anggotanya para peduli kondisi bangsa.
Tentu tak asal bicara. Mereka punya landasan ilmu lengkap dengan perspektif sudut pandang mumpuni. Rata-rata peserta aktif dialog interaktif Majalah Tempo.
Ketika Tunjung kalah di semifinal bulutangkis Olimpiade, kita terhenyak. Negara dengan jumlah penduduk hampir 300 juta tidak satupun medali (emas) diraih.
Bangsa macam apa kita ini. Rasa frustasi, gundah langsung mengeruyak: pemalas, dungu, tidak serius, tidak disiplin, dan masih banyak lagi.
Membedah politik olahraga Indonesia memerlukan tekad dan idealisme kebangsaan yang kuat. Ditopang manusia, money dan manajerial. Idealisme kebangsaan bela negara diwujudkan dengan peduli.
Kepengurusan olahraga diserahkan kepada KONI. Dengan jumlah anggaran yang tidak sepenuhnya mencukupi. Lantas minta perusahaan besar membina olahraga.
Kata membina ditafsirkan sendiri-sendiri. Ada yang membina dengan membentuk klub dan menggembleng atlet. Ada yang sekadar melaksanakan lomba.
Bulutangkis tidak lepas dari peran rokok Djarum Kudus. Pemusatan latihan dan pengiriman atlet PB Djarum Kudus berkontribusi. Sementara cabor yang lain belum mendapatkan induk semang seperti Djarum Kudus.
Situasi lantas seperti Perang Kemerdekaan. Kalah senjata, kalah segalanya. Tapi beruntung punya tekad baja untuk menang. Untuk merdeka. Muncullah para pejuang tanpa pamrih menyerahkan jiwa raga untuk negara.
Semoga Presiden baru, yang barusan ke Paris, memperhatikan olahraga di negara kita.
Menjadi atlet, pengurus, pecinta olahraga belum sejahtera. Masih menunggu datangnya penyelamat. Cuma itu yang bisa kita harapkan.
Direktur PSMK Jorlin Pakpahan mengatakan: Jika kita menghadapi lingkaran setan. Buat lingkaran malaikat kecil untuk kemudian kita besarkan.
Untuk para atlet dimanapun berada, tidak bosan-bosan saya mengingatkan untuk rajin belajar, rajin bekerja, jangan bermalas-malasan. Pegang posisi penting, dan kolektif kolegial memajukan olahraga yang kita cintai ini. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

