Antara Singaraja Banyuwangi

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

PULANG ke Banyuwangi, terbayang kuliner kesukaan yang tidak saya temukan di tempat saya tinggal: Singaraja.

Banyuwangi, kabupaten terluas di Jawa Timur. Luas Banyuwangi 5.782,5 km². Lebih luas dari pulau Bali, yang luasnya hanya 5636,66 km². 

Buleleng, kabupaten paling luas di Bali 1.365,88 km² membentang menyusuri laut utara Bali. Jumlah penduduk Banyuwangi menurut sensus terakhir tahun 2023 adalah 1,78 juta. Sedang jumlah penduduk di Buleleng 826.740 jiwa.

Dua kabupaten ini mempunyai panjang pantai nyaris sama 170 km. Bedanya, jika Pantai Banyuwangi tidak atau belum terhubung satu sama lain dengan jalan raya. Di Buleleng jalur pantai utara terhubung dengan jalan raya mulai kecamatan Tejakula, Kubutambahan, Sawan, Buleleng, Banjar, Seririt dan Gerokgak. Batas gerbang Kabupaten Buleleng hanya berjarak 6 km dari Pelabuhan Gilimanuk. 2 km dari simpang tiga Cekik. 

Ada guyonan orang Buleleng: “Kalau pergi ke Jawa, jangan berhenti di Cekik”.  Kecamatan Gerokgak berhadapan dengan Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi. Sedang pantai Banyuwangi melintasi Kecamatan Wongsorejo, Kalupuro, Banyuwangi, Kabat, Blimbingsari, Muncar, Tegaldlimo, Pesanggaran dan Siliragung. Banyuwangi punya 25 kecamatan, sedang Buleleng 9 kecamatan.

Dari data geografi dan demografi kita bisa melihat perbedaan antara kultur, budaya dan agama membuat keduanya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Menyusuri pantai dari Singaraja ke Gilimanuk kita disuguhi banyak pantai wisata. 

Pantai pelabuhan lama Buleleng terkenal dengan rumah makan terapung yang banyak dikunjungi turis lokal dan mancanegara. Menu ikan bakar menjadi favorit. Saat Indonesia baru berdiri, provinsi di Bali bernama Sunda Kecil, meliputi pulau Bali dan Lombok dengan ibukota Singaraja. Baru tahun 1958 Provinsi Bali berdiri dengan ibukota Denpasar. 

Jika pantura Jawa menjadi kawasan yang ramai dilintasi jutaan kendaraan tiap tahunnya. Di Bali justru jalur selatan yang ramai. Bali utara masih sepi. Kebanyakan akses ekonomi berada di Bali selatan. Kendala terbesar terletak pada keadaan jalan yang ekstrem dari Bedugul Singaraja. Melingkar jauh jika melewati jalur jalan landai tepi pantai, melewati kabupaten Gianyar, Klungkung dan Karangasem.

Dengan dibangun shortcut maka kelokan tajam dikurangi dengan membangun jembatan, jembatan layang, mengepras bukit sehingga proyek shortcut sampai mencapai 12 titik.

Memang untuk sampai ke Bedugul, begitu keluar dari batas kota Singaraja, musti melewati jalan berliku dan mendaki sepanjang 28 km. Jarang truk melewati jalur ini. Kecuali truk yang benar-benar dalam kondisi prima. 

Pantai Lovina terkenal dengan banyak ikan lomba-lomba yang melintas secara berkala. Pantai di Kecamatan Banjar ini banyak dihuni turis asing. Tidak heran banyak pertokoan, rumah makan dan kafe bernuansa luar negeri.  

Pelabuhan kargo di Celukan Bawang menjadi alternatif pendistribusian barang dan jasa dalam skala besar ke Bali utara. Sering kapal pesiar sandar di pelabuhan ini. Menurunkan ribuan wisatawan berkunjung ke tempat wisata yang ada di Buleleng, tempat favorit pemandian air panas Banjar, mirip mandi sauna di Ciater Bandung. 

Di Kecamatan Gerokgak, tempat bule menetap ada di Desa Pemuteran. Pantai yang landai dan ombak yang tenang menunjang pariwisata pantai. Lantas yang tidak kalah indah batu cadas Pulaki yang menjulang di pinggiran jalan melengkapi indahnya pantai dengan banyak warung yang berdiri berjajar. Tidak banyak pilihan menu, hanya bakso dan soto. 

Jangan lengah makan di sini. Kera-kera siap mengambil barang bawaan anda, terutama makanan dan minuman. Ada satu rumah makan representatif yang menawarkan menu ikan bakar. Sama dengan rumah makan yang berada di kecamatan pantai pada umumnya. 

Sampai di Gilimanuk, menu favorit ayam betutu. Gilimanuk identik dengan ayam betutu. Sementara Banyuwangi sudah nampak di depan mata. Masuk kapal sejam kemudian sampai di Pelabuhan Ketapang, 7 km dari kota Banyuwangi. Terbayang kuliner khas Banyuwangi : sego tempong, rujak soto, rujak gobet, rujak cemplung, rujak kecut, rujak pasrah, rujak Madura, sego cawuk, rawon bik ati, sate bang Hamid, pelasan tawon, welut, wader, ayam kesrut, tahu petis, ketan sirip, aneka botok, pecel ayu, ayam pedas, warung pangklang, warung biru dan banyak lagi. 

Dilihat dari Bali, Banyuwangi pintu gerbang kuliner Jawa. Selamat makan-makan. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *