- Oleh Muhammad Fardiansyah
PADA tulisan bagian 1 telah dijelaskan faktor-faktor internal dalam umat Islam yang mempengaruhi berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah. Dalam bagian 2 ini akan dijelaskan, faktor-faktor eksternal berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah. Faktor-faktor eksternal tersebut antara lain:
1. Penjajahan Kolonial Belanda
Penjajah Barat (Kristen) masuk ke negeri-negeri Timur (Islam), termasuk ke Indonesia karena doktrin dan semangat 3G, yaitu Gold, Glory dan Gospel. Gold berarti emas atau kekayaan alam. Glory berarti kekuasaan pemerintahan, dan Gospel yang dimaksud adalah Injil (kristenisasi).
Banyak disebutkan dalam buku-buku sejarah, baik sejarah umum maupun sejarah Indonesia, bagaimana Belanda melalui perusahaan dagangnya (VOC) masuk ke Indonesia untuk menjajah. Bagaimana penjajah mengeruk kekayaan alam di bumi Indonesia dengan segala cara, mengadu domba para pemimpin negara dan ulama, sehingga terjadi kesenjangan sosial dan perpecahan umat.
Namun ada satu bagian dari 3G yang jarang direkam sejarah, yaitu Gospel (Injil/kristenisasi). Sampai saat ini belum banyak buku yang membahas tentang bagaimana agama Kristen bisa masuk ke Indonesia. Adalah fakta bahwa ajaran Kristen masuk ke negeri-negeri Timur (Islam) melalui penjajahan.
Para misionaris Kristen banyak yang berlindung dibalik jubah kekuasaan penjajah. Selain itu, para misionaris Kristen dari luar negeri juga banyak yang dikirim atau ditugaskan ke Indonesia, salah satunya di Jawa.
2. Gerakan Pembaruan Islam Dunia
Persyarikatan Muhammadiyah didirikan di tenqah-tengah arus kemunduran dunia Islam. Negeri negeri Timur (Islam) yang dijajah semakin terpuruk dan terjebak dalam stagnasi pemikiran dan menutup pintu ijtihad, sehingga peradaban Islam yang dahulu maju kemudian menjadi terpuruk dan terbelakang.
Atas dasar itulah, maka muncul para tokoh pemikir cendekiawan muslim dunia seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha. Mereka menyuarakan gagasan tentang persatuan Islam (Pan Islamisme) maupun pembaruan (tajdid) di segala bidang untuk melawan penjajahan Barat.
Tokoh-tokoh Islam dunia tersebut bangkit menyuarakan pembaruan pemikiran Islam sekaligus menyatakan bahwa pintu ijtihad akan selalu terbuka untuk menjawab tantangan zaman. Mereka menyuarakan ide-ide Islam yang berkemajuan melalui buku dan majalah hingga sampai ke tangan para ulama pembaru di Indonesia, salah satunya adalah K.H. Ahmad Dahlan.
Berdasarkan faktor-faktor di atas, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dengan wadah Persyarikatan Muhammadiyah, maka dakwah pemurnian akidah dan pembaruan gerakan (tajdid) dilakukan secara berkesinambungan.
Gerakan pembaruan Muhammadiyah berjalan secara pelan tapi pasti sebagai jawaban terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam. Karena itu, pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah pada periode awal difokuskan untuk menggarap empat bidang, yaitu keagamaan, pendidikan, penerbitan, dan sosial kemasyarakatan. []
*) Penulis adalah Guru SMP Muhammadiyah 2 Singaraja/Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Buleleng

