Sejarah Berdirinya TK ‘Aisyiyah Singaraja

  • Oleh Sriyani Sadikin ———– Bagian 2

PADA tahun 2024 ini, Taman Kanak-Kanak (TK) ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja berusia 70 tahun. Didirikan pada tahun 1 April 1954, TK ‘Aisyiyah Singaraja merupakan TK tertua ketiga di Indonesia setelah TK di Yogyakarta dan di Aceh.

Bagaimana sejarah berdirinya TK ‘Aisyiyah Singaraja, berikut tulisan dari mantan Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Buleleng dua periode (2000-2005 dan 2005-2010), Hj. Sriyani Sadikin, A,mA.Pd. SuaraMu Buleleng.com menurunkan tulisan Sejarah Berdirinya TK ‘Aisyiyah Singaraja Bali.  

Bagian Kedua : Masa Pasca Kemerdekaan

Setelah melewati masa kurang lebih dari satu dasawarsa, Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah boleh dikatakan vakum aktivitas. Hal ini dapat dimaklumi karena situasi dan kondisi tidak memberikan ruang untuk berkiprah secara maksimal sehingga aktivitas persyarikatan nyaris terhenti. 

Pada Masa Revolusi ini beberapa aktivis persyarikatan terlibat langsung di medan perjuangan sehingga waktu, tenaga, dan pikiran sepenuhnya terkonsentrasi untuk melawan penjajahan sehingga tidak lagi cukup waktu untuk mengurus roda organisasi. 

Keterlibatan para anggota di medan juang adalah salah satu bentuk implementasi dari semangat “amar ma’ruf nahi munkar” yang selalu menjadi bekal dalam perjuangan membela tanah air.

Akan tetapi selepas Masa Kemerdekaan, sekitar tahun 50-an, secara perlahan dan pasti di kalangan anggota persyarikatan telah mulai bangkit lagi dengan jargon “fastabikul khairat”-nya. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai aktivitas organisasi sebagai pertanda hadirnya kembali semangat berorganisasi. 

Pada masa setelah kemerdekaan, kegiatan dakwah dalam arti yang luas lebih banyak digiatkan lagi dengan menyentuh berbagai lapisan masyarakat, misalnya menyelenggarakan pengajian, sholat ied di lapangan, peringatan-peringatan hari besar Islam, kegiatan kepanduan Hizbul Wathan dan lain-lain. 

Di sisi lain, muncul kembali ide untuk membangun amal usaha bidang pendidikan yang ketika masa kolonial pernah eksis di tengah-tengah masyarakat. Dalam rangka mewujudkan kembali cita-cita untuk mendirikan sekolah Taman Kanak-Kanak tersebut, maka Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bersinergi untuk menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan. 

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kemudian membentuk tim untuk merealisasikan rencana tersebut. Sangatlah beruntung pada masa ini ada beberapa aktivis Muhammadiyah yang memiliki posisi penting di jajaran birokrasi pemerintahan, khususnya di Kementerian Agama baik tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi. 

Seperti diketahui kota Singaraja pada masa pertengahan tahun limapuluhan adalah sebagai ibu kota Provinsi Sunda Kecil yang wilayahnya meliputi pulau Bali, Lombok, Sumbawa dan pulau lainnya. Anggota tim juga aktivis Muhammadiyah ini adalah pegawai kementerian yang memiliki posisi strategi di jajaran birokrasi. 

Tim ini berusaha melakukan pendekatan dengan berbagai pihak untuk menjamin pentingnya umat Islam memiliki sebuah lembaga pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperuntukkan semua golongan. 

Di antara orang yang sangat berperan dalam proses ini adalah Imam Muhajir, pegawai Kementerian Agama Kabupaten Buleleng. Beliau adalah salah satu anggota tim yang ditunjuk untuk melakukan lobi-lobi dengan berbagai pihak di kementerian. Adalah tidak mudah bagi tim ini untuk meyakinkan pemerintah dapat membantu umat Islam memiliki lembaga pendidikan sendiri. 

Setelah melalui proses yang cukup Panjang, upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan dihibahkannya sebidang tanah dengan luas 114 M2 yang terletak di Jalan Merak Singaraja. Sebagai catatan tanah tersebut kini telah memiliki sertifikat wakaf pada 29 Januari 2001.

Selanjutnya di atas tanah yang diserahkan pemerintah tersebut pada tahun 1954 dibangun gedung sekolah Taman Kanak-Kanak yang terdiri dari dua lokal untuk ruang belajar, satu aula, dan dilengkapi dengan ruang untuk guru dan kepala sekolah. Fasilitas lain adalah tiga kamar mandi untuk siswa-siswi. 

Sedangkan di halaman sekolah tersedia berbagai fasilitas permainan sederhana bagi anak-anak seperti ayunan dan jungkitan. Ada hal yang menarik tentang pemberian nama sekolah ini ketika pertama kali didirikan. 

Pada awalnya sekolah ini dinamakan sekolah Taman Kanak-Kanak ASRI Singaraja. Tidak digunakannya atau belum digunakan nama TK ‘Aisyiyah tersebut menjadi sebuah pertanyaan besar bagi sebagian kalangan. 

Dan untuk diketahui, sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka yang terlibat dalam proses pendirian sekolah ini dikenal cukup luas sebagai aktivis Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Singaraja. Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan mengapa nama sekolah yang didirikan ini secara formal tidak menggunakan nama identitas organisasi.

Pertama, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memandang misi terpenting adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tidak memandang perbedaan ras, suku bangsa dan agama. Karenanya, pendirian sekolah tersebut ditujukan untuk seluruh kelompok atau golongan yang ada dalam masyarakat dan bukan khusus untuk kalangan muslim saja. Oleh karena itu, nama sekolah tersebut pada awalnya tidak menggunakan nama organisasi sebagaimana lazimnya yang biasa berlaku dalam organisasi. 

Kedua, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pada masa-masa awal kehadirannya di tengah-tengah komunitas Muslim telah menimbulkan reaksi yang beragam. Ada juga semacam resistensi dari kalangan kelompok tertentu, yakni kelompok Muslim tradisional yang pemikirannya masih tergolong konservatif. Dan pada masa itu, kelompok tersebut belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran amal usaha yang dikelola oleh organisasi kaum pembaharu ini. 

Atas dasar kedua alasan tersebut di atas dan dengan beberapa pertimbangan, maka nama sekolah Taman Kanak-Kanak yang didirikan pada tanggal 1 April 1954 itu menggunakan –untuk sementara– nama Taman Kanak-Kanak ASRI Singaraja (TK ASRI). 

Rupanya penggunaan nama tersebut adalah strategi yang dilakukan agar sekolah ini dapat diterima secara luas di tengah-tengah masyarakat yang heterogen sekaligus menghilangkan kesan eksklusivitas organisasi. Dengan nama tersebut juga diharapkan tidak akan dapat menimbulkan hambatan psikologis bagi keluarga non-Muslim untuk menyekolahkan putra- putrinya di sekolah yang baru didirikan dan terbuka untuk semua golongan masyarakat.

Pada masa awal beroperasinya sekolah Taman Kanak-Kanak ini, untuk jabatan kepala sekolah pertama diberikan kepercayaan kepada Ibu Soeparmi, yang juga dikenal sebagai aktivis di ‘Aisyiyah.  Ia dipandang memiliki kecakapan serta kemampuan untuk mewujudkan harapan akan masa depan sekolah ini. 

Dengan dibantu oleh beberapa orang guru, para pendidik ini telah meletakkan landasan pondasi kependidikan yang berdasarkan nilai-nilai Islami sebagaimana yang telah digariskan oleh organisasi persyarikatan. 

Kehadiran sekolah Taman Kanak-Kanak ini di tengah-tengah masyarakat ternyata mendapat respon yang sangat positif. Hal ini dapat dilihat dari siswa-siswinya yang terdaftar terdiri dari berbagai lapisan masyakat yang sangat heterogen dan tidak hanya terbatas dari kelompok Muslim saja, bahkan dari non-Muslim pun ada. 

Pada masa awal pertumbuhannya, sekolah ini cukup dikenal luas bukan saja di kalangan komunitas Muslim, tetapi kalangan non-Muslim ada juga yang menaruh kepercayaan menyekolahkan anaknya di tempat ini.  Selain itu, dikenalnya sekolah ini karena sering dilibatkan dalam acara-acara yang bersifat seremonial, misalnya acara peringatan hari besar Islam, milad dan lain-lain yang diselenggarakan baik oleh ‘Aisyiyah maupun Muhammadiyah. (Bersambung)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *