Media Sosial

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd

SELAMAT pagi. Sudah sarapan TikTok? Saya sudah. Buka HP selepas subuh. Baca berita dari majalah dan koran, kadang dengan bahasa yang tidak ringan. Ulasan yang tidak sederhana. Namun tetap menarik untuk dibaca. 

Lantas kemudian bermedia sosial yang sekarang terkoneksi satu sama lain. Antara FB, IG dan Tiktok yang bisa dikonversikan menjadi bahan chat. Banyak aplikasi namun semakin lama semakin membuat para penggunanya semakin terasing. Tidak ada lagi bersosialisasi.

Seperti yang dimaksud dengan istilah media sosial. Sosialnya di mana? Jangan salah. Banyak manfaat dari media sosial. Informasi jadi melimpah. Namun siapa orangnya?

Gejala mulai nampak saat kita naik kereta api. Di kelas eksekutif terasa nafsi-nafsi. Kita tidak harus bertegur sapa dengan orang di sebelah kita. Walau lengan dia hampir menempel lengan kita. Beda di kelas ekonomi, pertama duduk sudah disapa : Bade tindak pundi ? Obrolan semakin renyah jika yang ngajak ngobrol relatif kinclong. Bicara tentang desa tempat domisili. Tempat kerja dan apa saja. Hal yang dianggap privasi di kelas eksekutif.

Halal Bi halal semakin jarang. Kita merasa akrab walupun jarang bahkan belum pernah bertemu. Dulu jabatan kasir atau bendahara cukup strategis. Orang bisa lancar kas bon kalau kita baik dengan bendahara. Sekarang semua serba ditransfer tanpa tahu siapa orangnya. Hutang bisa lewat kartu kredit atau pinjaman online yang kalau tidak membayar tepat waktu akan diblokir dan dipermalukan.

Humas juga tidak diperlukan lagi. Kita.musti aktif mencari tahu sendiri. Keren dengan istilah googeling. Jika kita tidak aktif, kita akan kembali ke jaman purba : tidak ada kabar, berarti baik-baik saja. Padahal pergerakan dunia sangat cepat.

Dalam menyikapi perkembangan jaman ini memang diperlukan persiapan mental baru. Agar kita tidak jauh tertinggal, sebab informasi adalah kebutuhan kesepuluh setelah sembako (sembilan bahan pokok) apa saja hayo…. paling banyak yang lupa.

Di sebagian orang, selalu membutuhkan informasi yang selalu terbarukan. Selalu update setiap saat. Ada juga sebagian pasif karena tidak terlalu membutuhkan. Ada juga yang menutup diri dari hiruk pikuk media sosial. Masing-masing memang memiliki pribadi dengan keunikan sendiri.

Di atas segala, kita punya agama, etika dan moral yang harus tetap dijaga, walau berkemajuan tidak bisa dibendung, walau langit akan runtuh.

Pastikan saban hari anda menjalankan ibadah. Berbuat baik dan menjaga marwah kehidupan walau lewat media sosial. Yang kadang tidak sosial. []

*) Penulis adalah Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga PDM Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *