- Oleh dr. Rizani, M.Ked.
PERNAHKAN Anda mendengar berita orang meninggal karena masuk angin, atau tepatnya angin duduk? Saya pernah mendengar langsung. Seorang ahli ibadah, ba’da sholat Shubuh di masjid dekat rumah tiba-tiba meninggal.
Kabarnya, almarhum tiba-tiba merasa tak enak badan. Dikerok malah berkeringat dingin. Berhubung kondisinya makin parah, beberapa jamaah, tetangganya mengantar ke RSU. Apa daya, ia tak kuat dan meninggal di perjalanan. (#Kejadian yang sama menimpa Bapak Penasihat PDM Buleleng, almarhum Prof. Suparman HS, Jl. Dewi Sartika No. 17 Singaraja).
Orang yang menyaksikan peristiwa itu langsung menyimpulkan, penyebab kematian karena angin duduk. Karenanya, saya teringat petuah nenek saat kecil, jangan biarkan perut kosong kalau pergi jauh. Bahaya kalau kena angin duduk.
Apakah benar angin duduk menyebabkan kematian? Angin duduk dan masuk angin tidak pernah dikenal dalam dunia medis. Bila mendengar seseorang menderita angin duduk lalu berakhir dengan kematian, perhatikan riwayat kesehatannya.
Kebanyakan penderita kematian, seperti ahli ibadah itu, ternyata menderita serangan jantung akibat pembuluh darah koroner tersumbat secara akut. Sumbatan ini terjadi akibat robeknya plak atherosclerosis pada dinding pembuluh darah koroner sehingga terjadi bekuan darah (thrombus) yang mengakibatkan pembuluh darah koroner tersumbat sehingga suplai oksigen dan darah ke otot jantung berkurang drastis.
Sumbatan arteri koroner pada serangan jantung biasanya total atau hampir total. Otot jantung yang kekurangan oksigen akibat sumbatan pada arteri koroner dirasakan oleh pasien sebagai nyeri dada hebat, kadang menjalar sampai ke tangan kiri, disertai sesak nafas, keluar keringat dingin dan mual-muntah. Nyeri ini disebut sebagai Angina Pectoris.
Namun, keluhan Angina Pectoris tidak selalu dirasakan di dada, tapi bisa juga dirasakan di bahu, di punggung, di leher seperti rasa tercekik, di rahang, di ulu hati sehingga sering disalahartikan sebagai sakit maag atau perasaan tidak enak di dada yang sering disalahartikan sebagai masuk angin biasa atau angin duduk.
Bahkan penting untuk diketahui, bahwa sekitar 30% pasien penderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) tidak punya gejala nyeri dada yang khas. Pasien tidak mempunyai keluhan sama sekali dan kelihatan sehat-sehat saja sebelumnya sampai suatu saat tiba-tiba mengalami nyeri dada hebat sampai menimbulkan kematian mendadak.
Namun bukan berarti setiap angin duduk adalah serangan jantung. Bila seorang pasien baru berumur belasan tahun atau dua puluh tahunan datang dengan keluhan masuk angin atau angin duduk, pastilah dokter tidak akan mencurigainya sebagai suatu serangan jantung.
Untuk mencegah terjadinya serangan jantung, pertama-tama periksakan diri Anda ke dokter jantung secara berkala. Dokter akan mengadakan beberapa pemeriksaan, di antaranya rekaman EKG, Treadmill dan Eko-kardiografi.
Kedua, kontrol faktor resiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK). Yang dimaksud dengan faktor resiko adalah faktor-faktor dimana semakin banyak pasien mempunyai faktor ini, semakin besar resiko si pasien terkena Penyakit Jantung Koroner (PJK), yaitu hipertensi, diabetes, kolesterol LDL tinggi, kolesterol HDL rendah, merokok, obesitas, keturunan dan usia. []
*) Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng

